Emergency Bed Tuan Muda Kato

Emergency Bed Tuan Muda Kato
bab 33


__ADS_3

"Biarkan, saya yang membawanya." Lion yang melihat Lolly yang berusaha mengangkat tas pakaiannya. Hari ini, wanita yang sudah mulai bisa mengendalikan dirinya itu — pulang.


"Tidak perlu," tolak Lolly dingin sambil, menjauhkan tas yang ada di tangannya dari jangkauan pria menjulang tinggi di hadapannya.


"Itu, pasti berat," timpal Lion masih berusaha merebut tas pakaian yang Lolly.


Pria itu bahkan menghalangi Lolly untuk, berjalan ke arah pintu kamar pasien. Membuat Lolly memperlihatkan wajah jengahnya.


"Bisakah, anda menyingkir dari hadapan, saya," pinta Lolly jengah.


"Tidak! Setelah kamu menyerahnya kepadaku," jawab Lion yang menatap Lolly lekat.


Wanita mungil di depan Lion pun mulai terlihat geram dan wajah imutnya mulai merah. Lion masih menelisik wajah imut wanita itu, dengan perasaan berdebar-debar.


"Apa, mau anda tuan!" Sentak Lolly dengan geraman tertahan.


Wanita bermata biru itu, memandangi Lion tajam dan penuh rasa kebencian.


"Hust! Berisik," Seloroh Lion sambil merebut tas pakaian Lolly dan ia pun berhasil mendapatkannya.


Tanpa memperdulikan pekikan Lolly dan sungutan wanita bertubuh mungil itu, Lion segera keluar dari kamar dan menyusul kedua adik Lolly.


Tapi Lion tetap melangkah pelan, sambil mengawasi Lolly yang menyusul di belakangnya dengan bibir yang bersungut-sungut.


Sebuah senyum tipis terbit di sudut bibir pria tampan itu, saat, melirik wajah menggemaskan Lolly. Lion baru menyadari beberapa hari ini, kalau Lolly mempunyai kecantikan alami dan kecantikan yang tidak bosan untuk di pandangi.


"Cepatlah!" Seru Lion kepada Lolly, saat wanita itu masih membeku di tempatnya.


Lolly masih bergeming di depan pintu lift dengan wajah was-was. Bagaimanapun, rasa trauma itu masih ada dan begitu menyiksa Lolly.


"A-apa kita hanya, berdua?" Tanyanya gugup.


Lion mengernyitkan alis tebalnya dan menatap raut perubahan wajah Lolly.


"Hm! Gumam Lion yang merotasi pandangannya ke segala arah. Tapi, yang ia inginkan tak dapat di temukannya.


"Masuklah!" Lion kini keluar dari lift dan menyuruh Lolly terlebih dahulu menggunakan lift tersebut.


"Anda bagaimana?" Tanya Lolly ragu.


" Saya, akan menunggu disini," jawabnya lembut.


"Masuklah! Pasti kedua adik kamu tidak sabar, menunggu," ujar Lion.


Lolly pun masuk ke dalam lift. Dan Lion menunggu hingga, Lolly sampai ke lantai dasar.

__ADS_1


Namun saat pintu lift yang akan mengantarkan ke lantai dasar tertutup, tiba-tiba seorang perawat pria masuk tanpa permisi.


Membuat, Lion mengetatkan rahang tegasnya. Ia tidak mungkin, membiarkan Lolly berdua dengan pria asing di satu ruang sempit. Pria bermata sipit itu khawatir Lolly akan merasakan kecemasan nanti.


Lion sekali lagi menahan pintu besi itu, lantas masuk kedalam, bergabung dengan Lolly dan seorang pria mengenakan pakaian perawat.


Pria tersebut dapat menangkap jelas, tangan Lolly yang mulai gemetar dan lembab. Wajah Lolly pun mulai terlihat waspada.


"Kamu, tidak apa-apa?" Bisik Lion yang berdiri di belakang Lolly.


Wanita bertubuh mungil di depannya menganggukkan kepalanya.


" Tenanglah!" Bisik Lion kembali. Dan sesekali melirik pria asing di sampingnya.


Entah mengapa ia merasa aneh dengan pria bertubuh kekar di sampingnya. Ia merasa tidak asing dengan pria yang mengenakan masker itu.


_________


Lift pun sudah terbuka setiba di lantai dasar. Lolly dan Lion keluar dari lift dengan pria sipit itu menentang tas berukuran lumayan besar.


"Kenapa, anda terus mengikuti, saya?" Lolly memalingkan wajahnya ke arah Lion yang masih setia mengikutinya.


"Karena, kamu tanggung jawab, saya," sahutnya cuek.


Lolly pun dibuat semakin jengah oleh penjelasan Lion.


Lion menulikan ucapan wanita mungil di sampingnya. Tanpa permisi, pria berkulit coklat itu, masuk kedalam mobil taksi, akan membawa mereka berempat pulang.


Kedua gadis yang masih berdiri di sisi lain mobil, kini saling menyikut. Liza terlihat cuek, sedang Luzi terlihat gelisah.


"Ada apa?" Sela Lolly bertanya kepada kedua adiknya yang bertingkah aneh.


Liza menyikut lengan adiknya dan melirik Lolly, seakan memerintahkan Luzi untuk menjelaskan kepada sang kakak, tentang kerjasama mendadak mereka dengan tuan muda Kato.


"Kalian kenapa? Katakan, kalau kalian ingin menyampaikan sesuatu," pintanya lembut.


"K-kakak, janji tidak akan marah atau histeris, kan?" Jawabnya dengan pertanyaan dengan suara lirih.


Lolly menaikkan sebelah alisnya, dan menatap curiga kepada adik kecilnya itu.


"Hm! Katakan, ada apa?" Seloroh Lolly penasaran.


"Mulai sekarang, tuan… muda Kato, akan tinggal di rumah kita." Dengan sekali tarik nafas, Luzi mengatakan kepada sang kakak, dengan nada terbata.


"What?! Syok Lolly tanpa suara.

__ADS_1


"Really?" Tanya menyakinkan.


Kedua adiknya bersamaan mengangguk dan menggaruk kepala mereka, dan memamerkan senyum terpaksa.


"Why?" Ucap Lolly dengan menghembuskan nafas berat.


Luzi dan Liza kembali saling melirik dan memberikan kode masing-masing, agar menjelaskan kepada sang kakak.


"Liza, Luzi!" Seru Lolly dengan geraman tertahan.


"Saya, membutuhkan uang untuk membayar tagihan sekolah yang akan jatuh, tempo," pungkas Luzi tergugup.


Lolly semakin dibuat terkejut dengan ungkapan sang adik. Ada rasa bersalah terhadap kedua adiknya karena, sudah membuat mereka khawatir.


"Kakak akan kembali bekerja besok. Dan — mintalah waktu dari pihak sekolah," timpal Lolly yang akan memasuki mobil. Dimana Lion sudah duduk di kursi penumpang di samping pak sopir.


"Tapi —" ucap Luzi ragu.


Lolly menghentikan pergerakan tangannya yang akan membuka pintu saat… mendengar perkataan sang adik.


"Tapi, apa?" Tanya Lolly heran, terlihat raut wajahnya penuh curiga dan juga penasaran.


"K-kami, sudah mengambil pembayaran uang muka, tuan muda Kato," cicit Luzi dengan wajah menunduk dan mata terpejam.


Sedangkan Liza hanya terlihat tidak acuh. Ia sibuk memilin rambut pirangnya dan memasang wajah bosan.


"Apa?! Ujar Lolly tanpa mengeluarkan suaranya.


"Berapa yang ia berikan," sentak Lolly frustasi.


"Lima ratus dollar," Luzi menjawab lirih. Dan penuh rasa takut.


"What?! Syok Lolly yang membuka lebar kedua kelompok matanya.


Gadis imut dan manis itu semakin menyusutkan kepalanya kebawah. Liza, segera membawa masuk sang adik. Dan menyuruh kakaknya itu segera masuk ke dalam mobil.


"Masuklah kak, nanti kita membahasnya lagi " ujar Liza


Lolly pun akhirnya menuruti perintah Liza dengan duduk di paling ujung, tepat di belakang Lion yang sejak tadi menyimak pembicaraan ketiga wanita itu.


Lion dapat melihat wajah, tegang Lolly, melalui kaca spion mobil di atas kepalanya.


"Jangan khawatir! Saya, akan menyewa rumah lain," sela Lion tiba-tiba, membuat ketiga wanita itu tersentak.


"Tidak perlu! Anda, sudah membayarnya, maka silahkan anda tinggal di rumah kami, sampai masa sewaan anda jatuh tempo." Lolly berbicara dengan nada dingin dan pandangan terus ia arahkan keluar.

__ADS_1


"Baiklah! Sahut Lion dengan tersenyum tipis.


Kedua adik Lolly pun bisa bernafas lega, saat sang kakak tidak mempermasalahkan, tuan muda Kato tinggal di rumah mereka.


__ADS_2