
Suara lenguhan tertahan, terdengar di dalam kamar mandi. Suara berat yang berusaha ia tahan agar tidak mengusik seorang wanita yang terbaring di atas ranjang pasien.
"Astaga, ini sungguh menjijikkan dan memalukan," erangnya sambil melancarkan aksinya.
Ia kini berkonsentrasi untuk mengeluarkan sesuatu yang membuat kepalanya terasa berdenyut denyut. Apalagi bagian kepala yang lain, yang lebih tersiksa dan mengilukan.
Lion terus melakukannya dengan sekali mengeluarkan suara desis tertahan, saat dirinya menikmati permainan solo karirnya di kamar mandi.
Pria itu sendiri merasa enggan melakukannya, apalagi menurutnya ini sungguh memalukan dan hal, ini adalah pertama kali melakukannya.
Namun, karena rasa sesak di dalam bungkusan segitiga warning itu, sangat menyesakkan dan membuatnya menahan rasa sakit, antara kepala atas dan bawah.
Terpaksa ia berlari ke kamar mandi dan melakukan sebuah solo karir dengan dukungan beberapa benda yang akan melancarkan kegiatannya.
Wajah pria tampan, itu kini semakin merah. dengan bibir bawahnya ia gigit kuat untuk menahan erangan kuat akan keluar. Saat, gelombang elektromagnetik dalam pedang saktinya akan mengeluarkan lahar langkanya.
Namun tiba-tiba, konsentrasinya menjadi ambayar saat mendengar suara rengekan di luar sana.
Lion mencoba mengabaikan dan terus melanjutkan bersolo karir dengan mencoba mendalami kembali kegiatannya itu.
Lagi-lagi, kegiatan lima jarinya terhenti, saat samar-samar terdengar isakan dan suara tangisan manja.
__ADS_1
Sekali lagi Lion mengabaikannya dan menambah tempo gerakan Lima jari dan mencoba untuk fokus dan mengabaikan gangguan.
"Prang!" Kali ini kegiatan Lion harus terhenti. Saat dikejutkan oleh suara keributan di luar sana dan juga tangisan histeris. Membuat pedang saktinya yang tadinya terlihat sakti, kini menjadi penakut dan kembali bersembunyi di dalam sarangnya lagi.
"Prang!" Lagi-lagi, Lion dikejutkan oleh suara pecah di luar sana. Segera saja Lion membuka pintu kamar mandi dan berlari ke arah ranjang istrinya.
"Baby!" Pekik Lion, ketika melihat istrinya yang sudah terduduk di lantai dengan pecahan gelas di sana.
Lolly menoleh dengan wajah sembabnya, "kamu, dari mana? Aku, mencari mu, kamu, tega meninggalkan aku sendiri," cerca Lolly dengan wajah sedih.
"Maaf, aku dari kamar mandi," jawab Lion sambil mengangkat tubuh mungil istrinya dengan mudah.
"Bohong," pekik Lolly dengan suara serak dan wajah kesal.
"Kamu, pasti menemui perawat itu," tuduh Lolly dengan mata memicing.
"Tidak mungkin, sayang. Aku, sejak tadi dari kamar mandi," jawab Lion dengan wajah pasrah.
"Tapi, aku tidak mendengar suara air?" Tanya Lolly penuh selidik.
Lion menarik nafasnya berat dan membuangnya secara perlahan. "Itu, karena aku sedang menenangkannya," gumamnya pelan sambil, melirik pedang saktinya.
__ADS_1
"Apa, kamu mengatakan sesuatu?" Sela Lolly bertanya.
"Tidak!" Sahut Lion gugup.
"Hm! Sebaiknya, kamu kembali tidur, okay," timpal Lion yang menuntut sang istri untuk kembali berbaring.
"Terus, kamu akan menemui perawat itu? Saat, aku tertidur?" Ujar Lolly dengan pikiran negatifnya.
Lion lagi-lagi, hanya bisa menarik nafas frustasinya, melihat tingkah negatif dan posesif istri mungilnya itu.
Lion menyugar rambut panjang yang menutupi telinganya itu, kebelakang dan mengusap wajahnya yang rupawan.
"Aku, tidak akan kemana-mana, sayang." Lion mencoba bersabar menghadapi kelakuan tidak biasa wanita kesayangannya itu.
"Benarkah?! Sela Lolly lagi. Tidak lupa, tatapan wanita mungil itu yang penuh dengan selidik.
"Hu'um," gumam Lion dengan diikuti anggukan.
"Sekarang, tidur lah, tidak baik bagi wanita hamil terlambat, tidur," ucap Lion bijak.
Lolly pun menurut dan membaringkan tubuhnya. Tapi… wanita cantik itu, memerintahkan suaminya juga berbaring dan memerintahkan sesuatu hal, yang mampu membuat mata sipit Lion seketika — membola.
__ADS_1
"A-apa?"