Emergency Bed Tuan Muda Kato

Emergency Bed Tuan Muda Kato
bab 13


__ADS_3

Cahaya cerah menguning matahari juga menyapa seisi rumah sederhana, yang terletak di kawasan kumuh.


Rumah yang terbuat dari bahan kayu dengan cat berwarna putih, letak rumah sederhana itu juga terlihat tak terawat.


Dedaunan dibiarkan berserakan di tanah, pintu rumahnya pun tampak mulai rusak, begitu juga pagar kayu rumahnya yang sudah tak terbentuk.


Sebuah kawasan kumuh, yang masyarakatnya dari kalangan tidak mampu atau miskin. Hampir semua rumah di kawasan tersebut mirip dan berjarak tidak terlalu dekat.


Tatanan rumah penduduk pun tidak beraturan, di setiap depan rumah penduduk terlihat sampah berserakan.


Kawasan itu juga tampak sunyi dan terkenal rawan kejahatan.


Namun keluarga white, sudah lama tinggal di kawasan ini dan mereka sudah terbiasa dengan suasana di lingkungan sekitar.


________


Di dalam rumah kayu sederhana itu, terlihat seorang wanita yang masih terlelap dengan wajah sembab.


Kamar Sempit dengan lemari pakaian dua pintu, tempat tidur yang besarnya khusus satu orang dan meja tua saja yang, mengisi ruangan sederhana itu.


Wanita dengan wajah imut itu, tidak merasa terganggu dengan ketukan pintu di luar sana.


Ia begitu damai dalam tidurnya yang baru dirasakan dua jam lalu, setelah menangisi keadaannya sepanjang pagi buta, hingga langit tampak mulai terang barulah ia bisa terlelap.


"Clek"


"Kakak!" Seru seorang gadis bertubuh mungil dengan rambut sebahu dengan hiasan poni yang menutupi kening, memasuki kamar sempit itu.


"Kakak!" Serunya lagi, sambil mendekati wanita yang masih terlelap di tempat tidur.


"Kakak, bangun," sentaknya pelan, yang menggoyangkan lengan wanita itu.


"Astaga!" Pekiknya, saat merasakan suhu tubuh wanita yang ia panggil kakak itu sangat panas.


Gadis berwajah bagaikan boneka hidup itu pun, memeriksa kembali suhu tubuh sang kakak di bagian leher, perut, telapak tangan dan kaki.


Hasilnya, ia merasa suhu tubuh sang kakak sangat panas.


Raut wajah yang tadi terlihat ceria itu, berubah panik dan khawatir.


"OH Tuhan!" Pekiknya, sambil memperhatikan wajah pucat sang kakak juga bekas memar dan luka di sudut bibir.


"Apa, yang terjadi dengan, kakak!" Serunya dengan nada terkejut.


Gadis itu terus memeriksa tubuh panas sang kakak, ia bisa melihat beberapa luka memar di bagian tubuh lainnya, dan betapa terkejutnya gadis itu ketika melihat bekas merah di bagian leher turun ke dada sang kakak.


"Liza!" Teriaknya panik.


Membuat sang kakak membuka matanya, mendengar teriakkan gadis itu.


"Liza!" Teriaknya sekali lagi yang kini di depan pintu.


Wanita yang terbaring itu, kini bergerak untuk mendudukkan tubuhnya. wajah pucatnya memperlihatkan raut bingung.

__ADS_1


"Ada apa, Luzi?" Tanyanya lemah.


Gadis bertubuh mungil itu membalikkan badannya, "kakak!" Serunya dengan wajah lega


"Kakak, tidak apa-apa?" Tanyanya dengan wajah panik.


Lolly menggeleng lemah dan menampilkan senyum manis di bibir pucatnya.


"Hm! Kakak baik-baik saja," jawab Lolly lemah.


Sang adik merasa kurang yakin dengan jawaban sang kakak, ia lantas menatap dalam mata Lolly.


"Kakak, tidak apa-apa sayang. Kakak, hanya kelelahan." Terang Lolly sambil membelai wajah manis adiknya.


"Kakak, bohong. Aku, melihat luka di wajah dan sudut bibir kakak. Juga di tubuh bagian atas kakak, di penuhi bekas kemerahan." Cerca Luzi sembari melayangkan tatapan tidak yakin.


Lolly terlihat membeku dan menegang. Tiba-tiba, ia mengingat kembali kejadian kemarin malam, yang membuat hatinya kembali terluka.


Lolly berusaha menahan gejolak emosinya yang seakan ingin meledak. Tidak mungkin Lolly mengeluar perasaan hancurnya di depan sang adik dan menceritakan semua kejadian memilukan kemarin malam.


Tidak. Lolly tidak ingin sang adik ikut memikirkan masalahnya dan membuat sang adik ikut sedih juga terluka.


"Kakak!" Sentak Luzi menyentuh tangan Lolly.


"A-ah, k-kakak baik. Yah … kakak baik-baik, saja," balas Lolly terbata.


Lolly membuang pandangannya ke arah samping dan menghapus dengan cepat air mata di sudut matanya.


"Kamu, tidak ke sekolah?" Lolly mencoba mengalihkan perhatian adik kecilnya ini.


"Bagaimana dengan kakak? Siapa yang menjaga, kakak?" Cerca Luzi dengan pertanyaan kembali.


Lolly menampilkan senyum lemahnya sembari membawa sang adik ke pelukannya.


Dengan penuh perasaan sayang, Lolly mengelus lembut punggung sang adik, memberikan kecupan di kepala Luzi penuh cinta seorang kakak.


Luzi pun membalas pelukan hangat sang kakak yang begitu panas, gadis itu memejamkan matanya, menikmati belaian penuh sayang di kepalanya yang sangat ia rindukan.


Belaian kasih sayang yang sering sang kakak atau sang ibu lakukan.


Namun selama sang ibu di rawat di rumah sakit, maka sosok, sang kakak lah yang menjadi pengganti ibu mereka.


Sosok kakak yang tangguh, menjadi tulang punggung keluarga, menjaga memenuhi kebutuhan mereka dan memberikan kasih sayang layaknya seorang ibu terhebat.


Diam-diam, Luzi meneteskan air matanya, meratapi nasib kehidupan mereka yang serba kekurangan.


Ia merasa kasihan kepada kakaknya ini, yang harus bekerja keras demi memenuhi dan mencukupi kebutuhan mereka.


Semenjak ayah mereka pergi entah kemana, sang ibu lah yang menjadi tulang punggung.


Tapi diam-diam, sang kakak membantu ibu mereka mencari uang dengan menjadi buruh cuci piring di sebuah restoran kecil di pinggir jalan kawasan tempat tinggal mereka.


Sang kakak yang bekerja sepulang sekolah dengan membawa kedua adiknya.

__ADS_1


Beruntung, pemilik restoran itu, paham dengan keadaan ekonomi mereka, sehingga sang pemilik restoran mengizinkan sang kakak bekerja sambil mengasuh adik-adiknya.


Lolly bekerja membantu sang ibu secara diam-diam, ia tidak ingin ibunya sedih. Karena meskipun mereka hidup kekurangan di kota metropolitan itu, di mana semua perekonomian di sana sangatlah mahal, sang ibu tetap mengutamakan pendidikan tinggi untuk ketiga anaknya.


Belum lagi mereka sering mendapatkan hinaan dan ejekan di lingkungan sekolah, karena ibu mereka memberikan sekolah terbaik untuk mereka.


Yang murid-muridnya dari kalangan kelas, tengah dan atas.


Beruntung Luzi dan Liza mendapatkan sosok kakak yang hebat, selalu menjadi pahlawan merdeka di saat mendapatkan bully.


Sang kakak rela, diperlakukan semena-mena, demi melindungi mereka dan bahkan sang kakak rela mendapatkan hinaan dari orang tua dari kalangan kaya hanya untuk membela dan melindungi mereka.


Luzi terus menitik air matanya dalam diam, mengingat semua pengorbanan kakak hebatnya ini.


Melihat sang kakak terluka dan sakit, Luzi seakan ikut sakit juga terluka.


Luzi segera menghapus air matanya, saat merasakan Lolly mengurai peluknya.


Luzi dengan tatapan sendu menatap dalam wajah pucat pahlawannya itu. Hatinya kembali sakit saat menemukan jejak air mata di sana, di kedua kelopak mata indah sang kakak.


"Kakak menangis?" Lirihnya sambil menghapus butiran air mata wanita terhebatnya.


"Tidak! Ini, karena kakak kelelahan saja," kilah Lolly.


Luzi hanya terdiam dan tidak ingin bertanya lagi, namun satu hal yang Luzi tahu, kalau saat ini sang kakak tidak baik-baik saja.


Terdengar hela nafas berat dari bibir pucat Lolly dan terakhir menampilkan senyum rapuh yang tersembunyi di balik ketangguhan wanita itu. Dan Luzi dapat melihat itu semua.


"Bersiaplah, kakak akan menyiapkan sarapan untuk kalian," ucap Lolly lembut yang mulai menurunkan kedua kakinya.


"Beristirahat lah, kak. Biarkan aku yang melakukannya," sahut Luzi yang tidak tega melihat kondisi Lolly.


"Tidak sayang. Lebih baik bersiap-siaplah, atau Kamu akan terlambat, nanti." Tolak Lolly dan sekuat tenaga berusaha bangkit dari atas tempat tidur.


"Tapi kakak, …."


"Bersiap-siaplah, sayang!? Tekan Lolly dengan tegas.


"Baiklah," pasrah Luzi yang masih menatap lekat wajah pucat Lolly.


"Luzi!? Sentak Lolly.


Dengan langkah berat dan menghembuskan nafas kasar, Luzi keluar dari kamar sang kakak dan memasuki kamarnya.


Lolly tiba-tiba luruh kembali ke atas tempat tidur dan mulai terisak perih.


Ia kembali menangisi kehancuran hidupnya dan raganya yang terasa rapuh.


Lolly ingin menyerah saja dengan kehidupan keras yang ia jalani, tapi … kasih sayang yang ia miliki untuk ibu dan kedua adiknya, membuat Lolly harus berjuang keras kembali dan menerima nasibnya dengan lapang dada.


Tanpa Lolly ketahui, Luzi pun ikut terisak di luar kamarnya dengan memeluk kedua kaki gadis itu.


"Kakak."

__ADS_1


__ADS_2