
"Selamat, kak! Sekarang, kakak sudah menjadi seorang istri dan sebentar lagi, akan menjadi seorang ibu. Akh, senangnya, sebentar lagi aku akan menjadi — aunty." Luzi yang begitu bahagia dan antusias, saat mendengar kabar akan status baru sang kakak, dan … juga kabar tentang kehamilan Lolly.
Luzi, kini memeluk erat pundak, kakaknya yang sedang bersandar di belakang ranjang. Luzi juga, tidak hentinya mengusap perut, Lolly sambil berceloteh riang.
Tanpa memperdulikan berubah raut wajah, Lion yang kini cemberut dan menatap, Luzi yang kini menjadi adik iparnya dengan rasa iri dan tidak suka.
Sementara, Luzi sengaja berwajah mengejek ke arah Lion dengan lidah terjulur — menggemaskan. Membuat, Lion bersungut-sungut games.
"Dasar, gadis nakal. Apa, dia sengaja membuatku iri? Padahal, aku juga mau bermanja-manja, dengan istri mungilku," monolog Lion dengan mulut bersungut-sungut.
"Selamat, kak!" Liza yang sejak tadi, terdiam memberikan selamat kepada sang kakak. Gadis bertubuh tinggi semampai itu, menghampiri Lolly dan memberikan pelukan penuh kasih sayang dan juga, berwajah bahagia.
"Terimakasih, sayang," jawab — Lolly yang, membalas pelukan adiknya dan menghadiahi kedua pipi adiknya.
"Kami, turut bahagia," ucap Liza dengan mata berkaca-kaca. "Semoga, kakak, mendapatkan kebahagiaan dan … semoga, mereka menerima kakak juga menyayangimu," lanjut Liza yang masih memeluk kakaknya.
"Kalian, adalah hidup kakak, sampai kapanpun. Meski, kakak sudah menikah, kalian tetap, menjadi yang terutama untukku," pungkas Lolly dengan suara serak tertahan.
Lion yang melihat dan mendengar suara kesedihan tertahan istrinya, menjadi panik dan was-was.
Ia terus mengawasi, istrinya itu dengan tatapan terus tertuju kepada wanita mungil kesayangannya.
"Hm! Kami, menyayangimu, kak," bisik kedua adik Lolly. Ketiganya pun, saling berpelukan dan menangis. Mengingat, kembali masa-masa sulit mereka. Saat, sang ibu terbaring koma di rumah sakit. Dan … saat sang daddy dengan teganya meninggalkan mereka dalam kesusahan dan kesulitan.
"Kakak, juga menyayangi kalian." Balas, Lolly dengan nada serak.
"Baby, love!" Sela Lion dengan berwajah panik.
Membuat ketiga bersaudara itu, tersentak kaget dan bersamaan menoleh ke arah — Lion.
"Ingat, baby! Jangan, terlalu tertekan dan stres. Nanti, mereka juga ikut merasakan apa yang kamu rasakan," pungkas, Lion yang kini sudah berada di samping, ketiga bersaudara itu.
__ADS_1
"Aku, tidak menangis," ketus Lolly dengan wajah jengah. "Aku, hanya berbagi kebahagiaan, saja," ucapnya lagi.
"Tapi, kamu membuat mereka menangis, sayang," timpal Lion, lagi, yang bermaksud ingin mengusap perut wanita yang sudah menjadi istrinya mulai sekarang.
"Baby!" Rengek Lion, saat Lolly menepis tangannya yang ingin mengusap perutnya.
"Aku, ingin menyapa mereka," ujar Lion manja.
Membuat, Luzi dan Liza berdecak jengah. "Cih! Dasar, tuan muda, tidak jelas," gumam Liza sinis.
"Tidak!" Tolak, Lolly.
"Baby, love. Izinkan, aku menyentuhnya." Kembali Lion mengeluarkan bujukan, manja kepada istrinya itu.
"Tidak. Dan … tidak." Tolak, Lolly dengan membuang pandangannya.
Lion rindu, bergelayut manja di pelukan istrinya. Dia rindu menciumi wajah dan bibir mungil istrinya.
Lion pun dengan sabar, menunggu kedua adik Lolly keluar dari kamar rawat inap mewah yang ditempati Lolly. Lion, bahkan menahan rasa ngantuk dan lelahnya.
Ia sesekali, melirik ke arah ketiga saudara itu, yang masih asyik berbincang-bincang dan bercanda gurau.
Lion pun merasa bahagia melihat wajah gembira dan tawa lepas istrinya. Pria itu, baru pertama kali melihat tawa lepas Lolly yang membuat tingkat kecantikan istrinya bertambah.
"Clek" di tengah-tengah, rasa kagumnya dengan kecantikan sang istri yang terus tertawa lepas, Lion memalingkan wajahnya ke arah pintu dan ia bisa melihat seorang wanita berpakaian khusus perawat masuk dengan membawa lembaran berkas dan juga alat kesehatan.
Lion melihat jam tangan mewahnya yang sejak tadi menghiasi pergelangan tangan kekarnya itu, menunjukkan angka 10 malam.
__ADS_1
Pria, itu bisa bernafas lega saat kedatangan seorang suster yang akan memeriksa keadaan istrinya, setiap tiga jam sekali.
"Selamat, malam nona!" Sapa suster berwajah cantik itu lembut dan ramah.
"Selamat, malam juga, suster," balas Lolly dengan senyuman.
Liza dan Luzi turun dari ranjang pasien yang lumayan luas itu dan berdiri di sisi kiri sang kakak. Ikut, menyaksikan pemeriksaan sang kakak.
Lion juga tidak ingin ketinggalan, ia pun segera berjalan mendekati ranjang pasien dan berada di sisi paling dekat dengan — Lolly.
Suster cantik itu pun, memulai memeriksa kondisi Lolly, dengan serius sambil sesekali melirik ke arah Lion yang terus, mengenggam lembut telapak tangan istrinya.
Lolly yang menyadari tatapan, memuja suster cantik itu, kepada suaminya, merasa tidak terima dan ia merasa terganggu.
Dengan kasar, Lolly menarik pergelangan tangannya yang berada di telapak tangan suster cantik itu, saat memeriksa denyut nadinya.
Suster itu lantas menatap Lolly dengan dahi mengkerut dan, mengerutkan kelopak matanya bingung.
"Keluarlah!" Perintah Lolly dingin.
Lion pun mengerutkan keningnya heran dengan berubah wajah istrinya, nada mendengar nada cetus istrinya itu.
"Saya, belum selesai, nona," terang suster tersebut.
"Belum selesai memeriksa ku, atau… memandangi suamiku," ketus Lolly dengan wajah tidak suka ke arah suster cantik itu.
"A-apa, maksud anda?" Tanya terbata suster itu, dengan wajah panik dan salah tingkah.
"Seharusnya, anda melaksanakan tugas anda dengan benar. Bukan, mencuri pandang dengan suami orang. Apalagi melihatnya seperti ingin memangsanya," Seloroh Lolly dengan wajah berang.
__ADS_1
"Keluarlah!"