
"Aku, tidak peduli, sekarang berikan aku uang." Liza masih berusaha meminta uang kepada sang kakak yang hanya bisa menatapnya sendu, sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya .
"Kakak tidak memiliki uang lagi, Liza." Sahut Lolly yang suaranya terdengar lemah.
"Bohong!" Sentak Liza tidak percaya.
"Bukankah, baru dua hari kakak menerima gaji?" Sambung Liza dengan wajah bersikeras untuk memiliki uang yang ia minta.
"Sudah habis Liza. Kakak, menggunakannya untuk membayar tagihan sekolah, kuliah, dan rumah sakit sayang. Dan — sisanya, kakak gunakan untuk kebutuhan rumah." Jawab Lolly sedikit menaikan intonasi suaranya, sambil memijat pelipisnya.
"AKU TETAP TIDAK PE-DU-LI." Teriak Liza dengan perkataan yang tidak ingin terbantahkan.
"LIZA!" Pekik Luzi geram.
"Apa tidak ada sedikitpun rasa pedulimu kepada, kakak? Yang sudah, menjaga dan memenuhi kebutuhan kita berdua. Dan — sekarang, kamu seperti seorang pecundang yang tidak tahu malu," maki Luzi emosi.
"Luzi!" Hardik Lolly tidak percaya dengan ucapan kasar sang adik.
"Jangan bicara kasar, sayang," tegur Lolly lembut.
"Aku, sudah muak melihat sikapnya yang tidak tahu malu, kak," erang Luzi tertahan.
"APA KATAMU! KAMU, SUDAH MENGHINAKU, LUZI." Teriak Liza yang ingin menyerang luzi, tapi … dengan sigap Lolly menghalanginya.
"Kamu, memang wanita tidak berguna. Seharusnya, kamu bisa menggunakan pikiran dan tenagamu untuk bekerja, mencari uang untuk memenuhi kebutuhan sosial tinggi mu itu. Kamu, pantas mencari pekerjaan sendiri. dan berhentilah membuat kakak kesusahan." Pungkas, luzi dengan nada gemetar emosi dan bercampur nada kesedihan mengingat perjuangan sang kakak untuk menjaga mereka.
"Ck! Terus apa gunanya dia sebagai anak tertua," timpal Liza jengah.
Dia kini memusingkan dadanya pongah di depan kedua saudaranya itu.
"Bukankah, sebagai anak tertua sudah kewajiban dia menjaga dan memenuhi kebutuhan, kita?" Sambung Liza lagi. Yang membuat luzi kembali meradang dan Lolly hanya bisa meneteskan air mata.
"Kamu, sudah dewasa Liza. Pasti kamu bisa mendapatkan pekerjaan," sahut luzi menahan geramannya.
__ADS_1
"Aku tidak sudi bekerja sebagai seorang pelayan, sepertimu," imbuhnya sinis.
Lolly yang mendengar celotehan Liza lantas menatap adik kecilnya dengan tatapan penasaran.
Luzi hanya bisa membuang wajahnya ke samping saat mendapatkan tatapan lekat dari sang kakak.
"Berikan aku uangnya," pinta liza kasar.
"Maaf liza, kakak benar-benar tidak memilikinya," jawab Lolly dengan lesu.
"Akh, prang." Liza yang tidak mendapatkan apa yang diinginkannya menghempaskan semua benda yang ada di atas meja makan.
"Kakak, berbohong. Aku tidak percaya. kakak bekerja di perusahaan terkenal di kota ini, jadi … tidak mungkin kakak tidak memiliki uang banyak. Pasti… kakak memilikinya kan? Berikan padaku!" Paksa Liza yang kini memeriksa kasar tubuh lemah Lolly.
Sedangkan luzi berusaha menjauhkan tangan Liza dari tubuh sang kakak.
Namun tenaga Liza sangat lah, kuat. karena Liza adalah sosok gadis keras kepala yang akan mendapatkan apa yang ia mau. Ia akan melakukan apapun untuk bisa mendapatkan keinginannya.
"Hentikan, Liza! Kamu, menyakiti kakak," pekik luzi yang mencoba melindungi tubuh Lolly yang terlihat menahan bobot tubuhnya dengan berpegang kuat di sandaran kursi makan dan luzi menahan pundaknya.
"Akh! Kakak tidak berguna. Kakak tidak becus, memenuhi kebutuhanku. Seharusnya, kakak mempunyai banyak kesempatan untuk mendekati tuan muda Kato. dan menjebaknya, agar bisa menikahi kakak, supaya — kita bisa hidup mewah dan tidak lagi hidup miskin seperti ini. AKU LELAH HIDUP SEPERTI INI KAKAK, AKU LELAH. APA, KAKAK MENGINGINKAN AKU MENJUAL TUBUHKU INI KEPADA PRIA KAYA. AGAR AKU TIDAK PERLU KESUSAHAN LAGI. APA … ITU YANG KAKAK INGINKAN.
"PLAK" Lolly melayangkan tamparannya tepat di wajah sisi kiri sang adik dengan tatapan nyalang bercampur kecewa atas apa yang diutarakan sang adik.
"Apa kamu, pikir kakak tidak lelah, hm? Lolly menjeda perkataannya sambil menggenggam kuat sandaran kursi, menahan segala emosi yang kini bergejolak.
"Kakak, juga lelah. Kakak jenuh, rapuh dan tidak sanggup lagi. Tapi … karena pesan ibu dan janji kakak. dan tanggung jawab kakak, sebagai anak pertama, untuk menjaga pun memenuhi kebutuhan kalian berdua yang, membuat kakak harus tetap bertahan juga berjuang keras. Kakak, lelah Liza. Kakak sakit. Tapi — semua ini kakak lakukan karena kasih sayang kakak, kepada kalian. Oleh sebab itu kakak masih terus berusaha demi kalian." Ungkap Lolly dengan isakan kesedihan dan rapuh. Tubuhnya pun kini sudah luruh di lantai.
Pecah sudah segala beban yang selama ini ia pendam sendiri, agar kedua adiknya tetap merasakan kebahagiaan di masa remaja mereka. Tanpa memperdulikan hidup dan kebutuhannya sendiri.
Ia rela menahan keinginannya sebagai seorang wanita untuk berbelanja dan memanjakan diri.
Lolly bahkan membuang rasa malunya untuk, memilih baju bekas di pembuangan khusus baju bekas di tempatnya. Agar bisa berhemat dan memenuhi kebutuhan kedua adiknya.
__ADS_1
Mendengar perkataan sang adik, membuat Lolly sedikit kecewa. Ia menganggap dirinya tidak berguna menjadi seorang kakak yang baik.
Luzi kini ikut meluruh di lantai sambil memeluk tubuh lemah dan rapuh sang kakak, menangis dan terisak seperti yang dilakukan kakaknya itu.
Sedangkan Liza hanya bisa terdiam di tempatnya dengan tatapan benci. Ia pun segera membalikkan badannya dan keluar dari rumah sederhananya dengan membanting pintu kasar.
"Brak." Liza melangkah di atas jalanan dengan raut wajah yang tidak terbaca, ia juga kini berhenti di sebuah lorong kecil dan menangis meraung di sana.
Betapa hidup mereka begitu menderita dengan keadaan kekurangan semenjak sang ayah mencampakkan mereka.
Hidup di lingkungan yang berbahaya dan tidak baik untuk seorang wanita tanpa ada perlindungan dari seorang pria.
Lingkungan yang penuh dengan perilaku kriminal dan Liza pun ikut dengan pergaulan di lingkungannya.
Namun ia akan bersikap sebagai gadis kaya apabila berada di lingkungan sekolah. Liza hanya ingin dihargai dan ia sudah muak terus di hina.
Beberapa kali ia tergoda untuk menjadi seorang wanita simpanan untuk pria-pria kaya, seperti yang dilakukan kebanyakan teman wanitanya.
Tapi … Liza, selalu mengingat nasehat sang ibu dan juga kerja keras kakaknya.
"Maafkan, aku." Isakannya di balik drum besar di lorong sempit itu.
Sementara di dalam rumah, Lolly dan luzi masih saling berpelukan sambil menumpahkan tangisan kesedihan mereka.
Keduanya saling menguatkan dengan keadaan keluarga mereka. Dan, saling menyakinkan, bahwa… akan indah pada waktunya.
Kehidupan seseorang akan terus berputar dan di berikan ujian. Seperti yang dialami oleh kehidupan Lolly dan kedua adiknya yang tetap, berada dalam kesulitan dan begitu banyak ujian juga cobaan yang menerpa keluarga mereka. Entah, kapan keberuntungan datang menyapa keluarga mereka.
Namun dengan lapang dada, Lolly selalu bersabar menghadapinya dan melaluinya dengan perjuangan keras.
Biarlah, Lolly yang merasakan pahitnya sebuah perjuangan untuk bisa membahagiakan kedua adiknya.
Kejamnya sebuah lingkaran bergaul di tempatnya bekerja, yang selalu mendapatkan hinaan juga cacian.
__ADS_1
Lolly rela melakukan semua itu demi kedua adiknya dan juga kesembuhan ibu tercintanya.