
"Makanlah, tuan. Anda pasti, belum mengisi perut anda, sejak pagi." Gadis bertubuh mungil itu, menyodorkan sebuah bungkusan makanan cepat saji kepada, pria yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Pria itu, terpaksa menurunkan egonya hanya untuk, membersihkan tubuhnya yang sangat lengket di kamar mandi pasien yang ditempati Lolly.
Ia terpaksa menghibah kepada adik kecil Lolly, karena kondisi tubuhnya sangat lah tidak baik. Apalagi ia terus menahan sesuatu yang membuat perutnya tidak nyaman.
Beruntung, adik kecil Lolly adalah, gadis baik hati dan pengertian. Ia memberikan izin kepada Lion dengan disertai senyuman ramah.
Sangat jauh berbeda dengan sifat adik Lolly yang satu itu, yang terus memberikan cibiran kepadanya.
Dengan penampilan segar dan tubuh berototnya kini dibalut dengan setelan sederhana. Kaos polos berwarna hitam dan bawah celana santai berwarna hitam juga.
Rambutnya kini terlihat lembab, dan wajah tampak segar. Lion masih menatap lekat tangan Luzi yang masih menggantung di udara ruangan itu.
Lebih tepatnya, Lion menatap lekat dan enggan yang ada di genggaman gadis tersebut.
Makan cepat saji adalah, satu hal yang sangat dihindari oleh Lion sejak dulu. Ia, sangat membenci yang namanya, makanan cepat saji. Menurutnya, makanan tersebut mengandung banyak, bahaya buat kesehatan.
Namun, isyarat ruangan perutnya berkata lain. Sejak tadi perutnya berbunyi memalukan.
"Ambillah!" Ujar Luzi lembut.
Lion masih menatap tajam bingkisan makanan itu dan detik, berikutnya ia meraih juga bingkisan makanan cepat saji tersebut, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Pria dengan penampilan berbeda itu, masih menatap makanan cepat saji yang berada di tangannya.
Gadis semampai yang duduk di sofa mendelik ke arahnya dan melayangkan ucapan menohok kepada tuan muda Kato.
"Ck! Tidak perlu merasa spesial tuan! Anda, bukan siapa-siapa sekarang ini," timpal Liza sinis. Jangan lupa wajah gadis itu sangat jengah kepada Lion.
Lion lagi-lagi hanya bisa terdiam, dengan ekspresi wajah datar. Ia, lantas berjalan ke arah pintu dan keluar dari kamar rawat Lolly.
"Cih! Dasar, pria arogan yang tidak tahu hutang budi," kesal Liza.
Luzi hanya bisa menggelengkan kepalanya dan kembali ke sisi sang kakak tertua yang terlelap. Berulang kali, terdengar racau Lolly dalam tidurnya.
Juga gerakan tubuh yang seakan ketakutan, membuatnya sulit untuk di tinggal sendiri, meskipun hanya sebentar saja.
Sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa tunggal di samping sang kakak, Luzi memberikan wejangan kepada kakak keduanya itu.
__ADS_1
"Kakak, tidak boleh terlalu sinis kepadanya. Bagaimanapun, dia tetap tuan muda," Seloroh Luzi sambil membenarkan letak selimut kakak tertuanya.
Liza merespon ucapan adiknya dengan wajah tidak setuju dan ia pun melayangkan protes.
"Kenapa kamu, begitu membelanya? Apa, kamu lupa apa yang sudah ia lakukan kepada, saudari kita?" Pungkas Liza mendekati kedua saudara perempuannya.
Luzi hanya menampilkan senyum santainya yang sekarang duduk dengan genggaman tangan tidak lepas dari, telapak tangan dingin sang kakak tertua.
"Kita, tetap harus menghormatinya. Meskipun ia terlepas dari marganya, ia tetap darah daging seorang Kato. Keluarganya pasti, tidak akan bisa menerima hinaan, seseorang kepada anggota keluarga mereka," jelas Luzi yang pikirannya selalu santai dan dewasa.
Liza hanya menampilkan wajah jengahnya dan berpaling dari kedua saudara perempuannya. Gadis cantik dengan rambut pirang itu, lebih memilih merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang.
Baginya, ia butuh istirahat dan menyegarkan otak juga pikirannya. Ia terlalu, malas membahas hal berhubungan dengan pria pecundang itu.
Luzi pun hanya bisa mengangkat kedua bahunya tidak acuh, melihat sikap kesal kakak keduanya.
Gadis dengan wajah manis dan imut itu, kembali memfokuskan perhatiannya kepada kakak tertuanya yang, terus mengeluarkan racauan ketakutan.
Gadis bertubuh mungil itu pun, memberikan sentuhan menenangkan dengan mengelus lembut puncak kepala sang, kakak — dan terus berbisik di telinga kakaknya.
______
Pria berwajah rupawan itu kini, telah menikmati makan cepat saji yang ada di tangan kanannya.
Meskipun awal mengunyah makanan itu begitu aneh dan begitu sulit untuk dia menelan makanan tersebut. Namun, panggilan dari alam perutnya memaksanya mencoba untuk terbiasa dengan jenis makanan yang selalu ia hindari.
Meskipun tampil makanan tersebut sangat, menggugah selera, tapi… kembali lagi kepada pola hidup sehat keluarganya yang sangat anti makanan cepat saji.
Indra perasa Lion kini sudah mulai menikmati kunyahan demi kunyahan makan tersebut. Sambil sesekali menyesap minuman berwarna coklat di tangan kirinya.
Demi menjalin hidup berlangsung lama, Lion harus membiasakan dirinya untuk menerima hal-hal yang ia hina dulu. Entah itu, makanan, minuman, lingkungan dan status sosial rendah orang-orang yang sering diremehkan.
Lion pun menghabiskan satu porsi burger dan juga minum yang diberikan oleh adik Lolly. Kini dirinya bisa bernafas lega dan tenaga. Karena perutnya telah terisi sesuatu yang baru.
Meskipun berat untuk menghabiskannya, Lion tetap memaksa kehendaknya untuk menghabiskan roti yang memiliki lapisan daging dan sayuran di tengahnya dan juga minum bersoda yang menurutnya rasanya begitu aneh.
Pria bertubuh tinggi kekar itu berdiri dari duduknya dan mendekati kaca besar yang dapat, menembus pandangannya ke arah, adik - kakak yang ada di ranjang.
Ia berdecak, saat netra coklat terangnya menyaksikan gadis di samping Lolly sedang, menahan rasa ngantuk.
__ADS_1
Pria dengan kaki panjang itu pun lantas, memasuki kamar dengan membuka pintu secara perlahan dan hati-hati.
Ia mendekati arah ranjang dan membuat, gadis yang menahan rasa ngantuk itu terkejut.
"Istirahatlah!" Seru Lion dengan intonasi suara berat, meskipun ia sedang berbisik.
Luzi pun merespon seruan Lion dengan wajah kaget dan ragu.
"Tidak, mengapa tuan," tolaknya lembut.
"Istirahatlah. bukankah, kamu harus bersekolah besok pagi?" Ucap Lion yang masih menampilkan wajah datar dan suara berbisik.
Luzi pun terlihat membenarkan ucapan Lion dengan bergerak gelisah.
"Beristirahat lah. Biar saya yang menjaganya," timpal Lion kembali.
"T-tapi — " lirih Luzi ragu.
"Tenang, saya akan mengawasinya dari sana," sahutnya sambil mengarahkan tatapannya ke arah kursi yang berada di sudut kamar.
Luzi masih berpikir dan menelisik wajah Lion. Bagaimanapun, ia masih meragukan pria tampan di depannya ini.
"Percayalah, saya tidak akan, berlaku macam-macam kepadanya. Apa, anda lupa? Kalau saya dalam masa hukuman keluarga saya, untuk menjaga wanita ini." Lion mencoba menyakinkan gadis mungil di hadapannya.
Luzi pun akhirnya mengalah dan memberikan kepercayaan kepada pria yang sudah membuat sang kakak berada di rumah sakit.
Gadis itu segera beranjak dan membaringkan tubuh mungilnya di sofa panjang di sebelah saudari satunya yang, sudah terlelap dengan nyenyak.
Lion sendiri, menatap sebentar wanita yang terbaring di ranjang pasien dengan pandangan sulit terbaca.
Ia menatap lekat wajah pucat dan sembab wanita yang sudah ia hancurkan hidupnya.
Tangan kanannya kini tergantung di depan wajah Lolly, yang bermaksud menyingkirkan helaian rambut wanita itu.
Tapi, pria arogan itu membuang jauh niatnya dan berlalu dari sisi Lolly, berjalan mendekati sudut kamar. Duduk di kursi besi dan menyandarkan kepalanya ke tembok.
Pandangannya tidak lepas dari tubuh mungil, wanita yang ada di atas ranjang. Bayang-bayang, perlakuannya kemarin malam kini muncul kembali di ingatannya, membuat dirinya merasakan rasa bersalah.
"Maaf!" Gumamnya yang ditujukan kepada Lolly.
__ADS_1