
"Kamu sudah menemukan, pelakunya?" Sosok pria rupawan itu bertanya kepada orang suruhannya.
"Sudah, tuan," sahut pria yang bertubuh kekar dalam balutan setelan hitam-hitam.
"Katakan!" Perintah sang tuan dengan nada dingin.
Dengan menampilkan wajah dingin pria misterius itu pun mengatakan kepada sang tuan dengan tatapan datar.
"Nona, Calista, sekretaris anda, tuan," jawabnya penuh keyakinan.
Sang tuan muda pun hanya menampilkan wajah tidak terbaca dengan seringai mengerikan terlihat terbit di sudut bibir.
"Ck! Dugaan ku benar." Lion berdecak dan memberikan perintah kepada anak buahnya itu.
"Lakukan! Buat dia, hidup menderita dan … singkirkan di dari kota ini." Perintah Lion dengan intonasi suara berat nan dingin.
"Baik tuan," sahut anak buah Lion sembari menundukkan setengah tubuhnya.
"Hm! Keluarlah." Suruh Lion yang kini kembali merebahkan tubuh tingginya di atas ranjang.
"Tunggu! Cegah Lion, di saat anak buahnya ingin membuka pintu kamar istirahatnya.
"Apa dia sudah, datang?" Tanyanya penasaran.
"Belum, tuan," balas sang anak buah.
"Keluarlah!" Pinta Lion dengan suara berat.
Terdengar Lion menghembus nafas ke udara dengan tatapan tertuju kepada plafon kamar yang di cat abu-abu.
Lion masih menunggu kehadiran Lolly. Ia, ingin membicarakan hal penting tentang peristiwa kemarin malam.
Lion hanya bisa berdoa, semoga mommy dan keluarga lainnya tidak mengetahui kejadian itu.
Bisa saja hidupnya akan berakhir di tangan sang mommy sendiri. Karena bagaimanapun, sang mommy sangat membenci tindakan diskriminasi ataupun tindakan yang ia lakukan kepada Lolly.
Namun ego Lion terus merasuki pria itu, untuk tidak memasang wajah bersalah di hadapan wanita yang ia benci. Ego nya pun membujuk Lion untuk tidak percaya kepada keadaan kemarin malam.
Bisa saja Lolly dan Calista saling mendukung untuk menjebak dirinya, dan melakukan itu semua demi uang tentunya. Beginilah isi pikiran Lion yang sangat jauh berbeda dengan kata hati.
"Pasti, wanita itu sengaja ingin menggodaku," gumam Lion.
"Aku, harus menemuinya," sentaknya dan segera bangkit.
________
Di tempat lain.
"KAKAK!" Teriak seorang gadis remaja berusia 19 tahun yang kini berdiri di sisi meja makan sederhana.
__ADS_1
"KAKAK … MANA SARAPANKU!" pekiknya tidak sabar.
Gadis itu segera duduk dengan wajah terlihat jengah. Penampilannya terlihat mencolok tidak sesuai dengan keadaan rumahnya yang terlihat jauh dari kata layak.
"Ck! Kalian terlalu banyak bergosip," cibirnya saat kedua saudaranya datang dengan membawa sebuah sarapan roti gandum dengan selai coklat.
Lolly hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan adik perempuan satunya ini.
Sedangkan Luzi terlihat tidak suka, cara Liza berbicara. Apalagi melihat wajah tidak acuh saudara itu akan kondisi kakak mereka.
"Jaga sikapmu, Liza," tegur Luzi kesal.
"Cih! Apa ini," Sentak Liza saat Lolly meletakkan sarapan pagi mereka.
"Sarapan," timpal Luzi cuek.
Liza seakan jengah melihat sarapan yang disajikan sang kakak, dengan tidak sukanya, ia lantas, mengambil roti itu dan menatapnya enggan.
"Makanlah!" Sela Lolly yang kini menuangkan susu putih digelas kedua adiknya.
"Prang!" Tiba-tiba, Liza menghamburkan sarapan mereka di lantai.
Dengan wajah tidak bersalah, Liza melayangkan protes kepada Lolly.
"Sarapan apa yang kakak berikan kepada ku. Sungguh menjijikkan," ketus Liza
"LIZA!" gertak Luzi yang menatap nanar sarapan mereka yang tersisa.
Lolly hanya bisa terdiam dengan tatapan nanar kepada sang adik dan juga roti gandum yang berserakan di lantai.
Lolly pun berjongkok dan mengumpulkan kembali roti tersebut.
"Katakan, Kamu mau sarapan apa?" Tanya Lolly dengan lembut dan penuh kesabaran.
Lolly sangat mengenal watak keras adiknya satu ini. Jadi… dia berusaha bersabar juga mengalah.
"Kakak!" Seru Luzi sambil menatap lekat sang kakak.
Lolly pun menampilkan senyum dengan mata berkedip. " Tidak apa," sahutnya lembut.
Sedangkan Liza hanya mencebikkan bibirnya dengan wajah kesal. Ia lalu menengadah telapak tangannya di depan Lolly.
"Aku tidak membutuhkan, Sarapan murahan kakak. Tapi — aku butuh uang," ucap Liza enteng.
"Liza. Jaga ucapanmu." Hardik Luzi berang.
"Hus. Diamlah, aku tidak membutuhkan selaanmu, yang aku butuhkan sekarang adalah uang." Liza terlihat menyeringai ke arah Lolly.
"Berikan aku uang," pinta Liza dengan wajah enteng.
__ADS_1
Lolly lagi-lagi hanya bisa terdiam, melihat perlakuan buruk adiknya ini. Lolly hanya bisa mengikuti kemauan sang adik.
"Berapa?" Tanya Lolly pasrah.
"200 dolar," jawab Liza dengan mudahnya.
Membuat Lolly dan Luzi membesarkan kelopak mata mereka dengan mulut terbuka juga.
"What. Apa yang kamu katakan Liza. Bukankah, aku sudah memberikan uang tabungan ku kepadamu dua hari yang lalu? Dan — sekarang, kamu memintanya kepada, kakak? Kamu … meminta 200 dolar, you crazy?" Imbuh Luzi yang memperlihatkan wajah tidak percaya.
Karena dua hari yang lalu, Luzi sudah memberikan uang tabungannya selama ini kepada Liza dua hari yang lalu. Yang mengatakan sangat membutuhkannya dan Liza ingin menemui Lolly di perusahaan agensi light Hugo, Luzi yang tidak ingin sang kakak mendapatkan masalah dengan orang-orang di perusahaan agensi light Hugo pun memberikan semua tabungannya yang akan ia gunakan untuk biaya pendidikannya di perguruan tinggi.
"Ck, uang yang kau berikan sudah habis. Dan sekarang aku menginginkannya lagi. Malam ini, aku ingin mengajak teman-temanku minum di bar." Sahut Liza entengnya.
Ia tidak memperdulikan wajah sedih Lolly yang mendengar perdebatan kedua adiknya ini.
Lolly hanya menatap sang adik nanar, ingin berdebat, tapi sekarang ini Lolly dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Kita bisa membicarakannya nanti malam, okay," sela Lolly dengan wajah memucat dan nada lemah.
Luzi yang melihat raut wajah kesakitan sang kakak, segera merangkul pundak Lolly.
"Kakak, kenapa?" Tanyanya khawatir.
" hanya pusing," lirih Lolly.
"Aku, akan mengantar kakak kembali ke kamar." Ujar Luzi.
Lolly hanya mengangguk sambil memijit pelipisnya yang terasa berdenyut-denyut sakit.
Liza yang merasa diacuhkan, segera menahan langkah kedua saudaranya itu.
"Aku, membutuhkan uang itu sekarang," sentak Liza yang kini berdiri di depan Lolly dan Luzi.
Luzi memberikan tatapan nyalang kepada Liza yang masih menampilkan wajah tidak peduli.
______
Masih terasa suasana menegang di ruangan sederhana di rumah keluarga white. Tampak adik kakak itu, saling menatap dengan sengit.
Sedangkan, kakak tertua mereka hanya bisa menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya yang terasa ditusuk ribuan jarum
"Menyingkirlah, Liza." Gertak Luzi jengah, yang masih menahan tubuh hangat sang kakak.
"Tidak! Sebelum aku mendapatkan yang, kuinginkan," tutur Liza.
"Kakak, tidak memiliki uang sebanyak itu, sayang," potong Lolly yang suaranya terdengar lemah.
"Dengar! Kakak tidak memilikinya," potong Luzi muak.
__ADS_1
"Ck! Aku tidak percaya dan tidak peduli. Berikan aku uang nya," kekeh Liza.
"Kakak tidak berbohong, Liza. Kakak, tidak memiliki uang lagi," sahut Lolly sabar.