Emergency Bed Tuan Muda Kato

Emergency Bed Tuan Muda Kato
bab 42


__ADS_3

"Menjauhlah!" Pinta Lolly yang wajahnya berubah gugup.


Tapi pria tampan di depannya hanya menulikan ucapan Lolly dan terus mendekati wanita itu.


"Apa, yang anda inginkan," Sentak Lolly yang berusaha menatap Lion sengit.


Lion masih tidak menjawab. Pria itu terus mendekat, dengan senyum miring.


Lolly membuang pandangannya ke arah samping. Saat jarak keduanya sangat begitu dekat. Lion bahkan menyeringai saat — mendengar degupan jantung Lolly.


"Saya, mohon menjauhlah," pinta Lolly lirih dengan nada gugup.


Wanita itu kini beringsut tubuh mungilnya di dinding dan Lion menjulang tinggi di depannya. Dagu pria itu bahkan kini menyentuh puncak kepala Lolly, yang terus menundukkan wajahnya.


Lion menundukkan sedikit wajahnya dan mendekat, ke telinga Lolly. Dan — membisikkan sesuatu yang membuat rambut-rambut halus di tengkuk Lolly meremang dengan sapuan nafas hangat Lion.


"Saya, suka wajah marah mu," bisik Lion yang tubuh kekarnya menyudutkan tubuh mungil Lolly.


Lolly hanya bisa menahan nafasnya, yang tiba-tiba terasa berat dan sesak.


"Bernafas lah," bisik Lion kembali, kali ini di atas puncak kepala Lolly.


Lolly pun refleks menghembuskan nafas leganya dan entah mendapatkan keberanian dari mana, sehingga mampu mendongakkan wajahnya, menatap wajah rupawan Lion yang secara kebetulan pun menatapnya dalam.


"Cup" entah sengaja atau terbawa suasana, Lion tiba-tiba mengecup bibir mungil Lolly yang kebetulan terbuka. Tentu, saja tubuh Lolly membatu dengan raut wajah terkejut. Lion bahkan menggunakan kesempatan itu, untuk — menyesap bibir lembut Lolly sebentar.


"Manis, saya menyukainya," bisik Lion di atas bibir merekah Lolly yang, masih bergeming dengan raut wajah pias dan linglung.


Setelah berbisik, Lion menjauhkan tubuhnya dari Lolly, sebelum melangkah ke dalam kamar, Lion mengacak rambut panjang wanita itu, dan segera berjalan kedalam kamar.


Sedangkan Lolly, setelah melihat Lion memasuki kamarnya. Tubuhnya tiba-tiba merosot ke lantai. Nyatanya, tubuhnya masih merasakan ketakutan dan trauma itu masih ada.


Lolly segera berdiri dan berjalan dengan tergesa-gesa ke dalam kamarnya. Lolly meraih, botol obat yang berada di laci nakas. Lolly menelan pil penenang dua butir sekaligus. Setelah meminumnya, Lolly terduduk di pinggir ranjangnya. Mengatur nafas sambil menyeka keringat dingin yang sudah membasahi kening turun ke wajahnya sejak tadi.


"Tuhan! Semoga aku, kuat," doa-nya dalam hati.


_______

__ADS_1


Sementara Lion tersenyum sendiri di dalam kamar, sambil memegangi bibirnya yang masih terasa lembutnya bibir mungil Lolly. Pria itu membuka kaos polos yang ia kenakan dan memamerkan punggung lebarnya yang seksi. Lion, menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang yang sudah diganti dengan baru dan lebih besar. Tentu saja, lebih nyaman untuk tubuhnya.


Pria dengan rambut panjang menutupi telinga itu, terus tersenyum aneh. Ia, terlihat layaknya remaja yang sedang merasakan jatuh cinta.


Lion menempatkan sebelah tangannya di bawah kepala dan menjadi bantal, ia masih menatap langit-langit kamar dengan senyum tampannya yang menawan. Wajah gugup Lolly terus melintas di memorinya. Tidak hentinya Lion menggigit bibir bawahnya. Ketika, mengingat rasa lembut bibir wanita itu.


"Rasanya, begitu legit," gumam Lion lirih.


"Aku, menyukainya dan merasa menginginkannya, lagi." Kembali Lion berkata lirih.


"Astaga, aku kenapa?" Lion terkekeh, menyadari tingkah tidak biasanya.


"Dia, milikku. Yah! Lolly white hanya milikku. Milik, Lion Light Kato," monolog Lion dengan tatapan lekat terus tertuju kepada langit-langit kamar.


________


Malam pun tiba. Keadaan rumah sederhana Lolly kini tampak berbeda. Terutama di dapur sederhananya.


Terlihat, sosok laki-laki tampan dengan tubuh tegak atletisnya sedang sibuk di depan kompor.


Pria yang rambutnya di jepit di kedua sisi di dekat telinga dan di jepit di tengah kepala. Mengenakan, kaos polos hitam tanpa lengan, dengan bawahan celana pendek selutut, kaos kaki putih menutupi tumit kakinya dan lutut kakinya di biarkan terbuka, yang terdapat helaian rambut halus yang cukup tebal.


Senyuman manis terus Lion munculkan di bibir tebalnya yang menggoda, saat menghiasi sebuah dessert yang terbuat dari dasar coklat. Lion sangat, yakin kalau Lolly pasti, menyukai masakannya. Apalagi makanan penutup yang ia buat spesial untuk wanita bertubuh mungil itu.


"Tuan!" Seru suara terkejut dari arah belakang.


Lion memutar kepalanya kebelakang dan sebuah senyum ramah terpatri di bibirnya.


"Hey! Selamat malam," sapa Lion dengan mengucapkan selamat malam dengan intonasi suara lembut.


Gadis dengan piyama lucu itu, terdiam sejenak dengan ekspresi wajah terkejut. "Mau, heran. Tapi … ini tuan muda Kato," gumam Luzi pelan.


"H-hey! S-selamat malam juga, tuan," balas Luzi sedikit canggung.


"Kemarilah!" Suruh Lion, kepada Luzi yang masih terdiam di dekat meja makan.


"S-saya?! Tanya gadis itu ragu dan terbata. Gadis berwajah manis itu menoleh ke sekitar dan hanya mendapati dirinya dan tuan muda Kato.

__ADS_1


"Iya, kamu," sentak Lion tanpa melihat Luzi yang masih syok. Dengan jari telunjuk kirinya masih menunjuk wajahnya sendiri.


"Come on, little girl!" Seru Lion sekali lagi dengan mengedikkan kepalanya.


Luzi pun dengan perasaan bingung dan juga ragu, mendekati Lion yang sedang mengaduk sesuatu. Tak, lupa. Luzi juga beberapa kali menoleh ke belakang. Takut sang kakak, tiba-tiba muncul dan memberikan peringatan.


"Coba, cicipi." Lion mengarahkan sebuah sendok makan ke arah wajah Luzi yang tampak tercengang.


"Ayo! Cicipi. Dan … berikan saya masukan tentang rasanya," seloroh Lion antusias.


Luzi pun membuka mulut mungilnya dan mencoba merasai makanan penutup yang sedang Lion sibukkan.


Luzi pun mencoba melunakkan dessert lembut itu di Indra perasa nya dengan serius, sambil menatap Lion yang begitu, mendamba sebuah komentar.


"Bagaimana?" Tanya Lion tidak sabar.


"Enak! Sangat enak. Ini, seperti dessert restoran terkenal." Luzi menjawab dengan wajah berbinar. Ia ingin menyendokkan sekali lagi dessert itu ke mulutnya. Tapi, segera Lion, mencegah gadis mungil di depannya.


"Ini, bukan untuk kamu. Ini, spesial buat …." Lion berucap dengan wajah senang dan sengaja menggantung ucapannya.


Luzi pun terlihat penasaran dan heran. "Buat, siapa?" Tanya Luzi.


Lion hanya tersenyum, menanggapi pertanyaan Luzi. Pria itu, lalu mengacak rambut kepang Luzi. Membuat gadis itu, mengerucutkan bibirnya.


"Bantu saya, menyiapkan ini semua di meja makan," pinta Lion yang mana sibuk memindahkan berbagai macam makanan.


Luzi melebarkan matanya, melihat, menu masakan yang disiapkan Lion. "Anda, yang memasak ini semua?" Tanya Luzi dengan wajah berbinar.


"Hm! Ini, spesial buat kita malam ini," timpal Lion, sambil menatap menu masakan itu di atas meja makan minimalis.


"Apakah, anda berulang tahun?" Tanya Luzi lagi yang menyerahkan sesuatu menu masakan kepada Lion.


"Tidak!" Jawab singkat pria itu.


"Lalu?! Luzi masih terlihat begitu penasaran dengan perkataan ambigu tuan muda Kato ini.


"Aneh! Apakah, kepalanya habis terbentur sesuatu?"

__ADS_1


Luzi masih menatap dengan sangat lekat,. Lion yang begitu serius menata beberapa jenis menu makan malam yang pria itu masak. Tidak — lupa, pria itu juga meletakkan sebuah dessert cantik di salah satu kursi makan dengan wajah penuh harap.


"Apa, itu buat kakak?"


__ADS_2