
Hembusan nafas Lolly terlihat menutupi bayangannya di depan cermin yang berada di toilet ruangannya.
Lolly membasuh wajah sembab nya dengan aliran air wastafel.
Lolly puas menumpahkan segala emosinya dengan menangis di dalam toilet.
Rasa sesaknya kini berkurang, yang tertinggal hanyalah rasa luka dan sakit hati.
Lolly memandangi wajah menyedihkannya melalui pantulan cermin, meskipun sudah merasa puas mengeluarkan air matanya. Entah mengapa masih saja cairan kristal itu masih mengalir.
Sambil mengusap lelehan cairan hangat itu, Lolly tersenyum miris menatap pantulan dirinya yang nampak menyedihkan.
Ia sudah bertekad ingin lebih berani dan membangun benteng pembelaan untuk dirinya sendiri.
Lolly sudah jengah terus diperlakukan tidak layak dan dihina.
Sudah waktunya ia memperlihatkan wujud aslinya yang selama ini ia sembunyikan.
Sikap tangguh dan penuh ketegasan yang selama ini ia sembunyikan di balik wajah lembutnya.
"Aku, tidak peduli. Aku, muak dan jenuh terus berada di posisi sikap seperti ini. Aku, ingin menjadi diriku sendiri. Masa bodoh dengan semua perjanjian itu, masa bodoh dengan perasaan ini." Lolly terus bergumam sambil menggulung rambut panjangnya tinggi ke atas.
"Baiklah, mari kita mulai dari sekarang," gumamnya lagi.
Wanita bertubuh mungil itu lantas membuka kemejanya yang sudah dipenuhi noda kopi.
Lolly keluar dari toilet dengan keadaan setengah telanjang, ia membuka sebuah lemari kecil yang terdapat beberapa helai pakaiannya.
Lolly memang sengaja meninggalkan beberapa helai pakaiannya di sini.
Wanita itu, meraih sebuah bleus hitam polos tanpa lengan.
__ADS_1
Dengan segera Lolly mengenakannya, saat pintu ruangannya diketuk begitu tidak sabarannya.
Lolly berjalan mendekati pintu setelah memakai pakaiannya, Lolly membuka pintu itu dan memberikan tatapan dingin kepada dua orang wanita yang berdiri dengan wajah jengah.
"Ada apa!" Seru Lolly dingin.
"Cih! Salah satu wanita itu berdecak sinis.
"Dasar wanita —"
"Katakan," potong Lolly dengan wajah suram.
Wanita yang bersetelan rapi itu menelan kembali ucapannya dengan cepat, ketika melihat sorotan mata tajam Lolly.
"Kami, diperintahkan untuk menyerahkan ini," sela wanita satunya dengan tumpukan berkas di tangan keduanya.
"Siapa?" Tanya Lolly singkat.
"Letakkan di sana!" Perintah Lolly sambil melangkah kembali ke arah kursinya.
"Kau! Berani memerintahkan ku?!
"Jadi? Aku harus bagaimana? Apa, Kamu mau saya membuat laporan tentang kinerja mu disini?" Sahut Lolly dengan tersematkan sebuah ancaman.
Kedua wanita itu pun berubah pias, mendengar ancaman Lolly.
Kenapa mereka ketakutan dengan ancaman Lolly? Itu karena, Lolly adalah, orang kepercayaan nyonya Kimberly. Pemilik sah perusahaan ini.
"Keluarlah! Kalau tidak ada lagi yang kalian sampaikan," usir Lolly dengan wajah datar.
Kedua wanita dengan pakaian rapi itu, hanya bisa mengerang kesal. Melihat perubahan sikap Lolly, kepada mereka.
__ADS_1
Kedua wanita itu lantas keluar dari ruangan Lolly dengan hentakan kaki kasar melangkah keluar.
Sedangkan Lolly menghela nafas beratnya melihat tumpukan berkas di depan matanya.
"Seperti biasa, berakhir lembur," gumam Lolly lesu.
"Semangat Lolly," bisiknya sambil membuang nafas berat.
Lolly menatap jam di tangannya yang jarum jam pendek menunjukkan di angka dua.
Dan kondisi perutnya sekarang ini sedang saling berdemo, terlalu larut dari rasa sedihnya sehingga Lolly lupa menikmati makan siangnya.
"Pantas aku merasa lapar," gumam Lolly lagi.
Ia pun memesan makanan cepat saji melalui aplikasi di ponselnya.
Ternyata setelah puas menangis, sekarang perutnya yang berteriak untuk di isi.
Baru saja Lolly meletakkan ponselnya di atas meja, tiba-tiba sebuah pesan masuk dari nomor tanpa nama.
Lolly membaca pesan tersebut, yang memintanya bertemu ditempat biasa.
Tanpa menunggu lama, Lolly bangkit lalu berjalan keluar dari ruangannya.
Melewati para karyawan lain yang hanya meliriknya sinis.
Lolly terus melangkah tanpa menghiraukan tatapan sinis mereka.
Bagi Lolly mereka semua layaknya makhluk astral.
Sekarang tujuan Lolly menemui sang pengirim pesan rahasia untuknya.
__ADS_1