Emergency Bed Tuan Muda Kato

Emergency Bed Tuan Muda Kato
bab 45


__ADS_3

"Masuklah! Saya, harus melakukan sesuatu sebentar." Lion dan Lolly kini sudah berada di depan gedung perusahaan agensi light Hugo. Dengan kedua tangan mereka masih bertautan. lebih tepatnya, Lion yang tidak melepaskan genggaman tangannya. Yang pada akhirnya, menjadi bahan lirikan terkejut oleh para karyawan lain, yang berpapasan dengan keduanya.


"Ini akan menjadi, topik gunjingan panas mereka, pagi ini," monolog Lolly, yang tidak sengaja bertemu dengan karyawan lain yang terkenal ratu gosip.


"Hey!" Sontak Lion dengan di akhiri kecupan di punggung tangan kecil Lolly yang berada di genggaman tangannya yang besar.


"Ada apa?" Tanya Lion, yang mengikuti pandangan Lolly kesana-kemari.


"OH Tuhan! Tolong hilangkan aku sekarang juga dari hadapan pria, arogan aneh ini," doa dan mohon Lolly dalam hati.


"Baby!" Bisik Lion yang membungkukkan badannya dengan kepala miring, mereka tampak terlihat berciuman apabila terlihat dari arah belakang. Dan … kebetulan, para karyawan yang terkenal geng gosip melintas di belakang kedua pasangan itu.


"OH my God! Apa, yang dilakukan pria arogan bodoh, ini," maki dan teriak Lolly dalam hati.


"Hey! baby. Ada apa," tanya Lion yang mengerutkan dahinya heran. Ia merasa terabaikan, oleh wanita mungil dan berwajah imut di hadapannya. Membuat Lion merasa tidak terima. Apalagi, wanitanya begitu sibuk melihat kesana-kemari. "Apa, dia sedang menunggu seseorang?" Pikir Lion dalam hati, yang menegakkan punggungnya dan ikut menelisik kesana kemari.


Sementara, para karyawan lain berpura-pura biasa saja. Saat melewati tuan muda Kato dan asistennya yang payah pun ceroboh. Padahal, dalam hati mereka dan story sosial media mereka kini saling berteriak kencang, dengan pemandangan mencengangkan yang mereka lihat.


Lolly menyusut tubuh mungilnya di balik dada lebar Lion. Sambil mengintip para karyawan lain yang mulai memasuki perusahaan, dengan tergesa-gesa.


"Astaga, kapan pria ini akan menghilang," teriak Lolly dalam hati.


Wanita itu pun mendongak kepalanya, untuk bisa melihat wajah Lion yang terlihat begitu mempesona dari arah bawah. Meskipun, Lolly hanya dapat melihat dagu pria itu. Di karena kan, Lion masih mengawasi seseorang yang akan bertemu dengan Lolly.


Apalagi, pria itu baru mengingat tentang puluhan buket bunga kemarin. Mood Kasmaran Lion menurun dan berubah menjadi sikap posesif.


Sehingga, mata sipitnya melebar dengan rahang yang secara refleks mengetat, saat… mendengar sapaan suara menawan dari arah belakang mereka. Yang, membuat Lion tidak terima dan menjadi marah, saat mendengar panggilan pria itu kepada wanita mungilnya. "Sweetheart" gumam Lion dengan raut wajah suram dengan kedua tangannya mengepal erat.


Pria sipit itu, masih memunggungi pria yang terlihat, memakai pakaian serba hitam dan sebuah helm mewah dan bermerek bertengger di kepalanya. Menutupi pesona wajah rupawan pria yang memiliki, iris mata grey itu.


Lolly menggerakkan kepalanya untuk bermaksud mengintip sosok yang menyapanya.


Lion pun refleks menundukkan kepalanya, akan pergerakan Lolly di balik dadanya yang bidang.


Lion dapat melihat raut wajah kebingungan Lolly, dan ia merasa lega karena raut wajah wanita mungilnya, seakan tidak mengenali pria tinggi di belakang tubuhnya.


Lion pun mengeluarkan nafas leganya dengan kepala mendongak ke atas langit, dan kedua tangan kekarnya yang berada di dipundak Lolly terlepas.


"Tuan, bermata grey," gumam Lolly yang masih bisa didengar oleh Lion.

__ADS_1


"Tuan, bermata grey," ujarnya lirih dengan alis mata tebalnya terangkat sebelah ke atas.


"Bab …." Seruan Lion terpotong dan tangannya yang ingin kembali merangkul pundak kecil Lolly, terhenti. Saat… wanita mungil itu sudah melesat ke arah pria di belakangnya.


Lion terbengong dengan posisi layaknya memeluk angin semata dan mulutnya, mengeluarkan kata-kata tanpa suara.


Pria bertubuh atletis dan macho itu, membalikkan badannya. Dan … tiba-tiba, suhu tubuh pria itu begitu mendidih. Seakan, mengeluarkan lahar panas di kedua telinganya dan mata sipitnya membola dengan berubah warna merah, layaknya, seorang keturunan drakula yang haus darah.


Bagaimana tidak. Ia menyaksikan sendiri, bagaimana Lolly bersikap begitu akrab dengan pria yang lebih tinggi darinya dan terlihat lebih muda.


Belum lagi, Lolly memamerkan senyum terbaiknya dan berkata-kata dengan suara lembut menggemaskan.


Dengan wajah terlihat suram, Lion, menautkan buku-buku jarinya. sehingga, telapak tangannya terlihat merah dan ruas-ruas kuku jarinya memutih.


"Ini, tidak boleh terjadi. Lolly white hanya, milikku seorang. Tidak! Lolly tidak boleh dimiliki siapapun. TI-TI-K." Monolog Lion yang terus memperlihatkan wajah suramnya yang begitu membara.


Pria keturunan Hugo dan Kato itu pun, berjalan mendekati Lolly dan pria yang wajahnya tertutup helm.


"Cih! Apa-apa dia itu. Apakah, wajahnya buruk? Sehingga, ia menutupinya dengan helm?" Sungut Lion dengan bibir tebalnya yang mencebik sinis.


Siapa yang tahu! Kalau para karyawan wanita dan beberapa pria gemulai yang sejak tadi mengintip di balik pohon hias yang daunnya tampak rindang.


Mereka bersembunyi sambil mencuri. Mencuri melihat, dan mencuri dengar, pembicaraan ketiga sosok wanita mungil yang diperebutkan dengan dua sosok pria bertubuh seksi dan macho. Pria berwajah tampan dan … pria berwajah helm. "What! Bagaimanakah, garis wajah pria di balik helm full face tersebut? Apakah? Lebih sempurna dari tuan muda Kato?" Tulis salah satu karyawan di halaman insta storynya sambil mengambil video siaran langsung, Lolly, tuan muda Kato dan pria berhelm.


"Hey! Darling. Suaraku begitu halus dan lembut. Selembut segitiga warning yang aku pakai," sahut pria itu dengan nada bicaranya yang khas.


"Diamlah, Sammy." Hardik temannya yang lain dengan nada tertahan. Sehingga gigi wanita itu saling bergesekan.


"Sanny, nona. Nama saya Sanny. S-A-N-N-Y." proses pria gemulai itu lagi sambil mengeja namanya dengan nada suara sensual di sengaja.


"Sammy! STOP!" Pekik salah satu dari mereka.


Refleks wanita lainnya membungkam mulut teman mereka itu.


"Apa kamu gila! Kamu, ingin kita dipecat oleh tuan muda," geram wanita berpenampilan rapi dengan kacamata bening.


Kelima temannya menggeleng bersamaan dan kembali memfokuskan kedua bola mata dan kedua telinga mereka.


__ADS_1



"Please! Biarkan, saya bicara sebentar dengannya, tuan." Terdengar perkataan memohon, wanita bertubuh mungil di antara dua sosok pria tinggi menjulang di kedua sisi tubuhnya.



"Tidak! Tidak boleh. Apa kamu tidak melihat angka di jarum, pendek jam tangan kamu?" Protes Lion, sambil mulai menarik tangan Lolly untuk memasuki halaman luas perusahaan agensi light Hugo.



Tiba-tiba, pergelangan tangan kokoh lainnya, menahan pergelangan tangan mungil Lolly. Dan menatap tidak suka ke arah Lion.



"Hey, bro. Anda menyakitinya," sela pria bermata grey itu.



"Lepas!" Sentak Lion kasar, melepaskan genggaman tangan pria itu di telapak tangan mungil Lolly-nya.



"Hey! Anda siapa." Pria berhelm tersebut berseru tak kalah sengitnya.



"Saya?! Tanya Lion sambil menunjuk hidungnya.



"Iya, anda." Sahut pria dia balik helm itu sinis.



Sedangkan Lolly hanya bisa menggerakkan kepalanya kesana kemari dengan kebingungan dan kesal. Kepalanya pun terasa pegal akibat mendongak, agar bisa melihat wajah para pria di kedua sisinya.



"OH TUHAN! HONEY, BABY, DARLING, SWEETY. I MISS YOU!"

__ADS_1



"HAH?!


__ADS_2