
Sosok pria dengan wajah tampan itu — terlihat mondar-mandir dengan raut wajah kesal dan juga penasaran. Penasaran, karena dirinya masih belum mengetahui puluhan buket bunga itu dari mana. Kesal, karena, sosok wanita mungil di sebelah ruangannya sejak tadi berani mengacuhkan dirinya.
Pria itu, kini berkacak pinggang dengan wajah frustasi, ia merasa didahului oleh seseorang misterius. Tidak, Lion tidak boleh terdahui oleh siapapun. Baginya, Lolly masih tanggung jawabnya dan entah, persamaannya tidak suka melihat wajah bahagia Lolly yang diberikan oleh orang lain. Apalagi kalau seorang pria.
"Argh! Ini, tidak boleh dibiarkan!" Gumamnya dengan mengerang tertahan.
"Sial. Kemana pegawai sialan itu? Mengapa, dia lama sekali," ucapnya lirih sembari masih melakukan gerakan mondar-mandir di depan saudara kembarnya — Sakura.
Wanita mungil dengan gaya apa bad girl itu, hanya berdecak kesal melihat tingkah tidak biasa saudara laki-lakinya itu.
Wanita mungil dengan mata sipit seperti saudaranya yang terlihat galau itu, sedang merakit ulang sebuah motor besar dengan harga selangit.
Sakura sangat menyukai hal yang berbau tantangan, dan juga mekanik. Ia memiliki koleksi puluhan motor dari berbagai jenis bentuk dan tentu saja dengan harga yang sangat fantastis.
Wanita cantik khas keturunan Jepang itu, meraih sebuah obeng berukuran kecil dan melemparkannya kepada Lion.
"Pletak!" Dan — mendarat' lah dengan cantik obeng yang dilemparkan wanita cantik itu, di kening Lion.
"Akh! Sakura!" Gertak Lion sambil mengusap keningnya yang tertutup oleh sebagian rambut panjangnya.
Wanita yang mendapatkan gertakan hanya mendelikkan mata sipitnya dan mencibir ke arah saudaranya.
"Bisakah, anda diam dan duduk di sana, tuan muda Kato?" Cibir Sakura singit dan menunjuk ke arah sofa dengan matanya yang sipit.
Namun, Lion tidak memperdulikan perkataan saudara kembarnya itu, ia masih saja terus mondar-mandir, dengan wajah kacau.
Kini pria dengan punggung kokoh itu, menghampiri dinding kaca besar di ruangannya. Mencoba, mengintip Lolly di balik celah tirai yang menutupi ruangan wanita imut itu.
"Sial! Bisa-bisanya, dia mengabaikan ku," geramnya dengan wajah merah.
"Sial!" Umpatnya sekali lagi, sembari memukuli dinding kaca itu.
"Hey! Brengsek. Bisa, kau diam!" Bentak Sakura protes.
Wanita itu, merasa tertanggung dengan tingkah aneh saudara kembar laki-lakinya itu. Sehingga, membuat ia tidak fokus merangkai rangka motornya.
Lion tetap diam, tanpa mengindahkan makian dan bentakan Sakura. Pria pemilik mata coklat terang itu, sedang memikirkan sesuatu. Detik berikutnya, ia menatap sakura dengan wajah sulit di artikan.
Sakura yang melihat raut wajah penuh arti Lion, hanya mencebikkan bibir ranumnya.
"Ck! Tidak ada. Aku, tidak memiliki apa yang kau inginkan," terang Sakura tidak acuh.
Lion yang tak percaya itu pun berjalan mendekati Sakura, yang sedang berjongkok di depan bangkai motor yang berharga selangit.
Lion pun kini berlipat tangan di depan dada dan menatap sinis saudaranya itu, dan mencoba mengintimidasi saudaranya itu.j
__ADS_1
"Perbuatanmu ini tidak akan terbongkar — kalau, kamu bisa memberikanku sejumlah, uang," pungkas Lion dengan sebuah ancaman.
Yang diancam pun masih bersikap masa bodoh dan berwajah datar. Tidak ada rasa terkejut, ketakutan, ataupun merasa terancam. Sakura, hanya menanggapi ancaman Lion dengan raut cuek.
Wanita itu, melemparkan ponselnya kepada Lion dan ditangkap dengan baik oleh sang saudara kembarnya.
Lion membaca pesan yang tertulis di ponsel Sakura. Mata sipit dengan netra coklatnya dapat melihat deretan pesan sang mommy dan juga sebuah ancaman, tidak lupa Lion juga membaca pesan sang mommy yang terakhir, yang merupakan sebuah hukuman.
"Jadi, mommy tahu apa yang kamu lakukan?" Tanya Lion tidak menyangka.
"Cih!" Hanya decakan sinis yang di layakkan oleh seorang Sakura.
Wanita yang mengenakan kaos kedodoran dan bawahan jins hitam yang terdapat robekan di kedua lututnya. Wanita itu melirik wajah bodoh saudaranya sambil mengontak-atik rangkaian motornya.
"Apa kamu lupa? Kalau, mommy mempunyai banyak mata," seloroh wanita bertubuh ramping itu.
"Jadi, kamu masih memiliki beberapa dollar?" Tanya Lion.
"Ada?" Jawab Sakura santai.
Terlihat, senyum tipis mengembang di sudut bibir Lion, dengan perasaan mengharap. Ia lantas, mengarahkan telapak tangannya kepada Sakura yang masih berjongkok.
"Apa?! Tanya Sakura dengan hidung dan alis mengkerut.
"Berikan, padaku," jawab Lion antusias.
Sebuah seringai tiba-tiba muncul di bibir wanita cantik itu, ia pun mendekati Lion yang berwajah berbinar.
Dengan masih menegadahkan telapak tangannya di depan Sakura, Lion tentu saja merasa beruntung memiliki seorang saudara pengertian.
"Ini!" Seru Sakura sambil menyerahkan sesuatu kepada Lion.
Lion pun menerima yang di berikan Sakura kepadanya dengan langsung mengenggam kuat telapak tangannya. Dahi Lion terlipat dalam saat — merasakan aneh di telapak tangannya.
Segera saja ia membuka kepalan tangannya, dan seketika kelopak mata sipitnya melebar dengan pupil mata yang hampir keluar.
"What!? Pekik Lion syok.
"Apa, kamu bercanda my sister," protes Lion dengan wajah syok.
Lion tidak menyangka, kalau saudaranya itu memberinya beberapa uang koin. Yang, ternyata baru pertama kali ia memegangnya.
Sakura hanya tersenyum sinis dan terus melakukan pekerjaannya. " Why?" Tanya wanita cuek itu.
"Bukankah, itu juga uang?" Selorohnya tidak acuh.
__ADS_1
"Sakura. Aku, membutuhkan ribuan dollar," erang Lion frustasi, ia meraup sendiri wajahnya.
Sakura menatap kembali wajah memelas Lion, wanita itu, menghela nafas panjang dan menghembuskannya seperti, menghempuskan gumpalan asap rokok.
"Aku, tidak memilikinya sekerang ini. Selamat, masa hukumanku selesai," sahut Sakura.
"Sial! Kembali Lion mengeluarkan umpatan frustasi.
Sakura hanya bisa mengangkat kedua bahunya cuek. Setelah itu ia — melanjutkan desainnya.
"Terus, aku harus mendapatkan uang darimana?" Ujarnya lirih dengan mengacak-acak rambut panjangnya yang sudah menutupi kedua pipi wajahnya.
"Apakah, aku perlu memintanya kepada, Rose?" Tanya Lion kembali.
"Hm! Dan — kamu, akan mendapatkan pukulan dahsyat," celetuk Sakura yang.
Lion pun berpikir, apa yang di katakan, Sakura ada benarnya juga. Ia tidak mungkin memintanya kepada Rose. Wanita, arogan dan paling membenci sikap sepertinya.
Meskipun, Rose termaksud, saudara arogan. Namun, saudaranya itu selalu memberikan kenikmatan dan kemewahan kepada mereka.
"Jadi …, dimana aku harus mendapatkan uang banyak. Tidak, mungkin aku harus memintanya kepada granny, bisa-bisa, daddy akan menambahkan hukamanku," keluh Lion yang kini menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
"Ck! Payah," gumam Sakura dengan nada mengejek.
Lion manatap wajah cuek Sakura, mengapa saudara satunya ini begitu cueknya. Padahal semua, kartu kredit miliknya sedang di blokir. Lion memicingkan mata sipitnya dan mengarahkan kepada Sakura dengan curiga.
"Kamu, memiliki sumber penghasilan lain?" Tanya Lion yang kini berjarak dua langkah dengan Sakura.
"Begitulah," jawab Sakura, seperti biasa. Wajahnya terlihat cuek.
"Jangan katakan, kalau kamu melakukan hal berbahaya, Sakura," sentak Lion dengan wajah berubah marah.
"Aku, hanya mengikuti lomba di jalanan dengan anak-anak milliarder, lumayan, hasilnya dapat membeli motor ini," terang Sakura.
"Kamu, pasti melakukan atraksi berbahaya' kan?" Tanya Lion lagi dengan selidik.
"Yah, begitulah. Namanya juga hobi," sahut Sakura dengan enteng.
"SAKURA!" Bentak Lion.
"Hust! Berisik. Lebih baik, kamu menemui paman Larry. Bukankah, kamu keponakan ke —"
"Brakk!"
Sebuah pintu tertutup kencang membuat ucapan Sakura terpotong. Wanita bertubuh ramping itu pun hanya bisa mendengus kesal, saat Lion sudah berjalan ke arah lift.
__ADS_1
"Dasar pria aneh."