
Pria bermata sipit, itu kini merasa di atas angin. Ketika melihat wajah cemburu istrinya, kepada suster wanita berwajah cantik yang terus menatapnya — tadi.
Pria berwajah rupawan itu, terlihat terus menahan tawanya, dengan menyembunyikan wajah tampannya itu di balik jas yang ia kenakan.
Sedangkan, di sana. Di ranjang pasien, Lolly terus bersungut-sungut dengan tatapan tidak bersahabat ditujukan kepada suster cantik yang berwajah bingung.
Sedangkan kedua adiknya hanya bisa melongo tak percaya melihat, perubahan mood sang kakak. Apakah, ini yang dinamakan, mood seorang ibu hamil?" Begitulah, isi pikiran kedua adik Lolly.
"Anda, sudah selesai bukan? Jadi …sekarang anda keluarlah!" Cetus Lolly dengan wajah ketus.
Perawan itu mengangguk patuh, dan berpura-pura memeriksa alat infus yang bersarang di tangan kiri Lolly, sambil mencuri pandang kepada Lion yang sejak tadi berpura-pura, tidak mengetahui apa-apa.
Pria itu dengan usilnya, membuka jas mahal yang membungkus tubuh idealnya itu, dan sengaja, membuka tiga kancing kemejanya. Memamerkan, dada bidang seksinya.
Membuat sang perawat tersebut menggigit bibir bawahnya dengan wajah menggoda kepada Lion.
Lolly yang merasa diabaikan, menoleh ke samping dan ia dapat melihat jelas, tatapan mendamba suster tersebut, kepada suaminya, yang terlihat menggoda dengan kemeja berwarna hitam pekat, kancing kemejanya yang terbuka tiga dan lengan kemeja yang digulung hingga siku, menambah kesan hot full, sang suami.
Wajah ibu hamil itu pun, berubah semakin berang. Matanya pun melotot lucu kepada sang suami, yang berpura-pura sibuk dengan iPad di tangannya.
Lolly menetralisir, rasa marahnya dengan menarik nafas, dan membuangnya. Wanita berwajah imut itu pun melakukannya berkali-kali. Sampai, ia menemukan ide cemerlang.
Luzi dan Liza masih terdiam, dengan ekspresi wajah berbeda. Liza dengan raut wajah cueknya. Sedangkan, Luzi dengan raut wajah lugunya.
Lolly merubah posisi duduknya, menjadi lebih elegan. Dengan bersandar di belakang ranjang. Ia membenahi pakaiannya dan juga rambutnya.
__ADS_1
Lolly juga melirik kepada adik kecilnya, untuk, mengambil alat make up miliknya di dalam tas.
Luzi segera melaksanakan perintah sang kakak, dan memberikan, sebuah tas kecil berisi alat make up.
Wanita itu, dengan cekatannya, membubuhi wajahnya dengan bedak dan juga lipstik di bibir mungilnya.
Setelah selesai, Lolly membuka beberapa kancing baju pasien yang ia kenakan. Rambutnya yang panjang lembut, dibiarkan terurai.
"Ehem!" Wanita, berwajah imut itu berdehem sebentar. Guna memancing perhatian sang suami. Tapi sayang, Lion masih pada perannya yang, berpura-pura sibuk.
"S-sayang!" Panggil Lolly dengan nada berat terbata, wajahnya pun terlihat di paksakan setenang mungkin. Padahal, jantung wanita itu kini berdetak kencang.
Lion yang mendengar ucapan istrinya, tiba-tiba terbatuk-batuk dan iPad di tangannya terlepas. Ia pun memalingkan wajahnya ke arah sang istri dengan mulut menganga dan mata berkedip-kedip tidak percaya.
Sementara kedua adik Lolly, pun sama. Terkejut dan melongo. Melihat sifat tidak biasa sang kakak.
"Apa, karena efek kehamilan?" Cicit Luzi.
"K-kau memanggilku, baby?" Lion menjawab panggilan istrinya dengan wajah masih tidak percaya dan ucapan yang terbata gugup.
"Apakah, kamu ingin aku memanggil pria lain, Sayang?" Timpal Lolly dengan wajah menahan rasa kesalnya dengan tersenyum manja kepada Lion.
"Kemarilah, honey!" Pinta Lolly manja.
Lagi-lagi, membuat, Lion, Luzi dan Liza tercengang dengan wajah melongo tak percaya.
__ADS_1
Terlebih Lion, yang masih bergeming di tempatnya, dengan wajah begitu menggemaskan.
"Kemarilah, singa jantan seksiku," pinta Lolly sekali lagi, sambil melirik tajam suster di sampingnya.
"Kemarilah!" Sekali lagi Lolly meminta, kali ini dengan nada geram tertahan.
"Honey!" Rengek Lolly manja yang terlihat natural, tidak terkesan di buat-buat.
"Ah, i-iya," sahut Lion gugup, sambil berjalan perlahan menuju sang istri.
"Cepatlah!" Rengek Lolly kembali.
Lion pun segera berjalan mendekati istrinya itu. Dengan wajah bingung, Lion berdiri di samping istri mungilnya. Lion pun melirik kedua adik Lolly, yang bersamaan mengangkat pundak keduanya.
"Peluk, aku!" Seru Lolly, yang sekali lagi membuat Lion melebarkan kedua kelopak mata sipitnya.
"P-peluk?! Lion membeo melongo.
"Cepatlah, peluk aku. OH, aku merindukan pelukanmu," Seloroh Lolly. Sambil menyentakkan sebelah tangan suaminya dan meraih ceruk leher Lion. Membawa, kepada suaminya di atas dadanya yang terdapat, dua benda kenyal dan padat.
"Haruskah, aku merasa beruntung dan merasa dirugikan?" Batin Lion.
Bagaimana tidak, ia merasa bahagia saat mendengar suara manja sang istri dan rengekan lembut istrinya, yang tiba-tiba membuat, benda pusaka keramatnya tersentil.
Apalagi, saat wajahnya berada tepat di atas dua gundukan istri mungilnya, yang terasa menyenangkan.
__ADS_1
Merasa dirugikan, karena pria itu tidak dapat menikmati sesuatu yang menjadi impiannya selama ini. Apabila berada di dekat wanitanya.