Emergency Bed Tuan Muda Kato

Emergency Bed Tuan Muda Kato
bab 6


__ADS_3

"Biar, saya mengantar anda, ke lantai enam, nona!" Tawar Bryan sambil mendongakkan kepalanya menatap gedung tinggi perusahaan agensi light Hugo.


Lolly dan Bryan kini berada di depan pagar tembok perusahaan itu. Setelah mengalami banyak drama soal perkara kopi didalam cangkir, Lolly bisa kembali ke perusahaan dengan sebuah nampan yang berisi cangkir kopi di atasnya.


"Tidak. Terimakasih! Saya, terlalu banyak merepotkan anda, tuan," tolak Lolly lembut.


"Saya merasa tidak keberatan?" Timpal Bryan di balik helm full face nya.


"Tidak perlu, Saya bisa sendiri. Sekali lagi terimakasih tuan, Bryan," ucap Lolly dengan tersenyum.


"Tapi — Saya ragu, anda bisa sampai ke atas sana?" Sela bryan lagi sambil melirik ke arah lutut Lolly.


Lolly pun memberikan senyum ramah dan tulus kepada bryan, yang mengatakan kalau dirinya baik-baik saja.


"Jangan khawatir, saya bisa. Dan saya sudah terbiasa." Sahut Lolly dan berkata lirih di akhir kalimat sambil menyembunyikan wajah sendunya.


"Terimakasih, sekali lagi tuan bryan atas kopinya dan sudah mengantar, saya," ucap Lolly tulus.


Bryan sejenak menatap dalam wajah imut wanita yang berdiri di depannya hanya sebatas dadanya saja.


Bryan menatap penuh kekaguman sosok wanita mungil ini, sosok wanita lembut, ramah dan tangguh di depannya.


Di balik helm full face nya, bryan menerbitkan senyum tampannya.


"Maaf, sekali lagi. Karena membuat kamu terluka!" Seru bryan.


"Hm! Tidak masalah. Lagi pula saya pun salah, karena tidak memperdulikan keadaan jalan," sahut Lolly yang terus memamerkan senyumannya.


"Kalau begitu, saya izin pamit. Terimakasih," sela Lolly, berpamitan kepada bryan.


"Semoga, kita bisa bertemu lagi," timpal bryan asal.


"Hm! Gumam Lolly sembari membalikkan badannya dan berjalan menjauh dari bryan.


"Bryan pun masih mengawasi Lolly anh yang berjalan tertatih, ia meringis sendiri melihat setiap langkah Lolly.


"Wanita yang sangat mengagumkan," monolog bryan.


"Tuan muda!" Sapa seorang pria berusia setengah abad dari arah belakang bryan.


Pria dengan setelan hitam itu memutar kepalanya yang ditutupi helm.


Terdengar decakan kesal dari mulut bryan di balik helm pun matanya yang mendelik jengah.


"Ada apa," ketusnya sambil menaiki motor hitam besarnya.


"Anda, tidak terluka tuan, muda," jawab pria yang merupakan bodyguard pribadi bryan.


Alis tebal bryan terangkat tinggi ke atas dengan tatapan menyelidik ke arah pria yang masih terlihat bugar di usianya tidak muda lagi.


"Saya, mendapatkan kabar kalau anda terjatuh dari, motor," pungkas pria tersebut.


"Ck! Berhentilah, mengawasiku paman, botak," ketus bryan dengan dengusan kasar.


"Ini perintah dari tuan dan nyonya, tuan muda," jawab bodyguard Bryan.


"Menyebalkan!" Kesal bryan dengan tatapan jengah ke arah pria yang memiliki kepala berkilau.


"Anda terluka?"


"Tidak! Dan berhentilah bertanya," Sentak bryan jengah.


"Tap —"


"STOP!" Pekik bryan tertahan.


Pria berkepala botak itu pun seketika terdiam dengan kembali memasang wajah datarnya.


"Dasar pria botak, menyebalkan," cebik bryan.


"Anda, ingin kemana tuan, muda?" Tanya pria botak tersebut.


"PAMAN PATRICK, DIAM!" gertak bryan kesal.

__ADS_1


Pria berkepala licin itu kembali bungkam dengan tatapan penuh pengawasan kepada anak tuanya ini, yang terkenal sering mengelabui para bodyguard khusus untuknya.


"Apa, paman melihat wanita yang bersama ku tadi?" Pria botak itu mengangguk.


"JAWAB!" Bentak bryan, saat tidak mendapatkan jawaban.


"I-iya tuan," sahut paman Patrick terbata.


"Paman selalu diam, kalau saya bertanya," protes bryan.


"Bukankah, anda menyuruh saya diam, tuan!? Paman Patrick memelas.


"DIAM!" Pekik bryan lagi.


"Dengar!" Sela bryan kembali.


Paman Patrick lagi-lagi hanya mengangguk dan bryan tidak melihat anggukan nya.


"APA PAMAN DENGAR!" Pekik bryan emosi.


"D-dengar tuan," sahut paman Patrick terbata.


"Saya, ingin paman mencari tahu tentang wanita mungil bersama saya tadi dan kirimkan ratusan bunga mawar dengan warna berbeda setiap harinya, untuk wanita mungilku." Perintah bryan yang tak terbantahkan.


"Wanita mungilku?" Gumam Paman Patrick dalam hati.


"Apa, paman mengerti?"


"Mengerti, tuan muda."


"Bagus! Ingat. Kirim setiap hari," imbuh bryan lagi.


"Tidak sekaligus dengan kebun bunganya, tuan?" Seloroh paman Patrick pelan.


"Ide bagus," sahut bryan asal.


"A-apa?!


"Saya, menginginkan dengan kebun bunganya sekaligus. Sesuai rekomendasi paman," terang bryan sambil menyalakan motornya.


Ucapannya terhenti saat melihat kepergian bryan dengan mengendarai kuda besi gagahnya.


Pria dengan kulit gelap, kepala licin itu, hanya bisa melongo mendengar perintah dari tuan muda Alexander itu.


Sosok pria keturunan bangsawan dari salah satu kerajaan di negara Inggris.


Yang mana kedua orang tuanya lebih memilih hidup di luar lingkungan kerajaan bersama kedua anak kembarnya.


"OH Tuhan, tuan muda bryan tidak pernah berubah," keluh paman Patrick frustasi.


__________


Lolly kini sudah berada di depan pintu ruangan Lion. Wanita bertubuh mungil itu pun menarik nafas sejenak sambil memejamkan matanya untuk mengumpulkan tenaganya menghadapi sikap tak terduga tuan muda Kato yang terkenal arogan itu.


Telapak tangannya kini mulai lembab oleh keringat, karena rasa gugup dan takut menguasainya.


Lolly berdoa dalam hati, semoga tidak ada lagi drama menyedihkan yang ia alami di dalam sana.


Setelah apa yang ia hadapi dan lalui demi mendapatkan pesanan sang tuan muda Kato.


Dia harus bolak-balik melalui ratusan anak tangga, di pandang rendah, di cibir dan terakhir ia tertabrak yang membuat mendapatkan beberapa luka goresan juga memar.


Suara hembusan nafas berat terdengar keluar dari hidung Lolly dengan perlahan.


Lolly merotasi pandangannya ke sekeliling lantai enam, yang sunyi. Itu karena, para karyawan sedang beristirahat di kantin yang ada di perusahaan ini.


"Ayo, Lolly. Semangat." Lolly berusaha membangunkan sendiri semangat dan keberaniannya untuk bersitatap dengan Lion.


Wanita berwajah teduh itu menempel kepalan tangannya di pintu guna mengetuk pintu ruangan CEO tersebut.


Setelah beberapa kali Lolly mengetuk pintu, terdengar sahutan berat dari dalam.


Entah apa yang dilakukan tuan muda Kato di dalam sana, karena Lolly tidak bisa melihatnya di balik dinding kaca yang kini tertutup tirai itu.

__ADS_1


Dengan tangan gemetar, Lolly membuka pintu ruangan Lion dengan perlahan, sambil merapalkan doa.


Lolly dapat menangkap seluit Lion di meja kerjanya yang sedang serius memeriksa beberapa berkas.


Lolly merajuk langkah dengan hati-hati ke arah Lion dengan sebuah nampan berisi, secangkir kopi tanpa gula di atasnya.


Kepala Lolly senantiasa menunduk. Tidak berani melihat ke arah Lion yang entah menyadari keberadaannya atau tidak.


Belum apa-apa, wajah Lolly sudah berubah pias dan tubuhnya menegang.


Sedangkan Lion hanya melirik seluit Lolly dengan ekor mata tajamnya.


Amarah Lion ia tahan sejak tadi, saat melihat Lolly bersama pria asing di luar pekarangan gedung perusahaan agensi light Hugo, melalui cctv.


Apalagi, melihat Lolly terus memperlihatkan senyum manisnya kepada sosok pria asing itu.


"K-ko-kopi, pesan anda, tuan!" Seru Lolly dengan nada suara gemetar.


Lolly meletakkan cangkir berisi kopi pesan Lion tepat, di depan pria arogan itu dengan tangan masih bergetar dan basah.


Lion masih terdiam dengan raut wajah suram, tatapannya kini menyoroti cangkir yang baru diletakkan oleh, Lolly.


Tiba-tiba saja bulu tengkuk Lolly meremang dan ia merasakan atmosfer ruangan ini terasa mencekam, apalagi melihat wajah suram pria di hadapannya.


Jantung Lolly mulai memompa aliran darahnya secara cepat, sehingga dirinya pun bisa merasakan degupan jantungnya.


"Minum!" Pinta Lion dingin.


Membuat wajah Lolly terangkat yang semula menunduk takut.


"Aku, memintamu untuk meminumnya." Tatapan tajam dan suara dingin Lion, membuat Lolly menciut.


"MINUM!" bentak Lion, yang suara menggelegar seisi ruangan luas itu.


"Tetapi, ini milik anda, tuan," tolak Lolly dengan nada terbata.


"Aku, memintamu meminumnya, berarti kau harus meminumnya." Teriak Lion dengan sorotan mata tajam.


"Kenapa? Apa, kau memberikan sesuatu di dalam kopi ini?" Lion bangkit dari kursi kerjanya, sambil meraih cangkir putih yang berisi kopi tersebut dan mendekati Lolly.


"Ti-tidak tuan," ucap Lolly yang tidak berani menatap Lion yang kini berdiri di dekatnya dengan cangkir kopi di tangan kanannya.


"Aku, tidak yakin. Bisa, saja kau memasukkan obat perangsang di dalamnya, agar aku bisa menikmati tubuh murahanmu ini, iya kan?" Dengan wajah Lion yang tepat berada di telinga Lolly, pria itu, lagi-lagi membuat perasaan Lolly hancur.


Apakah hanya hinaan dan perlakuan kasar yang harus ia terima atas apa yang ia lakukan demi mendapatkan secangkir kopi?


Tidak terasa air mata Lolly jatuh membasahi kedua pipi kemerahannya, yang menahan rasa sesak juga amarah.


"MINUM!" Gertak Lion dengan aura mencekam.


"Tidak! Tolak Lolly yang berani menatap Lion.


"MINUM KATAKU!" Teriak Lion, sambil memaksa Lolly minum kopi yang ada di tangannya.


Lion menahan belakang kepala Lolly kasar, sedikit mendongakkan keatas dan mengarahkan kopi panas itu ke mulut Lolly, sehingga sebagian kopi tersebut tumbuh, mengotori kemeja kusut Lolly.


"Huk, huk, huk." Lolly terbatuk-batuk dengan deraian air mata.


Hatinya kembali hancur dengan sikap kasar Lion. Rasa panas pada bibir dan dadanya akibat kopi panas yang mengenai kulitnya, tidak ia hiraukan.


Baginya sikap kasar dan perkataan Lion lebih menyakitkan buatnya sekarang ini.


"Good!" Sinis Lion.


Yang tersenyum puas ke arah Lolly dengan tatapan mencibir.


Sedangkan Lolly hanya bisa menahan rasa sakit hatinya yang begitu menyesakkan.


Ingin rasanya Lolly berteriak sekencang-kencangnya, untuk mengeluarkan segala rasa sakit hatinya yang menumpuk di rongga dadanya.


"Dasar wanita murahan, jaaalang,"


"PLAK, PLAK." Lolly yang tidak mampu menahan segenap rasa amarahnya, kini ia memberikan tamparan keras di wajah Lion.

__ADS_1


Perkataan Lion yang terakhir. Sangat, sangat, melukai hatinya.


"I HATE YOU."


__ADS_2