Emergency Bed Tuan Muda Kato

Emergency Bed Tuan Muda Kato
bab 21


__ADS_3

Di tengah ketegangan di luar ruangan ICU. Tiba-tiba ruangan itu terbuka dari dalam. Seorang pria setengah baya bersetelan rapi dengan dilapisi jas putih khas dokter keluar, sembari menampilkan wajah sendu.


Ia membuka maskernya dan membenarkan letak kacamata beningnya. menatap, satu persatu orang yang berada di luar ruangan ICU.


Namun sang dokter, memberikan tatapan penuh arti kepada mom Kim, yang melayangkan tatapan penasaran kepadanya.


Pria dengan wajah gagah itu, menghela nafas sesaat dan menggelengkan kepala, yang menandakan keadaan wanita yang ia tangani saat ini dalam keadaan serius.


Luzi dan Liza hanya bisa menata sang dokter dengan wajah was-was, namun melihat raut wajah sendu sang dokter, Luzi pun kembali terisak dalam pelukan sang kakak.


"Kakak!" Tangis pilu gadis itu.


Kim pun meraih kedua gadis malang itu dan membawanya ke dalam pelukannya. Sedangkan granny tidak dapat menahan rasa sedihnya sehingga, kondisi kesehatan granny pun menurun.


Sementara tersangka pelaku kasar, hanya bisa mematung dengan wajah linglung. Dirinya tidak menyangka kalau perbuatannya sebegitu buruk, sehingga membuat sang korban, mengalami Depresi dan trauma serius.


Lion menghempaskan tubuh tingginya yang mendadak lemas di atas kursi tunggu. Bola mata coklatnya kini menatap lekat pintu ICU tersebut.


Tersirat rasa bersalah dalam lubuk hatinya, dan juga rasa bersalah kepada keluarganya atas apa yang sudah ia lakukan. Sehingga keluarganya merasa kecewa terhadap dirinya.


________

__ADS_1


"Apa, anda sudah puas tuan? Melihat keadaan kakak kami? Apa, anda sudah merasa bangga atas pencapaian anda menghancurkan kehidupan kakak kami? Apa, anda puas sekarang, sudah menghancurkan hidup wanita yang anda benci. APA ANDA PUAS!" Liza menatap tajam kearah Lion dengan mata berkaca-kaca, ia begitu membenci pria yang sudah menghancurkan hidup kakaknya itu.


"Sekarang, apa yang anda ingin, akh!" Hardik gadis itu.


"Wanita yang anda anggap, murahan itu adalah, malaikat pelindung kami, tulang punggung kami yang tangguh, meskipun tersembunyi kerapuhan di dalamnya, namun demi kami, dia tetap tersenyum." Ungkap Liza, yang mengeluarkan segala isi hatinya itu dengan diiringi derasnya air matanya.


"Lihatlah, wanita itu kini, sedang hancur dan itu karena, anda." Liza mengeluarkan segenap luka hatinya dengan berkata histeris ditujukan kepada sosok yang hanya bisa menundukkan wajahnya.


"Anda pasti puas bukan? Anda pasti merasa menang dan merasa bangga atas pencapaian anda ini." Lanjut Liza yang masih menunjukan wajah amarahnya.


"Berhentilah, Liza!" Potong Luzi yang meraih tubuh kakaknya itu dan memeluknya.


Liza menarik nafas dengan kencang dan menghembuskannya secara kasar. Ia kini menatap jendela kaca ruangan ICU yang tirainya sudah terbuka. Melihat dengan tatapan sedih, tubuh lemah sang kakak yang terbaring di atas ranjang pasien di dalam sana.


"Maaf! Lirihnya, dengan kening yang menempel di jendela kaca.


Lion pun melirik ke dalam ruangan dengan pandangan sulit di artikan, ia bisa melihat keadaan wanita itu, yang di pasangi alat kesehatan.


Lion kini melirik sang mommy yang hanya bisa terdiam di pelukan sang daddy. Sedangkan Sakura, mengantar granny pulang.


Lion berdiri dari duduknya, hendak mendekati sang mommy, tapi… ia terperanjat saat mendengar ucapan tegas sang mommy.

__ADS_1


"Jangan mendekat, tetap lah disana. Sebelum kau, mendapatkan maaf dari wanita yang telah kau hancurkan, kau, tidak boleh memanggilku mommy dan menyentuhku." Pungkas Kim penuh ketegasan tanpa melihat wajah putranya.


"Mom —"


"Apa kau tahu? Kalau mommy sangat membenci perbuatan yang kau lakukan. Dan, mommy pernah merasakan dan berada di posisi wanita malang di dalam sana. Rasanya begitu sakit — dan untuk menghadapi akibat dari perbuatanmu itu, pasti tidak akan semudah membalikkan telapak tangan, karena perbuatan yang kau lakukan itu, akan meninggalkan rasa luka mendalam." Imbuh Kim dengan suara getar seakan menahan rasa sesak.


"Mommy, pernah merasakannya, nak. Pernah merasakan hal menakutkan itu."


"Bukan itu saja, mommy … juga pernah, menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana orang terkasih kita di lecehkan. Rasanya begitu sakit… nak. Sakit." Racau Kim yang tangisnya sudah tumpah di pelukan sang suami.


Lion kembali menjatuhkan tubuhnya, kali ini, tubuh tingginya merosot di atas lantai marmer. Dengan kedua lututnya terlipat, kepala menunduk, terdengar isakan dari mulut pria itu.


"Mommy kecewa kepada mu dan mommy merasa gagal mendidik mu."


"Bertanggung jawablah atas perbuatanmu ini. Tetaplah berada di sampingnya dan menjaganya. Agar kau bisa melihat lukanya. Agar kau bisa melihat ketakutannya, agar kau bisa melihat kehancurannya, dan kau bisa memahami segala perbuatanmu. Jangan kembali kepada kami, setelah kau berhasil menyembuhkan lukanya. kami bersedia menghukummu dengan hukum di negara ini, tapi… hukuman itu terlalu nyaman untukmu, kau masih bisa dihormati di dalam sel tahanan dengan marga Kato, dan kau akan diberikan fasilitas khusus. Jadi hukum yang baik atas perbuatanmu adalah, berada di sisi wanita yang telah kau hancurkan. Bertanggung jawablah dengan jerih payahmu sendiri. Tanpa campur tangan margamu. Hiduplah di sekitar wanita itu tanpa kemewahan. Mulai sekarang seluruh kemewahan yang kau miliki, telah hilang darimu. Dan jangan menolak. atau kau akan kehilangan marga mu sendiri." Kim sudah mengambil keputusan tepat atas hukuman sang putra. Ia akan membebaskan kehidupan mewah putranya itu dan memberikan kehidupan rendah seperti keluarga white, sampai wanita malang itu membaik.


Kim tidak akan memberikan hukum negara untuk putranya. Bukan karena ingin melindungi sang putra.


Namun karena hukuman negara bukanlah hukuman tepat menurut Kim. Karena sudah dipastikan sang putra tidak akan meratapi kesalahannya dengan baik. Malah sang putra akan menganggap remeh masalahnya. Mendapatkan hukuman dengan batas ditentukan, bebas dan ia akan melakukan perbuatan itu lagi tanpa rasa jerah.


Lain halnya kalau hukumannya adalah sebuah status. Dan berada di sekitar sang korban, agar sang putra dapat melihat sendiri efek akibat dari perbuatannya dan meratapinya

__ADS_1


__ADS_2