Emergency Bed Tuan Muda Kato

Emergency Bed Tuan Muda Kato
bab 34


__ADS_3

"Silakan masuk, tuan! Mulai sekarang kamar ini menjadi milik, anda. Untuk beberapa bulan ke depan," jelas Luzi kepada Lion yang begitu tercengang melihat kamar yang akan ia tempati.


"Semoga, anda menyukainya," sambung Luzi kembali dengan tersenyum manis. Gadis berlesung pipi itu mengabaikan wajah melongo Lion. Segera saja gadis bertubuh mungil itu keluar dari kamar, meninggalkan pria bertubuh kekar itu di sana.


Sementara Lion, masih merotasi penglihatannya kesegala sisi kamar yang sangat sempit menurutnya. Baginya, kamar ini begitu buruk, mungkin lebih layak kamar pelayan di rumahnya dari pada kamar yang akan ia gunakan ini.


Bagaimana tidak, kamar yang sekarang ia masukin, begitu sempit dan pengap. Hanya ada satu jendela kecil di bagian sudut kamar. Mungkin luas kamar ini, tidak seberapa dengan kamar mandinya yang begitu mewah dan luas. "Akh! Tiba-tiba, aku merindukan kamar mandi ku," monolog Lion sambil menyusuri isi kamar dengan tatapan menelisik tajam.


Kamar yang hanya, di isi oleh satu ranjang kecil yang hanya muat satu orang saja. Lemari kayu lusuh, meja belajar yang — Lion yakini milik salah satu adik Lolly. Dan, sebuah meja rias lusuh yang kaca cerminnya sudah terbagi dua.


Lion menghela nafas panjang, ia — pun harus bisa terbiasa dengan keadaan ini. Demi mendapatkan kembali kepercayaan kedua orang tuanya. Dan, juga tanggung jawab atas perbuatannya.


Lion mencoba membaringkan tubuh tingginya di atas ranjang, dan — hasilnya, tempat tidur itu pun tidak mampu memuat tubuh tinggi Lion. Kaki nya harus reka menggelantung.


Pria itu, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Apa bisa ia betah seperti ini? Mencoba kehidupan baru yang tidak pernah ia lalui dan rasakan.


Lion pun menatap langit-langit kamar itu dengan nafas panjang dan membuangnya secara perlahan. Lion akan mencoba memulai hidup barunya. Anggap lah, ini semua adalah tantangan berharga untuknya.


_____________________


"Byurr!" Air yang membasahi mulut gadis bertubuh ramping itu, menyembur keluar, saat mendengar colotehan adik kecilnya, Luzi.


"APA!" pekiknya nyaring dengan wajah terkejut.


Gadis berwajah imut itu, hanya menampilkan senyum usilnya. " Aku, mengunakan kamar… kamu," sahut Luzi polos.


"What?! Apa kamu bercanda, sister," Sentak Liza terkejut.


Luzi lagi-lagi, hanya bisa memperlihatkan senyum manisnya dan mengelayun manja di lengan Lolly.


"Tidak! Aku serius. Sementara waktu, tuan muda Kato, akan menghuni kamar, kamu," jelasnya dengan wajah bahagia.


"No! Pekik Liza.

__ADS_1


"Hanya, beberapa bulan saja, Liza," ucapnya, memelas.


"Jadi … mulai, sekarang kita akan berbagi, kamar," sambungnya dengan wajah antusias.


"Kamu, sudah gila," sungut Liza kesal, dan menjauh dari kedua saudarinya.


"Ingat! Kamar kamu, sekarang di tempati oleh tuan muda Kato. Dan, kamar kamu berada, bersamaku," teriak Luzi dengan wajah ceria.


Lolly hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan usil adik paling kecilnya itu.


"Apa kamu lupa? Kalau — Liza paling tidak menyukai berbagi kamar." Terang Lolly, sambil mengusap puncak kepala sang adik.


Mereka sekarang sedang berada di ruangan keluarga yang bersambung dengan dapur mereka.


Luzi mengangguk, mengiyakan perkataan sang kakak sambil memejamkan matanya.


"Terus, kenapa kamu melakukannya?" Tanya Lolly tidak percaya.


"Aku, hanya ingin membiasakan Liza agar tidak egois dan agar kami semakin, dekat," jawab Luzi yang masih memejamkan mata.


"Hm! Kalaupun, aku muak. Aku, bisa ke kamar, kakak," sahut gadis itu enteng.


Lolly pun akhirnya pasrah, dengan tingkah usil sang adik. Ia, hanya tidak ingin, kedua adiknya saling bersalah paham.


Di tengah suasana keakraban keduanya, tiba-tiba … mereka di kejutkan oleh suara berat dari arah kamar paling ujung.


"Toilet di mana?" Tanya pria itu yang hanya menggunakan celana pendek dan atasan.


Membuat Lolly mematung dan Luzi melebarkan kelopak matanya melihat pemandangan menakjubkan di depannya. Sebuah tubuh indah dengan otot-otot kekar terdapat di beberapa bagian. Otot perut yang tampak begitu seksi. Apalagi tubuh polos bagian atas pria itu begitu mengilat oleh keringat.


"Ehem!" Dehem Lion yang raut wajah terlihat merah, karena menahan sesuatu.


Lolly mengerjap dan menundukkan kepalanya melihat tatapan takjub sang adik. Segera, Lolly menutup mata suci adiknya dan memberanikan diri menatap tajam ke arah Lion.

__ADS_1


"Jangan pandangan mu, Luzi!" Geram Lolly yang berusaha menutupi mata sang adik yang terus menyingkirkan telapak tangannya.


"Bisakah anda berlaku sopan di sini, tuan!" Cerca Lolly geram.


Lion hanya terdiam dengan kening mengerut. "Why?" Tanyanya bingung.


"Kenakan pakaian anda tuan. Apa, anda lupa, kalau di sini terdapat tiga orang wanita!" Sentak Lolly dengan intonasi suara emosi tertahan.


Lion pun memandangi sendiri penampilannya yang masih meneteskan keringat.


"Saya, kepanasan!" Jawabnya cuek.


Yah, Lion merasa kekerahan berada di kamar sempit yang tidak memiliki AC. Kebiasaan dirinya berada di ruang sejuk membuat Lion tersiksa.


"Anda, bisa menggunakan kipas yang ada di kamar," ketus Lolly sambil menatap kearah lain.


"Saya, tidak tahu untuk menghidupkannya," timpal Lion.


Membuat Lolly reflek menatap Lion, dan kembali membuang pandangannya.


"Ck! Dasar orang miskin baru," cibirnya pelan.


"Bisakah, anda memberitahukan saya di mana letak toilet?" Tanya Lion yang kini terlihat gelisah.


"Di pojok kiri, pintu putih," terang Lolly dengan nada ketus.


Segera Lion berjalan ke arah toilet yang di katakan Lolly, tanpa mempedulikan peringatan wanita itu, untuk mengenakan pakaiannya.


"Wow! Tubuh yang sangat seksi," celetuk Luzi tiba-tiba.


"Luzi! Gertak Lolly, memperingati sang adik.


"Bukankah, ini sebuah keberuntungan, kak? Melihat, tubuh seksi tuan muda Kato," ucap gadis manis itu, yang sekarang masih mengingat pemandangan indah yang sempat ia lihat.

__ADS_1


Mendengar celotehan sang adik, Lolly pun bersiap untuk memberikan pukulan di lengan sang adik. Namun adiknya itu, mengetahui pergerakannya dan berhasil lolos dari jangkauan sang kakak.


"Luzi!" Pekik Lolly, dan berusaha mengejar sang adik yang berlari dari pukulannya.


__ADS_2