
"TOLONG!"
"SIAPAPUN TOLONG SAYA. LEPASKAN. SAYA MOHON!"
"AKH! SAKIT! IBU, AKU SUDAH KOTOR. IBU …."
Masih terdengar teriak histeris penuh ketakutan dan penderitaan di dalam rumah sederhana itu.
Beberapa orang yang melewati depan rumah Lolly, hanya terdiam sejenak menatap pintu rumah Lolly, setelah itu, mereka melanjutkan langkah, tanpa ada niat membantu wanita malang itu yang, begitu ketakutan di dalam sana.
Lolly masih menunjukkan ekspresi histeris, yang tidak terkendalikan. Ia bahkan kini melukai dirinya sendiri. Melukai kulitnya yang merupakan jejak sentuhan Lion.
Wanita menyedihkan itu, bahkan kini merobek beberapa bagian pakaiannya. Begitu membekasnya luka dalam yang ia dapatkan, kemarin malam.
Luka fisik dan batin kini yang wanita itu alami. Rasa trauma akan peristiwa pelecehan yang ia dapat, masih terbayang jelas di pikirannya.
Membuatnya merasa was-was dan ketakutan. Seperti sekarang, ia begitu ketakutan. Wanita malang itu, hanya bisa, menumpahkan rasa takutnya dengan berteriak histeris dan meraung-raung.
Tenaganya pun kian melemah, tapi karena rasa trauma menghantuinya, membuat Lolly terus waspada.
"PERGI! SAYA, MOHON PERGILAH!" pekiknya lemah dengan suara parau.
Lion masih terdiam dengan wajah datar dan angkuh. Ia masih setia, berjongkok di depan Lolly dengan memperlihatkan tatapan mengerikannya.
Pria itu pun tidak merasa iba, ketika Lolly melukai dirinya sendiri, pria itu bahkan hanya menampilkan senyum sinisnya, saat… Lolly merobek pakaiannya sendiri.
Lion hanya menatap wanita malang itu jengah dan muak. Ia ingin cepat-cepat menyelesaikan urusannya dengan wanita murahan di depannya ini. Begitulah pikirnya.
Lion pun membentak Lolly, saat wanita itu kembali histeris.
"DIAM! bentaknya garang.
Namun Lolly tetap histeris sambil menutup matanya pun telinga nya, dengan menggunakan kedua telapak tangan.
"DIAM, SIALAN. AKU BILANG DIAM. KAMU MEMBUATKU MUAK." gertak Lion dengan ekspresi mata tajam.
Lion pun gelap mata, karena merasa terganggu dengan suara histeris melengking Lolly, apa lagi mendengar racau wanita itu, yang menurutnya sangat di buat-buat, membuatnya benar-benar muak.
__ADS_1
"AKU, BILANG DIAM!" bentak Lion sekali lagi sambil mengguncang tubuh lemas gemetar Lolly.
"AKH! TOLONG."
"PRANG"
"KAKAK!"
Di tengah ketegangan itu, tiba-tiba datang seorang gadis cantik yang begitu terkejut melihat kondisi sang kakak.
Gadis bertubuh semampai itu, bergerak cepat mendekat ke arah sang kakak, meraih wajah pucat dan ketakutan kakaknya dan membawanya ke dalam pelukannya.
Ia yang masih berada di tempat persembunyian, untuk mengurangi rasa penyesalannya, mendapatkan informasi dari tetangganya, kalau kakaknya sedang didatangi seorang pria arogan dan sang kakak terdengar berteriak ketakutan.
Gadis itu tentu saja terkejut dan merasa khawatir, ia segera berlari kembali ke rumahnya yang tampak sudah lusuh.
Dari kejauhan, gadis itu mendengar teriakkan sang kakak dan juga tangisan histerisnya.
Saat berjarak dua meter dari rumah, gadis itu mendengar suara berat yang begitu kasar membentak kakaknya itu.
Ia pun mengambil langkah cepat dan betapa terkejutnya dia. Saat menangkap pemandangan memilukan itu.
Ia pun menyingkirkan sosok pria kekar itu di hadapan sang kakak dengan kasar. Gadis itu bahkan memberikan makian, umpatan dan pukulan di wajah.
Dengan tatapan berani, gadis itu melayang tatapan nyalang kearah sang pria. Dia mengenal betul sosok pria di depannya. Pria yang merupakan pengusaha sukses dan dari kalangan konglomerat terkenal di kotanya.
Namun gadis itu, tidak akan diam saja saat… wanita terhebatnya di perlakukan semena-mena dan kasar.
"APA YANG ANDA LAKUKAN KEPADA KAKAK, SAYA! Bentaknya dengan wajah marah dan deru nafas naik turun begitu kencangnya.
"KENAPA ANDA MELAKUKAN INI KEPADA KAKAK, SAYA. KATAKAN!" teriaknya tanpa rasa takut.
Lolly yang mendengar suara yang ia kenal, dengan cepat membuka matanya dan menarik kasar tubuh tinggi sang adik.
Ia kembali histeris di pelukan sang adik dengan tubuh gemetar hebat dan racauan yang dapat didengar jelas, oleh gadis itu. Yang secara refleks menatap Lion tajam dan benci.
"Tenanglah, kakak! Aku disini, aku tidak akan meninggalkan, kakak. Jadi tenanglah," ucapnya dengan wajah penuh air mata mencoba menenangkan sang kakak di dalam pelukannya.
__ADS_1
Hati siapa yang tidak sakit. Saat mendengar orang tersayangnya diperlakukan buruk dan bahkan dihina.
Meskipun ia tidak pernah memperdulikan keadaan sang kakak dengan terang-terangan, namun — mendengar peristiwa yang menimpa wanita kesayangannya, ia ikut terluka dan sakit hati.
"Hus! Tenanglah." Biaknya dengan suara serak.
Lion tidak mengindahkan makian dan umpatan gadis itu, yang menurutnya sangat murahan. Apalagi melihat penampilan gadis itu yang terbilang terbuka.
Lion sekali lagi menampilkan senyum remeh dan sinisnya.
"Cih! Ternyata, kalian adalah keluarga licik dan murahan." Seloroh Lion dengan wajah remeh.
Lion mengambil sesuatu di sakunya dan melemparkan ke arah adik kakak itu dengan tatapan penuh hina.
"Ambil dan berikan kepada wanita itu. Aku, anggap kejadian kemarin malam adalah, kesialan untukku dan keberuntungan buat wanita murahan ini. Setelah ini, jangan lagi dia memperlihatkan wajahnya kepadaku dan urusan selesai sampai di sini. Aku rasa, jumlah uang itu, sudah cukup membayar harga yang aku lakukan kemarin malam."
"Anggaplah, dia berhasil kemarin malam menjebakku." Dengan arogannya, Lion mengatakan sesuatu yang membuat, kedua wanita di bawahnya mencelos nyeri di ulu hati.
Adik Lolly pun bangkit dan melayangkan kembali tamparannya di wajah Lion dengan diiringi sumpah serapan dan makian.
"Dasar, pria brengsek, bedebah, sialan, pecundang. Apa, anda pikir semudah itu mempertaruhkan kehormatan wanita, hanya demi uang? Apa menurut anda, kakak saya, sengaja melakukannya! Asal anda tahu. Kakak, saya adalah wanita terhormat. Yang selalu mengajari kami untuk menjaga kehormatan. Dan, dengan brengseknya anda menuduh kakak saya, setelah anda melakukan tindakan kasar, hm? Anda, adalah manusia kejam dan jahat. Kami memang dari kalangan rendahan. Tapi … kami selalu menjaga harga diri kami. Kakak saya, bahkan rela ditindas oleh anda, agar bisa menafkahi kami. Apa anda pikir, hanya anda konglomerat disini, hm? Kalau mau, kakak saya bisa saja menjual dirinya kepada orang lain. Dan bukan kepada anda, yang begitu semena-mena kepadanya." Adik Lolly menumpahkan segala isi hatinya kepada sosok Lion yang hanya diam dengan tatapan dingin. Gadis itu membalas tatapan Lion dengan benci dan amarah bergejolak.
"Ambil! Kami tidak membutuhkannya. Dan jangan khawatir, kakak saya, tidak akan muncul di hadapan anda. Anggap, saja keberuntungan untuk anda yang sudah, menghancurkan kehormatan seorang wanita." Terang Liza, adik Lolly dengan intonasi suara tegas dan membuang cek berisi angka nominal tinggi di kertas tersebut ke arah kaki Lion.
"Pergilah!" Lanjutnya yang kini, memeluk erat tubuh lemas sang kakak.
Gadis itu bahkan mencium kening kakaknya dengan sayang.
""PERGI!" teriaknya saat Lion masih bergeming di tempatnya dengan raut remeh.
"Cih! Sikap menjijikkan," celetuk Lion enteng tanpa memperdulikan cek yang ia serahkan kasar tadi. Ia bahkan menginjaknya.
Pria itu pun, membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan rumah sederhana Lolly.
Tapi — baru saja ingin melangkah keluar dari pintu. Sebuah pukulan keras menghantam wajahnya yang tampan.
"Brengsek!"
__ADS_1
"Bugh. bugh."