
Terdengar nafas keluhan dari hidung dan mulut seorang pria tampan yang, berada di dalam kamar sederhana.
Wajahnya terlihat kurang tidur dengan lingkaran hitam di kedua pinggiran kelopak matanya.
Rambut panjang coklatnya, berantakan dengan keadaan tubuh bagian atasnya di biarkan polos.
Hari mulai merangkak pagi, itu terlihat oleh semburan sinar pagi berwarna kekuning-kuningan, masuk kedalam kamar sempit itu melalui celah ventilasi jendela.
Pria itu hanya bisa menyandarkan punggungnya di belakang ranjang yang begitu mungil baginya. Badannya pun harus tertelungkup semalam, membuatnya susah untuk tidur nyenyak.
Semalaman pria itu hanya bisa terduduk dengan punggung bersandar, dan mengipasi tubuhnya sendiri, karena hawa di dalam kamar ia tempati begitu panas dan pengap.
"Aku, tidak mungkin seperti ini terus. Aku, membutuhkan pendingin ruangan," monolognya sambil memijit pelipisnya yang terasa pusing dan berat.
Lion mencoba menghubungi sepupunya kembali, Nicko. Untuk mencarikan dirinya sebuah pendingin ruangan.
"Sial! Kemana pria itu?" Kesal Lion sembari mencoba menghubungi sekali lagi nomor ponsel Nicko.
"Sh*it!" Umpat pria itu semakin kesal.
Lion pun menuliskan sebuah pesan ancaman buat sepupunya itu. Sebuah ancaman yang akan membuat Nicko tak bergeming, akan semua perintahnya.
Sebuah seringai tipis pun terlihat di bibir Lion, saat berhasil mengirimkan pesan untuk sang sepupu. Lion yakin, sebentar lagi barang yang ia inginkan akan segera ia dapatkan.
Setelah meletakkan kembali ponselnya, Lion berjalan ke arah pintu kamar, sebelum itu, Lion meraih sebuah handuk putih yang tergantung di belakang pintu kamar.
Lion ingin menyegarkan tubuhnya terlebih dahulu dan mencoba menelisik lingkungan rumah Lolly, yang begitu ramai para anak muda berkumpul di GG sempit di depan rumah wanita itu.
Saat membuka pintu, Lion disuguhkan oleh bau nikmat masakan, dan sebuah pemandangan menebarkan jantungnya.
Bagaimana tidak. Ia melihat Lolly sedang berada di balik dapur sederhananya, dengan penampilan menggemaskan menurut Lion.
Sebuah kaos berukuran super besar membungkus tubuh mungil wanita itu, hingga menutupi bagian atas paha putihnya.
Rambut panjang indahnya digulung tinggi keatas, menyisakan anak-anak rambut di bagian tengkuknya, membuat Lolly terkesan seksi.
Wajah wanita itu begitu pesona alami. Membuat Lion berkali-kali menelan ludahnya kasar. Pria itu juga, masih tetap bergeming di tempatnya.
"Ehem! Lion mencoba menetralisir debaran jantungnya yang berdetak kencang, ia berpura-pura baru keluar dari kamar, agar Lolly bisa menyadari keberadaannya.
Sesuai dengan pikiran Lion, wanita yang sedang memasak sarapan pagi itu, terloncat kaget dan membeku di tempatnya, saat baru menyadari, kalau sosok pria arogan itu berada di dalam rumahnya dan sekarang tinggal bersamanya.
__ADS_1
Segera saja Lolly mencoba mengontrol perasaan was-was dan gelisahnya dengan menyibukkan diri memasak.
"Apa, anda lupa? Kalau, anda dilarang keluar kamar tanpa memakai baju," sela Lolly yang sibuk membolak-balikkan masakannya.
"Hm! Maaf saya lupa," jawab pria itu, yang segera masuk ke dalam kamar mandi.
"OH Tuhan! Kenapa aku bisa melupakannya, kalau sekarang dia tinggal di sini," keluh Lolly sembari meraih segelas air putih dan meneguknya. Ia juga mencoba menenangkan dirinya dengan meminum sebuah pil penenang.
Lolly masih merasakan perasaan gelisah dan was-was, setiap kali bersitatap dengan Lion.
Ia masih merasakan perasaan takut, namun sebisa mungkin Lolly mencoba menahannya. Ia, akan terus berusaha, untuk keluar dari masa terpuruknya.
Ia tidak boleh lemah, ia harus tetap kuat dan terus berjuang demi kedua adiknya dan tentu demi sang ibu.
_____________
"Kakak, mau kemana?" Luzi bertanya kepada kakaknya Lolly, saat melihat penampilan Lolly begitu rapi.
Lolly yang mendapatkan pertanyaan pun, hanya bisa tersenyum ikut bergabung bersama ketiga orang di meja makan.
Lion menatap Lolly lekat, biasanya wanita yang ada di depannya ini, akan berangkat ke perusahaan dengan penampilan seperti ini.
"Kamu, akan ke perusahaan?" Timpal Lion dengan wajah mengkerut.
"Benarkah? Kakak, akan masuk bekerja," sambung Luzi.
"Hm! Gumam Lolly tidak acuh sembari menikmati sarapannya.
"Tapi, bagaimana dengan keadaanmu?" Timpal Lion, yang masih terus memandangi wajah imut Lolly tanpa berpaling sedikitpun.
"Bukan urusan, anda," ketus Lolly yang segera menyelesaikan sarapannya.
"Ck! Dasar pria aneh," cibir Liza, gadis itu meraih tasnya dan segera berangkat ke kampus, sebelum itu, Liza berpamitan kepada sang kakak.
Tidak lama, Luzi pun ikut berpamitan, sehingga hanya tersisa, Lolly dan Lion saja di dalam rumah.
"Saya, akan mengantar kamu!" Seru Lion tiba-tiba.
Lolly yang sedang membersihkan meja makan, menghentikan pergerakan tangannya yang sedang ngumpulin bekas wadah makanan adik-adiknya.
Lolly lantas melayang tatapan tajam kepada pria di hadapannya dan menolak ajakan Lion.
__ADS_1
"Tidak perlu!" Tolaknya dengan nada ketus.
Lion menaikan sebelah alis dan lebih mendekati Lolly yang kini memundurkan tubuhnya di dinding.
"Apa, kamu lupa, kalau saya tidak menyukai penolakan," bisik Lion tepat di atas wajah Lolly.
Lolly sendiri membuang pandangannya ke arah samping, dan mencoba menahan gejolak di dalam dirinya. Sekuat tenaga Lolly mengepalkan kedua tangannya di samping, dan menahan kecemasan yang akan menguasai dirinya.
"Tetap disini, saya akan segera kembali," bisik Lion kembali dan mengusap lembut puncak kepala Lolly.
Segera saja Lion, berlari ke arah kamar yang ia tempati mulai sekarang. Sedangkan Lolly, memulai mengatur nafasnya yang tiba-tiba menyesakkan.
"OH Tuhan! Apakah, aku bisa mengontrol emosi ku di dekatnya," gumam Lolly pelan.
_____
"Ayo!" Ajak Lion saat berada di meja makan.
Lolly yang kebetulan meraih tasnya, terkejut dengan ajakan pria yang sudah menghancurkan hidupnya itu.
"Terimakasih! Tapi, itu tidak perlu." Lolly pun menolak kembali tawaran Lion. Wanita itu segera berjalan ke arah pintu. Meninggalkan Lion yang masih bergeming di tempatnya.
Pria itu segera menyusul Lolly yang kini sudah mulai berjalan ke halte bus. Dan, Lion tetap mengikuti wanita itu, meskipun Lolly terus memberikan tatapan tajam ke arahnya.
Kini keduanya telah berada di sebuah bus kota yang akan Lolly gunakan untuk lebih cepat sampai di perusahaan agensi light Hugo.
Sedangkan Lion masih setia, mengawasi Lolly dari beberapa jarak kursi.
Lion segera berdiri dan berpindah duduk di samping Lolly, saat seorang pemuda ingin duduk di samping wanita itu.
"Maaf! Dia, istri saya," tutur Lion santai.
Lolly pun lagi-lagi, dibuat terkejut, oleh perkataan Lion, belum lagi tingkah posesif pria itu, yang membuat Lolly merasa jengah.
"Apa yang sedang, anda — bicarakan tuan," geram Lolly yang hanya menggerakkan giginya.
"Berhentilah, merajuk, baby," jawab Lion dengan tersenyum tampan.
Pria yang ingin duduk di samping Lolly pun menghindar. Sedangkan penumpang lain begitu terpesona dengan sosok Lion, apalagi mereka menyaksikan senyum limited edition seorang Lion light Kato.
"Suami, anda, begitu tampan nyonya," tegur, wanita yang duduk di sebelah Lion.
__ADS_1
"Saya, memang tampan, nyonya. Oleh sebab itu, dia begitu mencintai saya, iyakan, honey?" Lion terus mengucapkan kata-kata romantis di dalam bus. Membuat Lolly semakin jengah.