Emergency Bed Tuan Muda Kato

Emergency Bed Tuan Muda Kato
bab 22


__ADS_3

Lion kini hanya bisa terdiam dengan mencoba, memahami segala keadaan yang terjadi, setelah peristiwa kemarin malam.


Setelah kepulangan kedua orang tuanya, yang membawa semua fasilitas yang ia miliki dan juga gelar CEO di perusahaan agensi light Hugo yang akan diambil alih oleh Sakura.


Lion tampak menghayal di sebuah kursi taman rumah sakit dengan kemeja putihnya yang tampak lusuh. Rambut panjangnya acak-acakan, raut wajah frustasi dan nafas yang terdengar berat.


Pria dengan perawakan atletis itu, menyugar rambut coklatnya yang menutupi sebagian telinganya.


Lalu mengusap wajahnya kasar yang ditumbuhi rambut-rambut halus di rahang dan juga bagian atas bibirnya.


Berulang kali, pria itu menarik ulur nafas frustasinya sembari menatap ke arah jendela kamar wanita yang sekarang menjadi tanggung jawabnya.


Namun ditengah pikiran yang berkecamuk dengan pandangan masih tertuju ke atas, lebih tepatnya di balkon kamar pasien yang ditempati Lolly, tiba-tiba, mata Lion menyipit tajam. Saat, menangkap keanehan di atas sana.


Lion terus menyipitkan matanya dengan tajam, hingga beberapa detik kemudian kelopak matanya membesar dan umpatan keluar dari mulut pria berwajah rupawan itu.


"****! Apa yang akan dilakukan wanita itu," gumamnya sambil bangkit dan masih mendongakkan kepalanya keatas.


"Apa, dia sudah gila," erang Lion frustasi, ketika melihat sosok wanita itu, menaiki pembatas besi balkon kamar.


Lion segera berlari memasuki lobby rumah sakit, berlari terburu-buru, menuju lift. Ia bahkan menyenggol beberapa orang yang berlalu lalang di koridor rumah sakit itu.


Umpatan dan makian memenuhi gendang telinga Lion, namun, pria itu menulikannya. Dan terus berlari ke arah lift yang akan membawanya ke lantai khusus VVIP.


"Sial! Umpat Lion sekali lagi. Ketika selangkah lagi ia akan sampai menuju lift, namun sayang lift tersebut sudah tertutup dan mulai bergerak keatas.


Dengan wajah panik dan khawatir, Lion menempatkan kelima jari panjangnya ke arah tombol lift. Menekannya dengan tidak sabar, bahkan Lion memaki pintu lift itu.


"Cepatlah, pintu besi sialan." Maki Lion emosi.


Pria itu, masih menunggu di luar pintu lift sambil berkacak pinggang dan menampilkan wajah frustasinya.


"Come on!" Gumam Lion gelisah.


"Semoga, wanita itu tidak bertindak gila," monolog Lion, kembali ia mengusap wajahnya.


"Sial, sial, sial." Tidak hentinya, Lion mengeluarkan suara umpatan dari mulutnya itu. Apalagi pintu lift tak kunjung terbuka.


Lion berjalan mondar-mandir di depan lift dengan wajah kebingungan, semua orang melintas di depannya hanya mengkerut alis dan kembali melanjutkan langkah mereka.

__ADS_1


Netral tajam Lion kini terpatri kepada, pintu berwarna coklat yang terdapat sebuah papan berukuran kertas berkas yang bertuliskan "tangga darurat" di sudut ruangan.


"Sial!" Umpatan kembali keluar dari mulut pria itu, saat tidak memiliki pilihan lain selain melewati tangga darurat.


Dengan langkah berat, Lion mendekati pintu tersebut. Membukanya perlahan dan mulai memasuki ruangan kecil yang terdapat beberapa lapisan anak tangga di sana.


Lion pun memejamkan sejenak matanya, membuang seluruh rasa takut yang menghantuinya sekarang. Rasa takut itu, kini berperang dengan peringatan sang mommy, bagaikan sebuah film dokumenter.


"Ayolah brengsek! Kamu pasti bisa," makinya kepada dirinya sendiri dan memberikan semangat kepadanya sendiri.


Lion pun dengan kaki gemetar, mulai menapaki kakinya di atas barisan pertama anak tangga, dengan perasaan was-was.


"Aku, pasti bisa," monolognya lirih.


Pria dengan wajah mulai terlihat memucat itu, terus menaiki susunan anak tangga, dengan iringan jantung yang berdebar kencang.


___________________________


Sementara di sebuah kamar rawat VVIP, di salah satu rumah sakit terkenal di kota Los Angeles.


Sosok wanita yang terbaring di ranjang mulai menempati alam sadarnya. Tertanda, sebuah lenguhan halus nan lemah keluar dari mulut wanita itu yang, tangan kirinya di pasangi alat infus.


Wanita itu pun membawa telapak tangan kanannya guna, menghalau pencahayaan. Ia membuka matanya perlahan dan di ikuti desisan perih, ketika merasa tangan sebelah kirinya sakit.


Wanita itu mendekatkan telapak tangannya yang dipasangi infus ke arah wajahnya. Memandangnya dengan tatapan bingung.


Lantas wanita berwajah pucat itu, menengok ke samping, ia dapat melihat sebuah alat kesehatan berdiri di sampingnya dan sebuah cairan makanan yang sedang terpasang di telapak tangannya.


"Hg" leguhannya halus dan lemah wanita bertubuh mungil itu, saat akan mencoba bangkit dari pembaringannya.


"Rumah sakit?" Tanyanya pada dirinya sendiri, ketika menyelesaikan rotasi pandangannya keseluruhan isi ruangan. Dan Indra penciumannya disajikan dengan aroma khas rumah sakit.


"Aku, kenapa?" Monolognya lemas. Ia mencoba membangunkan dirinya yang lemah. Setelah berhasil bangun, ia terduduk dengan posisi punggung bersandar di sandaran ranjang pasien.


"Stt! Sakit," ringisnya, sambil mengarahkan telapak tangannya di area privasinya yang terasa perih.


Badannya pun terasa ngilu dan rapuh. Ia merasa tubuhnya lelah sehabis melakukan aktivitas berat atau menapaki tangga darurat bolak balik.


Lolly mencoba memejamkan kelopak mata indahnya, mengingat kejadian sebelum dirinya berada di ruangan rumah sakit mewah ini.

__ADS_1


Lolly terus memutar kembali memorinya, sebelum ia sadar sedang berada di mana. sembari memijat kedua sisi pelipisnya.


Sekilas kemudian, reaksi Lolly, berubah ketakutan dengan kelopak mata membesar, tubuh mulai gemetar, wajah pias dan tidak terasa keningnya teras berair.


Jantung berdegup kencang, rasa takut dan was-was mulai menyerang dirinya.


Sekelebat bayangan, kekerasan yang menimpanya kemarin malam dan tadi pagi melintas di memori ingatannya.


Seluruh persendiannya kini terasa lemas dan tubuhnya mulia di basahi oleh keringat dingin.


Wanita berwajah ketakutan itu, menarik kedua kakinya dan melipat di depan dada. Tangan yang dipasangi infus itu kini, terlihat bebas dan mengeluarkan cairan merah.


Lolly menarik kasar pergelangan tangannya yang terpasang alat infus, tanpa merasakan rasa sakit lagi, akibat rasa ketakutan yang lebih dominan menguasai jiwa sadarnya.


"Jangan. Lepas, j-jangan sentuh saya," cicit nya ketakutan dengan wajah penuh waspada.


"Tolong lepaskan, saya," racaunya yang mulai tak terkendalikan. Saat bayangan kejadian di ruangan CEO kemarin malam terasa nyata.


Wajah penuh ketakutan itu, tertutup helaian rambut yang terlihat acak-acakan. Penampilannya tampak kacau dengan tetesan cairan merah masih menodai sprei putih ranjang pasien tersebut.


"Tolong! Pekik nya dengan melompat dari atas ranjang.


"Prang!" Semua benda yang berada di samping wanita ketakutan dan histeris itu, berserakan di atas lain.


"Akh!" Sentaknya perih, ketika sebuah pecahan gelas kaca melukai tumit kakinya yang lembab.


"Jangan sentuh saya, tolong lepaskan," pekiknya histeris.


Wanita berpenampilan kacau itu pun berlari ke arah balkon kamar yang tidak tertutup. Dengan meninggalkan jejak merah di tumit kakinya.


Segala perih dan rasa sakit yang dirasakannya kini, tidak berarti baginya, karena terkalahkan oleh rasa khawatir, ketakutan dan was-was.


Tanpa berpikir panjang, wanita dengan setelan pasien itu, menaiki pagar besi pembatas balkon dengan tubuh gemetar ketakutan.


"TOLONG! Teriaknya dengan dada sesak naik turun. Nafas berat tersengal-sengal.


Kini Lolly berdiri di atas tembok pembatas balkon setelah keluar dari besi pembatas. Ia memejamkan matanya dengan kedua tangan terbuka lebar ke samping.


Tidak ada satu orang pun yang menyadarinya, kecuali Lion, yang masih berjuang melewati puluhan anak tangga dengan berperang rasa traumanya.

__ADS_1


Akankah, Lion tepat waktu menyelamatkan Lolly? Disaat wanita itu, berperang dengan pikirannya juga rasa traumanya.


__ADS_2