
Pintu ruangan UGD terbuka, membuat kedua adik perempuan Lolly berdiri dari duduknya dengan wajah, panik dan diikuti juga oleh mommy Kim. Yang sejak tadi berada di rumah sakit, saat mendapatkan laporan dari anak buahnya, yang diutus untuk selalu mengawasi kediaman sederhana — Lolly.
"Bagaimana, dengan keadaan kakak kami, dokter." Luzi bertanya dengan tidak sabarnya dan wajahnya terlihat ketakutan.
Sedangkan, Liza hanya bisa menenangkan sang adik. Meskipun, ia pun begitu sangat khawatir akan kondisi, sang kakak.
"Keadaan, pasien baik! Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Pendarahannya juga mulai berhenti dan syukur ja …." Perkataan dokter wanita itu terpotong, saat suara wanita tegas, menyela ucapannya. Dokter itu juga mendapatkan, tatapan tajam dari Kim, lantas memberikan kode kepada dokter tersebut ke arah kedua adik perempuan Lolly yang masih remaja.
Kim kini menatap kedua anak buahnya yang membawa Lolly ke rumah sakit. Kim memberikan perintah kepada salah satu anak buahnya untuk mengantar pulang kedua adik Lolly, dengan menggunakan bahasa tubuh.
Kedua anak buah Kim pun paham dan mengangkuk samar .
Kim, kini beralih kepada kedua adik perempuan Lolly, mendekati keduanya sambil memberikan sentuhan lembut.
"Lebih, baik kalian pulang. Bukankah, kalian harus belajar?" Pungkas Kim yang menatap kedua gadis cantik itu lembut.
"Tapi nyonya, kami belum mengetahui keadaan kakak, dan kami ingin menjenguknya, dulu," sahut Luzi menolak perintah Kim.
Kim memberikan perintah kepada sang dokter wanita tersebut, untuk — memberikan informasi kesehatan Lolly kepada kedua adiknya.
"Jangan, khawatir, nona. Kakak anda dalam keadaan baik-baik saja," timpal sang dokter.
"Tapi …." Ucapan Luzi terjeda, saat Liza menyenggol lengannya oelen dan mempolototi sang adik.
"Yang, dikatakan nyonya, Kim benar. Kita, harus pulang sekarang. Kalau tidak, kamu akan terlambat ke sekolah," sela Liza yang sangat peka dengan keadaan yang sekarang ini terjadi kepada, sang kakak.
"Tapi, Liza! Kita, belum melihat kakak," protes Luzi.
"Kita bisa melihatnya, nanti," timpal Liza.
"Terus, kakak bagaimana?" Cerca Luzi kembali yang masih merasa khawatir.
"Tenanglah, biar aku yang menjaganya." Kim memotong perdebatan kedua gadis cantik itu, sambil memamerkan senyum ramahnya.
"Tapi …."
"Sudahlah, ayo!" Liza pun menarik tangan adiknya, dan membawanya menjauh dari ruangan UGD itu.
Luzi pun hanya bisa pasrah, mungkin dia akan menjenguk sang kakak, saat pulang sekolah. Semoga saja, kakaknya tidak terjadi hal serius kepadanya.
Setelah melihat kepergian, kedua adik Lolly. Kini, Kim menatap serius ke arah dokter wanita muda itu, dengan — raut wajah penasaran pun tersirat rasa khawatir.
"Katakan!" Perintah Kim dengan suara tegas yang mendominasi.
Dokter wanita muda itu pun merasa tegang dan canggung, harus berhadapan dengan wanita berkelas, seperti nyonya Kimberly Light Kato sekarang ini.
__ADS_1
"Lebih, baik kita bicara di ruangan, saya nyonya," ujar dokter tersebut dengan nada gugup.
"Hm!" Gumam Kim, yang melangkah terlebih dahulu, sebelum dokter tersebut mempersilahkan dirinya untuk lebih dulu memasuki ruangannya.
"Tetaplah, disini!" Perintah Kim, kepada anak buahnya.
"Siap! Nyonya," sahut sigap anak buah Kim, dan tetap berada di luar ruangan UGD. Untuk mengawasi dan menjaga Lolly.
"Kondisi, nona Lolly white, tidak terlalu serius. Seperti yang saya sampaikan kepada kedua adiknya tadi. Namun…"
"Apa?" Tanya Kim yang begitu penasaran dengan wajah khawatir.
"Nona, Lolly harus beristirahat full selama masa kehamilan semester pertama, agar ketiga janin dalam rahimnya baik-baik, saja. Syukurlah, nona, Lolly segera dibawa kerumah sakit dan mendapatkan pertolongan dengan cepat, sehingga, kami bisa menyelamatkan ketiga janin nona — Lolly," terang sang dokter dengan bernafas lega dan wajah syukur.
Sedangkan, Kim begitu syok, atas laporan tentang Lolly, wajahnya pun kini begitu terkejut, antara rasa bahagia dan juga khawatir.
"Dia, memiliki janin kembar tiga?" Tanya Kim pelan dengan wajah masih terlihat syok pun merasakan perasaan bahagia.
"Iya, nyonya. Oleh sebab itu, nona Lolly harus ekstra istirahat dan tidak boleh terlalu banyak bergerak, ataupun stres. Karena, keadaan seperti itu dapat membuat janin nona Lolly bermasalah. Dan — nona Lolly juga belum cukup umur untuk mengalami kehamilan kembar, apalagi ini adalah kehamilan pertama buatnya," terang dokter itu kembali panjang lebar, memberikan wejangan kepada Kim.
Kim, akan mendapatkan seorang cucu lagi dan kali ini kembar tiga.
OH betapa bahagianya, istri dari tuan muda Arthur Kato itu, saat mendapatkan kabar bahagia.
"Apakah, nona Lolly bekerja?" Dokter itu bertanya kepada Kim, membuat Kim merubah raut wajahnya.
"Iya," jawab Kim pendek.
"Apa, ada masalah?" Kali ini Kim yang bertanya dengan wajah serius.
"Ini, sangat bermasalah dengan kehamilan nona Lolly," tandas sang dokter.
"Apa, dia selalu melakukan kerja tambahan?" Tanya sang dokter kembali.
"Entah," sahut Kim dengan wajah berpikir.
"Anda, harus lebih memperhatikannya, nyonya. Agar tidak berakibat fatal dengan ketiga janinnya," pesan dokter wanita cantik itu dengan wajah ramah.
"Tentu! Tentu saja, saya akan memperhatikan menantu, saya," sahut Kim, yakin.
"Menantu?! Batin sang dokter heran.
"Yah! Dia menantu wanita saya," timpal Kim, saat membaca raut wajah heran dokter tersebut.
"M-maa-maafkan, saya nyonya. Dan — selamat, atas kabar bahagia ini," imbuh sang dokter dengan bicara terbata dan berwajah tidak enak
__ADS_1
"Tidak mengapa!" Jawab Kim datar.
"Satu lagi, nyonya," imbuh dokter itu lagi.
"Apa?" Sahut Kim dengan wajah mengkerut penasaran.
"Sepertinya, menantu perempuan anda, tidak mengetahui soal kehamilannya," jelas sang dokter.
"Biarkan, saya yang memberitahukan kepadanya," sahut Kim cepat.
Kim tidak ingin Lolly menjadi syok dan tertekan dengan kabar tentang kehamilannya, bisa-bisa, ketiga calon cucunya dalam bahaya. Apalagi, Lolly pernah mengalami riwayat, depresi serius.
Kim berjalan keluar dari ruangan dokter kandungan, sambil berpikir keras. Ia harus menyampaikan kabar ini kepada Lolly dalam bahasa yang tepat, agar wanita itu tidak syok.
Kim berhenti di depan kamar rawat Lolly, karena wanita itu sudah di pindahkan di salah satu kamar rawat inap mewah.
Kim berhadapan dengan anak buahnya dan memberikan tatapan mata tajam.
"Apa, yang anak itu lakukan kepadanya selama 1 bulan ini?" Tanya Kim dingin.
"Tuan, tidak memperbolehkan nona Lolly kemanapun, tanpanya nyonya. Tuan, juga memaksa nona Lolly menemaninya bekerja lembur," lapor anak buah Kim.
"Dasar anak bodoh," geram Kim sambil memijat pelipisnya.
"Sekarang di mana dia?" Tanya Kim kembali.
"Di luar kota, nyonya," sahut pria bertubuh tinggi besar itu.
"Hm! Gumam, Kim pelan.
"Apa, perlu saya memberitahu kepada, tuan?"
"Tidak, perlu." Ketus Kim jengah dengan sikap putranya itu.
Yang hampir membahayakan darah dagingnya sendiri, akibat sikap posesifnya.
"Ada apa?" Kim bertanya lagi kepada anak buahnya, saat mendapatkan panggilan telepon dengan wajah panik.
"T-tuan, nyonya."
"Dia, kenapa?" Kim pun ikut khawatir dan penasaran.
"Tuan, mengamuk di perusahaan," sambung anak buah Kim.
"Mengamuk?"
"Iya, karena tidak melihat keberadaan nona, Lolly," terang pria berwajah mengerikan itu.
"OH Tuhan, dasar anak bodoh," keluh dan maki — Kim.
__ADS_1