Emergency Bed Tuan Muda Kato

Emergency Bed Tuan Muda Kato
bab 29


__ADS_3

"Ada apa?" Pertanyaan terucap dari mulut wanita cantik yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Ia masih melayangkan tatapan penuh tanda tanya kepada, seorang gadis belia yang, berada di depan pintu balkon kamar VVIP rumah sakit.


"Katakan!" Suruhnya dengan nada tegas, ketika melihat sang adik hanya bungkam, namun ekspresi wajahnya terlihat khawatir.


"Luzi!" Gertaknya tertahan.


Gadis dengan wajah imut dan manis itu pun menceritakan masalah yang membuatnya khawatir di pagi ini.


"Pihak sekolah … memberikan, ini," sahutnya ragu dan memperlihatkan sebuah amplop putih kepada wanita semampai di depannya.


Luzi pun meraih amplop putih yang di perlihatkan adiknya dengan, kening mengkerut penasaran. Ia membolak-balikkan amplop tersebut dan membaca stempel yang terdapat di amplop putih itu dan bergantian menatap sang adik dengan ekspresi bingung.


"Kamu, memiliki masalah dengan pihak sekolah?" Tanyanya yang masih memperlihatkan raut penasaran.


"Bacalah," jawab gadis manis itu lirih. Dan beranjak duduk di sofa dengan wajah sendu.


Liza mengikuti sang adik duduk di sofa sambil, membuka amplop tersebut dan mulai membaca isi amplop itu.


Liza terdiam dengan wajah serius membaca selembar kertas yang ada di dalam amplop putih itu, terkadang matanya menyipit, sehingga alis matanya terlihat mengkerut tajam, ia sesekali melirik adiknya yang terdengar mengeluarkan nafas berat.


"Berapa, yang kamu butuhkan?" Tanyanya setelah membaca lembaran kertas itu. Kini, ia menatap adiknya yang masih diam.


"Luzi!" Sentaknya, setengah membentak.


"T-tiga ratus dollar," sahut gadis itu terbata.


Liza terlihat tersentak, saat mendengar penuturan sang adik. Dari Mana, mereka memperoleh uang sebanyak itu.


"Bagaimana, kalau kamu tidak dapat membayarnya?" Tanya Liza kembali, yang kini menggenggam kuat kertas yang tertulis surat peringatan, untuk sang adik yang akan membayar uang sekolah yang akan jatuh tempo.


"Seperti yang tertulis di kertas itu! aku akan dikeluarkan dari, sekolah," jawab Luzi lirih.


Liza meraih pundak mungil sang adik dan merangkulnya penuh kasih sayang. Menatap ke depan seakan memikirkan sesuatu.


"Tenanglah! Aku pasti akan mendapatkan uang itu, secepatnya." Tiba-tiba, Liza berseru yakin kepada sang adik.


Luzi, melepaskan lembut rangkulan sang kakak dan memicingkan matanya.


Liza yang melihat tatapan curiga sang adik, hanya bisa membuang pandangannya ke arah, ranjang pasien di mana kakak tertua mereka terlelap.


"Minta lah, waktu sedikit lagi dari pihak sekolah," timpal Liza tanpa menatap wajah sang adik.


"Aku akan berusaha mendapatkannya," lanjutnya sambil tersenyum yakin kepada sang adik.


Luzi masih melayangkan tatapan ragu dan penuh curiga kepada saudara perempuannya. Sambil mengatakan sesuatu yang membuat Liza termangu.


"Jangan katakan kamu akan, melakukan …." Ucapan gadis manis itu terhenti saat sang kakak menyela nya.


"Tidak ada pilihan, lain," sela Liza santai.


"Tidak! Kamu, tidak akan melakukan itu. Lebih, baik aku keluar dari sekolah," sentak Luzi menolak rencana Liza.


Gadis itu kini, berdiri dan menatap nyalang sang kakak, ia tidak akan mungkin mengorbankan harga diri kakaknya hanya, demi uang sekolah.


Tidak! Ia tidak akan melakukan itu.


"Berarti, kamu akan membuat pengorbanan dan kerja keras kakak, sia-sia," imbuh Liza.


"Tapi, tidak dengan cara murahan seperti yang ada di pikiran, kamu!" Protes Luzi tidak setuju dengan jalan pikiran Liza.


"Terus, kita harus apa? Apakah, kita turun ke jalanan? Memasang wajah kasihan dan mengulurkan tangan kepada orang-orang yang berlalu lalang?" Sentak Liza yang sudah tersulut emosi.


"Kita, tidak bisa terus seperti ini, Luzi!" Erang gadis semampai itu tertahan.


"Kita, harus melakukan sesuatu untuk bisa bertahan hidup. Mengharapkan, kesembuhan kakak yang entah kapan membaik, akan membuat hidup kita semakin menyedihkan," pungkas Liza sendu.


Luzi terdiam dengan mata mulai berkaca-kaca, ia membenarkan perkataan kakak keduanya itu dalam hati, tapi, tidak harus melakukan hal murahan.


"Apa, tidak ada cara lain?" Tanya gadis belia itu setengah berbisik.


"Hanya cara ini yang dapat menghasilkan uang yang, kamu perlukan," jawab Liza penuh yakin.


Luzi berjongkok di depan kakaknya yang sedang memijit pelipisnya yang begitu pusing. Memikirkan nasib mereka yang akan keduanya jalinan tanpa peran sang kakak, yang entah akan keluar dari masa traumanya.


"Kakak dan ibu pasti akan, kecewa," bisik pelan Luzi yang meletakkan kepalanya di pangkuan kakak keduanya itu.


Hembusan nafas berat terdengar keluar dari mulut, gadis berwajah cantik itu, jari-jarinya kini mengusap lembut puncak kepala sang adik.


"Tidak ada pilihan lain. Yah … hanya cara begitulah, agar bisa mendapatkan uang secara instan," sahut Liza pasrah.


Luzi yang mendengar ucapan pasrah sang kakak, mulai terisak di pangkuan kakaknya.


Kenapa begitu berat cobaan hidup yang harus mereka lalui agar bisa bertahan hidup. Gadis itu beruntung memiliki kedua sosok kakak perempuan yang selalu rela berkorban hanya demi masa depannya.


Luzi menjauhkan wajahnya dari pangkuan sang kakak dan menghapus air matanya dan mendongak menatap wajah cantik Liza.


"Izinkan, aku melakukannya juga!" Serunya tiba-tiba, yang membuat wajah Liza terkejut.


"A-apa?" Cicit Liza.


"Menjual kehormatanku," sahut Luzi yakin.


"PLAK! Sebuah tamparan keras mendarat di wajah mulus gadis belia itu, yang membuatnya mengeluar air mata dan meringis kesakitan.


"Apa kamu sudah gila, akh!" Bentak Liza, yang tidak memperdulikan sang kakak tertua mereka terbangun.


"Aku, hanya ingin mengurangi beban kalian," timpal Luzi pelan, sambil memegangi wajahnya.


"Ini sudah tanggung jawab kami, Luzi! Tanggung Jawab kami sebagai seorang kakak," pekik Liza emosi.


"Tapi, kenapa kalian harus berkorban begitu dalam!" Pekik Luzi yang tidak bisa menahan rasa sesaknya.


"Karena, tidak ada pilihan lain. Dan, demi kehidupan kita." Teriak Liza.


"Tapi, haruskah dengan cara seperti itu?" Gadis belia itu bertanya lirih dengan senyum getir.


"Kita tinggal di kota yang penuh hidup keras, honey. Tanpa berkorban, hidup kita akan semakin menyedihkan," imbuh Liza pelan.


Wanita itu kembali menghempaskan tubuhnya di atas sofa dan menatap langit-langit kamar VVIP rumah sakit.


"Tenanglah, aku tidak akan menjual diri. Hanya, sekedar menemani mereka bersenang-senang," seloroh Liza penuh yakin.


Luzi membalas tatapan mata penuh yakin sang kakak dan kembali terisak, masuk kembali ke pelukan sayang kakak keduanya itu.

__ADS_1


Kedua kakak beradik itu pun, saling berbagi duka kesedihan dengan mengeluarkan air mata.


Tanpa, mereka sadari, Lolly mendengar semua keluh kesah dan perdebatan kedua adiknya. Wanita itu diam-diam meneteskan air mata dan berusaha menahan isakan dengan menggenggam kuat ujung selimut yang ia pakai.


Lolly menyumpahi kondisinya yang sekarang, yang tidak bisa berbuat apa-apa. Selama satu Minggu lebih, dirinya hanya terdiam dengan wajah datar dan tatapan kosong.


Menangisi hidupnya yang hancur dengan berdiam diri tanpa mau merespon perkataan atau sentuhan orang-orang tertentu yang, mencoba memancing emosinya.


Kini Lolly sadar. Kalau dirinya sudah berlaku egois. Mengabaikan tanggung jawabnya sebagai kakak tertua, dengan mendalami hidupnya sendiri, tanpa memikirkan kedua adiknya lagi. Yang, masih memerlukan peran nya sebagai kakak tertua.


Wanita itu menggigit bibirnya kencang. Agar tangisannya tidak terdengar oleh kedua adiknya.


Lolly bertekad akan berusaha bangkit dan melawan rasa depresi nya dan perasaan traumanya.


Ia tidak mungkin terus menerus membiarkan kedua adiknya hidup tanpa perannya. Apalagi membiarkan kedua adiknya berkorban, dengan mempertaruhkan kehormatan mereka.


Lolly menghapus tetesan air matanya, saat telinganya menangkap suara langkah kaki kedua adiknya mendekat.


Ia bisa mendengar suara getir sang adik dan kecupan sayang kedua adiknya yang mereka berikan kepadanya di kening.


Lolly kembali membuka matanya saat, mendengar kedua adiknya keluar dari kamar rawat. Wanita yang terlihat menyedihkan itu pun, membangunkan tubuhnya, lantas duduk di pinggiran ranjang dengan pandangan menerawang ke depan.


Tangannya kini tak dipasangi infus lagi, karena kondisi tubuhnya tampak terlihat sehat. Hanya jiwanya lah yang sedang tidak baik-baik saja, jadi… Lolly masih membutuhkan penanganan khusus dokter spesialis.


Lolly menatap pantulan dirinya di depan jendela kaca besar, ia meraba wajahnya yang tampak menyedihkan dan penampilannya yang terlihat lemah.


Wanita itu menggulung rambutnya tinggi ke atas dan berjalan ke arah kamar mandi.


Sepertinya, ia butuh merendam air hangat, agar tubuh dan pikirannya fresh.




"Kalian akan berangkat sekarang?" Suara berat nan seksi mencegah langkah kedua gadis itu.



Keduanya bersamaan menoleh ke samping dengan ekspresi wajah berbeda.



Luzi dengan wajah ramah, sedangkan Liza dengan ekspresi wajah jengah.



"Iya, tuan," sahut Luzi ramah.



"Ck! Decak malas Liza, saat melihat wajah Lion. Membuat mood gadis itu buruk.



"Baiklah! Jangan khawatir, saya akan menjaganya!" Seru Lion.



"Terimakasih, tuan," sahut Luzi lagi dengan tersenyum bersahabat.




Setiap pagi ia akan mendapatkan giliran mengawasi gerak-gerik Lolly, agar tidak melakukan tindak berbahaya.



"Kami berangkat dulu, tuan," pamit Luzi lembut.



"Iya, hati-hati," sahut Lion.



Kedua gadis itu pun melanjutkan langkah mereka, namun baru saja beberapa langkah, tiba-tiba Lion mencegah kembali keduanya.



"Ada apa, lagi," geram Liza tertahan. Wajahnya tampak tidak bersahabat.



"saya, hanya menyampaikan pesan dokter. Dia, bisa pulang besok," imbuhnya dengan wajah datar.



"Benarkah!? Riang Luzi.



"Hm! Lion bergumam dan mengangguk.



"Syukurlah," sorak gadis belia itu dengan wajah bahagia.



"Apa, kalian mengetahui dimana saya, bisa menyewa rumah? Aku, bisa membayar berapapun." Tanya Lion kepada kedua gadis itu yang menatapnya bingung.



"Cih! Sombong. Anda mendapatkan uang dari mana? Menyewa rumah tidaklah murah," sahut Liza ketus.



Sedangkan, Luzi masih terdiam dengan wajah sedang memikirkan sesuatu, dan sejenak kemudian, wajah gadis itu berubah berbinar juga terlihat senyum di sudut bibir gadis itu.



"Apa, anda yakin ingin menyewa rumah, tuan?" Tanyanya semangat.


__ADS_1


"Iya, saya yakin," jawab Lion dengan alis terangkat.



"Kebetulan!" Sentak gadis itu heboh.



Membuat Liza mengkerutkan wajah dengan mata memicing tajam.



"Apa?" Tanya Lion dan Liza bersamaan.



"Kebetulan, rumah kami masih terdapat kamar kosong, dan, kami berniat menyewakannya," Seloroh Luzi dengan memperlihatkan deretan giginya yang putih.



"Apa yang kam …, akh!" Desis Liza tertahan saat kakinya di injak oleh adiknya sendiri.



Luzi memberikan kode kepada sang kakak, agar diam. Ini adalah kesempatan mereka memperoleh uang yang sedang dibutuhkan.



"Anda, berminat?" Sela Luzi dengan bertanya.



Lion hanya menatap keduanya bingung dan ia pun meyakinkan gadis di depannya.



"Kamu yakin?"



"Hm! Sangat yakin. Asalkan, cocok dengan bayarnya," ucap gadis itu tambah bersemangat.



"Baiklah! Saya harus membayar berapa?" Tanya Lion pasrah. Daripada ia menunggu kabar sepupu laknat nya yang ia perintahkan mencari sebuah rumah sewaan. Kenapa ia harus menolak.



"Lima ratus dollar," imbuh gadis itu.



"A-apa yang kamu bicarakan," bisik Liza dengan wajah melongo.



"Baiklah!" Jawab Lion setuju.



"APA!" Pekik Liza terkejut dengan jawaban Lion.



Lagi, Luzi menginjak kaki sang kakak, yang ingin mengeluarkan suaranya lagi.



"Oke, deal!" Luzi menyodorkan tangannya kepada Lion, tanda persetujuan di antara kedua pihak setuju.



"Deal!" Jawab Lion sambil menerima uluran tangan Luzi.



"Kapan, saya bisa menempati kamar yang anda, maksud," tanya Lion ragu.



"Anda harus membayar uang muka dulu," seloroh Luzi dengan tersenyum riang.



"Cih! Aku, tidak yakin dia memiliki uang," timpal Liza sinis.



"Berapa!" Seru Lion kesal dengan ucapan Liza.



Luzi pun semakin bersemangat dengan bisnis mendadaknya ini, lumayan dia bisa mendapatkan uang yang dibutuhkannya.



"Anda, mempunyai berapa uang," jawab Luzi dengan pertanyaan.



Lion mengambil dompetnya di saku belakang celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang dollar, Luzi pun berbinar bahagia melihat uang yang ada di tangan Lion.



"Hanya segini, apa \*\*\* …." Ucapan Lion terhenti saat Luzi segera meraih sejumlah uang di tangan Lion dengan wajah berbinar bahagia.



"Cukup! Sangat … cukup," sahut gadis itu sambil menghitung uang yang ia rebut dari tangan Lion.



Liza hanya bisa melongo melihat sikap adiknya yang begitu bersemangat, ia juga melirik Lion yang menampilkan wajah bodoh, menurut Liza.


__ADS_1


"Dasar, orang miskin baru. Semudah itu ditipu," sungutnya kesal.


__ADS_2