Emergency Bed Tuan Muda Kato

Emergency Bed Tuan Muda Kato
bab 12


__ADS_3

Cahaya menguning indah itu, kini menyapa wajah tegas seorang pria yang masih terlelap dengan damainya.


Pria dengan kondisi polos tanpa sehelai kain itu pun, tidak mengindahkan sapaan cahaya menguning indah itu.


Wajah tegas dengan di tumbuhi cambang halus itu, masih terlihat damai. Wajah tampan rupawan nya terlihat puas dan berseri-seri.


Namun terlihat luka cakaran di dada dan gigitan di pundaknya yang polos.


Cahaya menguning itu, masih berjuang untuk membuat pria terlelap itu bangun.


Sang cahaya Surya matahari ingin mengatakan kepada si pria, kalau sekarang waktunya untuk bangkit dan menyambut hari pagi yang begitu cerah.


Entah hari apa yang akan di sambut pria ini, apakah hari menyenangkan? Atau … hari kesialan?


Wajah tegas yang tadinya terlihat terlelap damai, kini mulai terusik oleh terpaan cahaya menguning itu.


Tampak terlihat, wajah rupawan nya mengkerut dan rambut lentik di sekitar kelopak mata atasnya terlihat bergerak-gerak.


Tak berselang lama suara lenguhan berat terdengar, bersama kelopak mata sipit ala keturunan Jepang itu mengerjap.


"OH Tuhan!" Sentaknya saat menyadari keadaan tubuhnya yang polos.


Lion terduduk dengan wajah bingung, melihat keadaan tubuhnya juga, ia merasa aneh karena berada di kamar istirahat miliknya.


"Apa, yang terjadi, semalam?" Tanyanya pada dirinya sendiri dengan wajah linglung.


Kembali Lion memeriksa seluruh tubuhnya. Ia bisa melihat bekas luka cakaran dan juga gigitan di pundaknya.


Lion mencoba merotasi keadaan kamar, lagi, ia dibuat bingung oleh kondisi kamar yang begitu berantakan.


Kini mata sipitnya semakin menyipit, kepada satu objek. Yaitu, lembar kain yang merupakan pakaian seorang wanita sudah terkoyak tak berbentuk di atas lain kamar.


Lion mencoba mengingat semua yang terjadi tadi malam, namun usahanya tidak membuahkan hasil saat tidak mengingat apapun, selain dirinya dalam keadaan tidak baik-baik saja sewaktu menuju bar.


Lion memijit pelipisnya yang terasa pusing sambil menyandarkan kepala ke belakang.


Lion merasa ada sesuatu menyenangkan yang tertinggal pada tubuhnya, itu karena ia merasa plong juga lengket.

__ADS_1


Pria bertubuh kekar itu menegakkan punggungnya, lalu menatap sekali lagi ke arah pusat tubuhnya yang terasa aneh.


Lion menyibakkan selimut di bagian sebelah sisinya, dan pandangannya kini menyipit kepada sesuatu yang ia tangkap di atas kain sprei putih.


Dahi mengkerut, tatapan menyipit dan hidung mancungnya kembang kempis, memperhatikan objek keanehan di sebelah sisinya.


"Bekas darah?" Gumam Lion sembari menyentuh bekas noda tersebut.


"Deg" tiba-tiba jantung Lion berdetak kencang dan kelapok mata melebar.


Segera ia membalikkan pandangannya kepada lembar pakaian yang sudah koyak itu dengan seksama.


"Sh*it." Umpat Lion sambil mengusap wajahnya kasar.


"Tidak! Ini, tidak mungkin terjadi," monolognya yang terus menatap objek frustasinya saling bergantian.


Lion tentu sangat mengenali pakaian yang tak berbentuk itu lagi, dan ia juga sangat mengenali bekas noda merah di atas ranjang.


"Argh." Erang Lion frustasi.


"Ini tidak mungkin. tidak … mungkin," cicit Lion dengan gelengan kepala, menolak pikirannya yang terjadi semalam.


"TIDAK! Ini tidak mungkin terjadi," pekik Lion emosi.


Pria itu kini bangkit dengan tubuh polosnya, ia meraih kasar celananya dan mengenakan secara buru-buru.


Segera saja Lion keluar dari kamar istirahatnya untuk, menuju meja kebesarannya di tengah ruangan ceo.


Tanpa mengenakan pakaiannya, Lion duduk dengan pikiran yang kacau.


Pria berkulit putih dan bertubuh atletis itu tampak serius mengotak-atik laptop kesayangannya.


Tidak berselang lama, kelopak matanya terlihat menyipit dan kemudian membesar bersama wajahnya terlihat pias.


______


"Argh"

__ADS_1


"Prang"


"Sial, sial, sial."


"Akh! Ini tidak mungkin. Sial." Tidak hentinya Lion mengerang emosi dengan wajah frustasi. Umpatan pun tak terelakkan yang keluar terus menerus di mulutnya.


Lion bahkan menghempaskan kasar laptop kesayangannya dan meninju meja kerjanya.


Terdengar nafas berat pria itu, yang terlihat kacau.


Telapak tangan kirinya tampak memar dan rambut panjangnya yang menutupi daun telinga terlihat acak-acakan.


"Sial!" Sekali lagi, Lion mengumpat stres.


Ia tidak menyangka bisa berbuat sebejat itu kepada seorang wanita lemah bertubuh mungil. Yang selalu menjadi bahan hinaan juga caciannya.


Lion juga mengumpat dirinya, saat melihat ke brigasannya tadi malam memaksa Lolly.


Belum lagi ia menyaksikan sendiri mimik wajahnya yang sangat menikmati perbaikannya itu.


Yang membuat Lion kembali terpekik frustasi sambil memukuli udara di dalam ruangan.


Dengan wajah merah, rahang mengeras, Lion berjalan kembali ke dalam kamar istirahatnya.


Memasuki kamar mandi, guna mendinginkan pikirannya yang kacau.


Dirinya pun tidak menduga perbuatan bejatnya tadi malam dan wajah menjijikkannya.


Lion merasa bukan sosok dirinya lah yang berbuat tak senonoh tadi malam, ia merasa memiliki kepribadian ganda.


"Aku harus menemuinya," gumamnya lagi di bawah guyuran air shower.


Membasahi seluruh permukaan kulit tubuh kekarnya yang terlihat menggoda dari arah manapun.



__ADS_1



__ADS_2