
Bus kota yang ditumpangi Lolly dan Lion kini, sudah tiba di halte bus di dekat perusahaan agensi light Hugo.
Lolly pun turun dari bus dan disusul Lion di belakangnya. Lolly tidak sama sekali pun menghiraukan pria tampan itu, ia terus berjalan ke arah gedung perusahaan agensi light Hugo, tanpa memperdulikan Lion yang setia mengekor di belakang.
"Selamat pagi, nak!" Sapa pria berusia 45 tahun kepada Lolly, yang bekerja sebagai security.
"Selamat, pagi juga paman," balas Lolly ramah.
"Bagaimana kab —" perkataan pria setengah baya itu, terpotong saat mendengar deheman berat dari arah belakang tubuh Lolly.
Pria penjaga keamanan perusahaan agensi light Hugo itu pun, terkejut dengan raut wajah tegang.
"T-tuan!" Gumamnya pelan.
"Se-selamat p-pagi, tuan." Dengan wajah tegang dan nada terbata, pria yang dipanggil paman oleh Lolly, memberikan sambutan ramah untuk tuan muda Kato.
"Hm! Gumam Lion dingin.
Lolly memutar bola matanya jengah melihat, sikap arogan Lion.
"Paman, saya pamit ke atas," pamit Lolly dengan nada ramah.
"Baik, nak," sahut pria berperawakan tinggi gagah itu, yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Lion.
Pria itu lantas menundukkan kepalanya saat … Lion melewatinya dengan lirik mata tajam.
__ADS_1
Selama berjalan di Lolly perusahaan, semua pandangan tertuju padanya. Tapi — Lolly mengabaikan tatapan lekat para karyawan lain.
Ia terus melangkahkan kakinya mendekati pintu lift, dengan Lion terus mengikutinya.
Mungkin, para karyawan lain berpikir kalau Lolly sudah lancang kepada tuan muda Kato, yang berjalan di depan tuan muda itu.
Jadi para karyawan lain menatap ke arah Lolly dengan wajah bingung. Di mana wanita ini mempunyai keberanian, untuk menghalangi langkah seorang pemimpin perusahaan.
mereka semakin di buat terkejut, saat — Lion mengikuti Lolly hingga memasuki lift karyawan. "Apa, tuan muda lupa dengan lift khusus, untuknya?" Tanya karyawan lain.
"Apa, yang anda lakukan tuan!" Ucap Lolly dengan geraman tertahan.
"Apa yang saya, lakukan?" Tanya Lion santai.
Lolly pun dibuat semakin jengah, oleh tingkah tidak biasa Lion. "Maaf, ini lift karyawan," pungkas Lolly.
"Itu berarti lift ini bukan untuk, anda," timpal Lolly dengan geraman. Wajah merah menahan rasa kesalnya.
Lion mengernyitkan wajahnya mendengar ucapan wanita berwajah imut itu. " Bukankah, perusahaan ini milikku? Jadi — semua yang ada di sini, adalah punya saya," Seloroh Lion dengan tersenyum miring.
Lolly pun dibuat bungkam dengan wajah semakin merah dan bibir mungilnya yang terus cemberut. Membuat pria yang kini menegakkan punggungnya dan menundukkan kepalanya, dan tatapan pria itu hanya tertuju kepada bibir mungil Lolly yang berwarna pink alami.
"Ehem!" Pria dengan rahang kokoh yang ditumbuhi rambut-rambut halus dan dibagian atas bibirnya itu, berdehem. Setelah beberapa kali menelan ludahnya kasar, saat membayangkan rasa manis di bibir Lolly.
"Sh*it" umpat Lion dalam hati.
__ADS_1
Lion terus melirik wajah imut Lolly dan ke arah bibir wanita itu yang masih mengerucut menggemaskan. Pria itu lagi-lagi menahan geramannya. Ingin rasanya pria dengan setelan santai itu ******* bibir mungil Lolly.
"Sial, sial, sial." Umpatnya pada dirinya sendiri.
Sedangkan Lolly hanya fokus dengan pikirannya sekarang. Pikirannya kini, dipenuhi oleh, stigma para karyawan lain kepadanya, yang menghilang tanpa kabar. Atau mungkin sudah ada gosip tentangnya atas kejadian Minggu lalu.
Lolly, hanya bisa menghela nafas, berdoa dalam hati agar tidak ada drama kepanjangan saat tiba di ruangan kerjanya.
"Bisakah, bibir kamu biasa saja!" Teguran di dekatnya membuat Lolly mendongakkan kepala menatap bingung pria jangkung ini.
"Ada apa dengan bibir, saya?" Tanyanya heran dan meraba-raba bibirnya,. Sesekali menjilati bibirnya dan memajukannya saat lirikan matanya mencoba mencari keanehan di bibirnya yang mungil merekah.
"SH*it!" Umpat Lion, saat Lolly semakin mengerucutkan bibirnya yang merekah alami.
"STOP!" Pekik pria itu, bertingkah aneh, menurut Lolly.
Bertepatan juga pintu lift terbuka dan Lolly segera keluar dengan bibir mencebikkan kepada Lion dan berkata, "aneh," sungutnya lirih.
"OH Tuhan!" Erang Lion frustasi. Ia pun membiarkan Lolly berjalan meninggalkannya seorang diri yang masih berdiri di dalam lift.
Karyawan, yang berada di luar terpaksa menunggu dengan kepala menunduk dan raut wajah heran.
"AKH! Aku, bisa gila!" Pekik Lion frustasi.
Pria itu segera keluar dari lift tanpa memperdulikan para karyawannya. Ia berjalan ke arah ruangan CEO. Yang ditempati saudara kembarnya — Sakura, untuk sementara waktu.
__ADS_1
"Clek!" Lion membuka pintu ruangan CEO tanpa mengetuk terlebih dahulu. Saat membuka pintu mewah itu, betapa terkejutnya Lion saat melihat kedalam ruangan CEO perusahaan agensi light Hugo.
"SAKURA!"