
"Keluar lah. Aku tahu, kamu pasti hanya berpura-pura!" Seru Lion berwajah sinis.
"CK! Lion terdengar berdecak jengah.
Lion mengikuti egonya yang merasa Lolly hanya berpura-pura saja. Pria itu menyakinkan dirinya, kalau wanita yang ketakutan di bawah meja makan — sedang melakoni peran sandiwara.
"Hey! Keluarlah." Gertaknya tidak berperasaan.
Lion kini melangkah lebih dekat ke meja, ia kini menyingkirkan meja makan lusuh Lolly kasar.
Membuat wanita yang ketakutan itu, semakin gemetar takut dan beringsut untuk melindungi dirinya sendiri.
"Prang"
"Argh! Tolong, jangan sentuh saya. Saya mohon, tuan," Pekik Lolly yang kini menutup kedua telinganya dengan menggunakan telapak tangan dan kelopak matanya terpejam erat.
"Mohon jangan sentuh, saya," racau Lolly yang tubuhnya semakin ketakutan.
"Cih! Aku tahu, ini semua hanya akting semata," decih Lion , kini berjongkok di depan tubuh Lolly yang beringsut di ujung sana dengan, wajah semakin pias dan tubuh semakin gemetar.
"Berhentilah dan kemari," bentak Lion jengah.
Ia lantas mengulurkan tangan kiri kekarnya untuk menarik tubuh gemetar Lolly. Pria arogan itu, sudah muak melihat tingkah Lolly yang menurutnya hanyalah akting.
__ADS_1
"TIDAK! TIDAK… TOLONG LEPASKAN SAYA, TUAN!" histeris Lolly dengan respon tubuh yang tidak bisa dikendalikan saat, Lion menyentuhnya secara kasar.
Membuat bayangan-bayang kejadian kemarin malam terus menghantui Lolly, dan kini ia, merasa seperti Dejavu.
"PERGI! PERGI. SAYA MOHON PERGILAH!" teriak Lolly yang suaranya mengisi seluruh rumah sederhananya.
Wajah Lion kini semakin terlihat jengah, muak melihat tingkah Lolly yang menurutnya hanya sandiwara.
Pria itu lantas, menyentak lengan mungil Lolly dan menariknya kasar dari sudut ruangan yang membuatnya sulit untuk menjangkau Lolly.
Menarik kasar lengan lemah tak berdaya wanita malang itu dan menghempaskannya di lantai kasar.
Wajah suram, tatapan tajam dan garis wajah mengetat sehingga menghasilkan bunyi gigi yang saling bergesekan nyaring. Beginilah raut wajah Lion ketika berhasil membawa Lolly dari tempat beringsut nya.
Pria dengan tubuh kekar itu, berjongkok di depan tubuh gemetar sang wanita. Menatapnya nyalang dengan sikap arogan tidak perikemanusiaan.
Pria dengan mata tajam itu, meriah garis wajah teduh sang wanita, menyempitnya kasar dan mengarahkan sikap garang kepada wanita malang itu.
Terbalik dengan ekspresi wajah sang wanita yang, terlihat begitu ketakutan. Apalagi mendapatkan sentuhan kasar dari, pria yang sudah melecehkannya.
Tubuhnya bertambah gemetar hebat, penampilan berantakan, wajah yang kian bertambah pias. Air mata dan keringat dingin bercampur membasahi wajah cantiknya yang di nodai rasa ketakutan.
Tubuh terasa lemas tak bertulang, dada berdebar kencang saat mendapatkan sentuhan itu. Sentuhan yang sangat menyakitkan baginya.
__ADS_1
Sang wanita kini duduk dengan mengatupkan kedua kaki gemetaran di depan dada, memeluknya erat. Seakan menjadikannya Patukan untuk berlindung, wajah yang ditutupi rambut yang sudah lembab oleh keringat di sela lututnya yang bersembunyi.
Sesekali mata merah ketakutan itu melirik pria di hadapannya, dan kembali memejamkan mata. Berdoa dalam hati, agar pria di depannya ini segera menghilang.
"Buka matamu. Dan … tatap aku. Pasti ini adalah rencana kamu kan. Agar aku merasa bersalah dan bertanggung jawab atas kejadian kemarin malam, JAWAB." Lion masih menjepit kuat rahang wajah Lolly dan berteriak di depan wajah ketakutan itu.
"Ayo katakan. Ini semua hanya rencana licikmu, murahan," gertak Lion emosi.
"Tidak! Lepaskan saya. Jangan… sentuh, p-pergi." Racau Lolly yang menyingkirkan tangan keras Lion dari wajahnya yang tampak membekas jejak jepitan tangan Lion.
"Tolong… jangan sentuh saya. Sakit… ini sungguh, sakit. "
"Aku, kotor, aku kotor, t-tubuh ini … sudah ternodai, AKU SUDAH KOTOR. IBU… MAAF AKU. MAAF TIDAK BISA MENJAGA KEHORMATAN KU." Lolly terus meracau dan berganti ekspresi histeris kesedihan.
Suara histeris Lolly terdengar hingga keluar rumah. namun tidak ada yang peduli dengan teriakan gadis itu.
Itu karena di lingkungan tempat tinggal mereka, sangat acuh dengan kehidupan bertetangga. Lagipula di kawasan itu, sangat terlihat sepi di pagi hari, seakan tidak ada aktivitas satu orangpun di sekitar rumah Lolly.
Lion masih menelisik ekspresi wanita di hadapannya dengan sangat lekat.
Lion pun masih berperang dengan ego dan lubuk hatinya. Egonya mengatakan, kalau perilaku Lolly hanya sekedar sandiwara, tapi … hatinya mengatakan lain. Ada rasa bersalah, tersirat di dalam lubuk hatinya itu. Namun, semuanya tersingkirkan oleh keegoisan tuan muda arogan itu. Apalagi, saat Lion mengingat perbuatan Lolly yang sudah memisahkan dirinya dengan sang kekasih, yaitu — Samantha brown.
Sementara wanita malang itu masih, terisak pilu sembari mengusap sekujur tubuhnya dengan kasar.
__ADS_1
Lolly masih merasa nyata, bekas sentuhan paksa Lion kemarin malam yang memberikan bekas luka dalam dan juga trauma.