
Masih di tengah suasana hati penyesalan, Lion kini terduduk di lantai marmer rumah sakit dengan punggung kekarnya bersandar di kaca tebal tersebut. Ia melipat kakinya di depan dada, kepala yang menatap langit-langit koridor rumah sakit.
Tarik ulur nafas berat, tidak hentinya terdengar di hidung dan mulut pria itu.
Penampilannya pun kini tidak seperti tuan muda lagi. Kemeja yang tadinya rapi, bersih. Kini lusuh dan kotor. Namun masih terlihat kilau ketampanannya yang, di tutupin noda kotor dan luka memar.
Rambut yang tadinya tertata rapi, kini, terlihat lepek dan berminyak. Jejak pemedo yang ia gunakan pun, keringat yang membuat rambut berharganya itu, kini, terlihat tak berbentuk lagi.
Beberapa perawat yang bertugas malam, berlalu lalang di depannya hanya menatapnya sinis dan aneh.
Mereka berpikir, kenapa seorang pria lusuh sepertinya ada di rumah sakit terkenal ini." Untung ia memiliki wajah tampan," gumam seorang perawat wanita yang tidak mengenali sosok tuan muda Kato.
Perawat itu berlalu dari hadapan Lion dengan tatapan remeh dengan mata mendelik sinis.
"Ingin sok bergaya berobat di sini. Padahal tidak memiliki uang." Celetuk perawat tersebut sinis.
Lion menulikan cibiran perawat wanita itu, pikirannya kini hanya diisi penyesalan akan perbuatan terlarangnya, kepada seorang wanita malang.
Pria dengan penampilan berantakan itu, menolehkan kepala ke arah dalam kamar. Di mana Lolly sudah tertidur dengan pulas. Kedua adiknya senantiasa menjaga, dalam kesedihan.
"Tuan muda!" Sapaan suara berat, mengejutkan pria itu.
Dia mengalihkan pandangannya dan mendongak ke atas, membalas sapaan pria yang ia — kenal adalah, orang suruhan sang mommy.
Lion berdiri dengan tatapan menelisik kepada pria yang, seusia sang daddy.
Dengan tatapan bingung Lion bertanya kepada orang suruhan mommynya itu. "Ada apa?" Tanyanya sambil memandangi tas besar yang berada di genggaman pria tersebut.
Pria berwajah datar itu pun, menyerahkan tas pakaian yang ia pegang kepada Lion.
"Titipan, nyonya, tuan muda," jawab yang masih menahan tas tersebut, yang bergantung di udara.
Lion masih menatap tas tersebut dengan pandangan bingung. Sembari menatap pria setengah baya di depannya, untuk meminta penjelasan.
Lion pun masih bergumam bingung. " Mommy, titipan?" Gumam Lion dengan pertanyaan.
Pria di depan Lion hanya mengangguk dengan wajah datarnya dan memaksa Lion mengambil tas tersebut.
__ADS_1
"Di dalamnya adalah, pakaian milik anda. Nyonya, berpesan. Anda tidak akan memiliki kemewahan sedikitpun. Anda, harus berjuang sendiri untuk hidup anda dalam jangkau tidak dapat ditentukan." Jelas pria itu dengan aura ketegasan.
Lion hanya bisa melebarkan pupil matanya dengan mulut terbuka syok. Dengan berat hati dan tangan yang terkulai lemas, meraih tas tersebut.
Lion menatap penuh hibah orang setia mommynya ini, dan mengeluar sekali lagi pertanyaan.
"Apa aku tidak memiliki satu kesempatan, saja? Dan, memiliki sedikit pegangan. setidaknya, tempat untuk aku tinggal?" Tanyanya dengan lesu.
Pria berwajah datar itu, hanya diam. Dan, meninggalkan Lion setelah, memberikan penghormatan kepada tuan mudanya itu. dengan, membungkukkan setengah badannya.
Lion menatap nanar punggung pria itu, yang sudah melangkah jauh dari jaraknya.
Lion kini hanya bisa menghela nafas frustasi sambil menatap tas pakaian yang sekarang berpindah di genggamannya.
Dengan wajah kacau, pria itu melemparkan kasar tas pakaian tersebut di atas kursi tunggu di depan kamar rawat Lolly.
Ia membolak-balikkan tubuhnya sambil kedua tangannya berada di pinggang.
Berpikir keras untuk bisa bertahan hidup sendiri tanpa embel-embel marga besar keluarganya.
Pria bertubuh tinggi kekar itu, mengeluarkan ponselnya di dalam saku celananya dan mencoba meminta bantuan kepada beberapa sahabat karibnya.
Mereka beralasan, kalau, mommynya sudah memberikan ultimatum kepada sahabat-sahabat itu, untuk, tidak memberikan bantuan sedikitpun.
"Akh, Sial. Kenapa, mommy begitu tega," lirihnya frustasi sambil menjatuhkan dirinya kasar di atas kursi tunggu.
"Mommy!" Erangnya tertahan.
"Begitu, kecewa kah, mommy kepadaku? Sehingga, mommy tega menelantarkan putra satu-satu mu ini," gumamnya gelisah.
Lion terlihat mencoba menggapai sesuatu di saku belakang celananya. Ia mengeluarkan dompet bermerek terkenal berwarna hitam. Ia lalu, membukanya, melihat penghuni lembaran dollar dan kartu-kartu di dalam dompetnya.
Lion bisa bernapas lega, ternyata masih ada beberapa lembar dolar di dalam dompet mahalnya itu.
Mungkin ia bisa bertahan hidup selama beberapa Minggu kedepan. Menyewa sebuah rumah, dan membeli makanan untuknya.
"Syukurlah. Setidaknya ini cukup untuk memenuhi kebutuhan ku," gumamnya pelan, sambil memasukkan kembali dompet dan ponselnya.
__ADS_1
"Ck!" Tiba-tiba terdengar suara decakan di sampingnya.
Lion mendongak dan berpaling ke arah samping. Ia dapat melihat tatapan remeh adik Lolly di sana. Dan, juga seringai mengejek gadis itu.
Lion pun tidak mengindahkannya, ia kini memeriksa isi tas pakaiannya, ia merasa perlu membersihkan tubuhnya yang lengket.
Ia ingin menyewa satu kamar hotel di seberang sana, tapi… ia mencoba membuang jauh pikirannya itu.
Ia tidak punya banyak simpanan untuk itu semua, ia harus menghemat mulai sekarang.
Sebuah kebiasaan baru yang tidak pernah ia lakukan sepanjang hidupnya.
Ia yang dulu hanya bisa mengeluarkan uang tanpa risau atau khawatir.
Dengan mudahnya ia akan mendapatkan sesuatu hanya, dengan menggunakan satu kartu saja.
Namun… kali ini, ceritanya sudah berbeda. Ia harus menghemat pengeluarannya. Meskipun kartu-kartunya masih lengkap tapi, sudah dipastikan semuanya pasti sudah dibekukan.
Lion hanyut dalam lamunannya, tanpa menghiraukan keberadaan Liza yang masih memandangnya remeh.
"Kenapa, tidak anda jual saja barang-barang berharga, anda," Seloroh Liza dengan bibir mencibir jengah.
Lion merespon ujaran gadis di sampingnya dengan dahi mengerut. " Apa, maksud, kamu?" Tanyanya bingung.
"Menjual ponsel dan dompet, anda," sahut Liza sekenanya. " Harganya pasti tidak jauh dari harga, baru," sambung Liza tidak acuh.
Lion mengetatkan rahangnya dan memberikan tatapan tidak suka kepada gadis di sampingnya itu.
"Aku, bukan manusia sehina dan serendah itu, untuk menjual barang yang sudah aku miliki," ketus Lion dingin.
"Ck! Sombong. Ingat. Anda sudah terbuang tuan. Sekarang, anda bukan tuan muda lagi. Anda, bukan lain adalah, seorang pecundang, brengsek," maki Liza emosi dan meninggalkan pria itu.
Lion hanya bisa menahan amarahnya, memilih tajam punggung ramping Liza yang berjalan ke arah pintu lift.
Apa begini rasanya dihina dan direndahkan? Karena tidak memiliki status sosial tinggi dan kedudukan?
pada kenyataannya dia, selalu dihormati dan disanjung dengan embel-embel keturunan dari keluarga konglomerat terkenal.
__ADS_1
Baru kali ini ia dipandang remeh oleh orang-orang. Belum cukup sehari ia melepaskan status mewahnya. Bagaimana dengan hari-hari berikutnya. Dapatkah dia bertahan?
"Entahlah!"