
Suasana tiba-tiba senyap, saat wanita kesayangannya kini sudah mulai tertidur lelap di dalam pelukannya yang hangat. Lion dengan hati-hati, mengintip sang istri yang mulia, tak terusik saat pergerakan kasar Lion.
Pria itu, kembali meluruskan punggungnya di ranjang dengan diikuti nafas lega. Senyumnya terlihat mengembang, ketika mengingat kelakuan manja istrinya itu. Yang, tidak mau lepas dari tubuhnya. Dan … melarangnya untuk tidak mengenakan atasan, padahal suhu di dalam kamar rawat tersebut begitu dinginnya.
Lion, hanya bisa menahan rasa menggigilnya, beruntung, ia mendapatkan pelukan posesif dari wanita mungil di sisinya ini.
Lion terdengar terkekeh pelan, saat terbayang wajah dan tingkah menggemaskan istrinya.
Pria dengan rahang tegas itu, memiringkan kembali tubuhnya, memandangi wajah lugu istrinya yang tertidur tanpa riasan di wajah. Tapi, terlihat begitu imut dan manis.
Lion membelai rambut yang ada di sekitar wajahnya Lolly, memindahkannya ke belakang telinga istrinya, mengelus hati-hati, pipi kemerahan nan kenyal istrinya itu. Menarik pelan hidung mancung wanitanya dengan perasaan games.
Lion menarik kembali tangannya, saat, Lolly merespon kelakuan itu, istrinya bergerak gelisah, dan lebih mengetat pelukannya juga kaki istrinya itu kini berada di atas kakinya.
__ADS_1
Lion hanya bisa menggigit kecil bibir bawahnya sambil menghela nafas frustasi, ketika, kedua gundukan kenyal istrinya begitu terasa di dadanya yang polos. Lion merasakan kehangatan oleh sentuhan kedua benda tersebut. Membuat, Lion, beberapa kali menelan ludahnya dan menarik nafas berat.
"Kenapa, kamu membuatku semakin menderita," bisik Lion di depan wajah istrinya.
"Aku, ingin sekali memakanmu malam-malam," gumam pria itu, dengan wajah yang kini seperti menahan sesuatu yang amat menyiksa.
"Malam-malam, ingin memakanmu," racaunya frustasi, saat Lolly tanpa sadar menggesekkan pahanya pas di depan benda keramat berbahayanya.
"****! Apa, yang kamu lakukan, baby," erang Lion seorang diri.
"Astaga, pertahanan pedang sakti ku bangkit kembali, setelah sekian lama bertapa di dalam bungkusan, kain segitiga warning," cerotos Lion sendiri yang kini bergerak-gerak gelisah. Yang, semakin membuatnya uring-uringan, ketika tangan kecil Lolly, mengusap-usap di bagian permukaan pedang saktinya yang masih terbungkus rapi.
"OH Tuhan, ujian macam apa ini," erang Lion frustasi.
__ADS_1
"Haruskah, aku memaksanya kembali?" Gumam Lion ragu.
"BODOH!" Maki nya pada dirinya sendiri. "Dia, akan membencimu lagi, bodoh. Dan … mommy dan daddy, akan membunuhmu." Mulut pria berambut panjang itu, bersungut-sungut sendiri dan mengumpat dirinya sendiri.
"OH Tuhan, aku harus bagaimana dan harus apa?" Lion terus mengerang tertahan hingga gigi-giginya bergeletuk.
Pria itu kembali menatap wajah pulas sang istri, yang terlihat di matanya begitu menggoda, berulang kali pria bermata sipit itu menelan Saliva, saat mendapati mulut Lolly terbuka sedikit.
Lion pun mencoba untuk mendekatkan wajahnya ke wajah Lolly, ia bermaksud ingin, membelai bibir merekah istrinya yang sedikit terbuka itu. Tapi… sayang. Gerakannya terhenti, saat, Lolly menggeliat.
Refleks, Lion memundurkan wajah lagi, dengan wajah lega. Tapi, tiba-tiba ia harus menahan kembali nafasnya, karena Lolly kini berada di bawah ketiaknya lagi.
"Ujian, yang begitu berat dan menyiksa," keluh Lion sambil membuang nafas panjangnya.
__ADS_1
Lolly sendiri kini semakin terlelap, saat berada di ketiak suaminya itu, wanita itu, tanpa sadar memainkan hidung mancung di sana dan sesekali mengecupnya. Yang membuat, Lion semakin mengerang frustasi.
Hasrat yang terpancing sejak tadi, kini mulai berkobar dan membakar ke segala titik-titik sarafnya.