
Wanita yang tampak terlihat raut kelelehan di wajahnya, menyengit heran saat — melihat keanehan di luar rumahnya. Lolly white, menolehkan kepalanya ke sana kemari untuk menyakinkan dirinya kalau … benar di depannya ini adalah — rumahnya.
"Benar! Ini rumah kami." Lolly bergumam halus.
Wanita bertubuh mungil namun berisi di beberapa bagian indahnya itu, menelisik sekali lagi pandangannya kesegala arah luar rumahnya.
Bagaimana tidak. Rumah sederhana mereka kini tampak lain. Dengan beberapa taman minimalis di halaman sempit rumahnya. Dan kondisi dinding rumahnya pun sudah terlihat rapi dengan cat rumah baru saja di ganti.
"Siapa yang melakukan ini semua?" Tanyanya pada dirinya sendiri.
Lolly terus melangkah masuk kedalam rumah dengan sesekali menatap pemandangan pengarangan rumahnya yang kini berubah bersih dan menyenangkan untuk di pandang mata.
Lolly membuka pintu rumahnya dengan kening terlipat saat baru sadar, kalau pintu rumahnya pun habis di ganti. Lolly pun semakin penasaran dan melanjutkan membuka lebar pintu rumahnya.
Alangkah terkejutnya wanita itu. Saat melihat pemandangan di dalam rumahnya yang begitu berbeda.
"Kejutan!" Sorak Luzi dengan wajah bahagianya. Dan juga Lion yang memperlihatkan wajah pongahnya.
"A-apa ini?" Tanya Lolly terbata.
Saat melihat kondisi rumahnya tampak berbeda dan terlihat rapi dan elegan.
__ADS_1
"S-siapa yang melakukannya?" Tanya Lolly sekali lagi dengan wajah masih terkejut.
Wajah pongah Lion pun semakin terlihat dan Luzi menjadi deg-degan saat menyadari pandangan sang kakak.
"Katakan! Siapa yang melakukan ini." Kali ini Lolly menaikkan intonasi suaranya satu tingkat.
"KATAKAN! Sentak Lolly. Amarah terlihat jelas di wajah wanita itu.
"Saya!" Potong Lion saat, Luzi ingin melontarkan kata-kata.
Lolly kini melayangkan tatapan tajam kepada Lion dengan deru nafas yang begitu terlihat menahan amarah.
"Apa maksud anda melakukan ini semua, tuan," imbuh Lolly dengan suara dingin.
"Aku, hanya ingin membuat rumah ini layak untuk digunakan," pungkas Lion dengan tenang.
Tapi, tidak dengan Lolly yang wajahnya semakin kelam. "Bukankah, artinya anda, menghina rumah kami?" Ucap Lolly dengan nada menahan amarah.
Lion tersentak mendengar perkataan tegas Lolly, bukan maksudnya untuk menghina kediaman sederhana wanita itu, Lion hanya ingin membuat wanita itu dan adik-adiknya nyaman.
Pria dengan setelan santai itu bergeming di tempatnya dengan wajah kebingungan.
__ADS_1
"B-bukan begitu maksud, say —"
"Anda, bisa meninggalkan rumah kami, kalau… anda merasa tidak nyaman," ujar Lolly, memotong perkataan Lion.
"Kakak! Dengarkan. Tua …."
"Masuk!" Sentak Lolly tiba-tiba yang juga menghentikan perkataan sang adik yang ingin memberikan belaan kepada Lion.
"Tapi, kak …."
"MASUK!" Bentak Lolly lantang. Membuat Luzi hanya bisa menatap nanar ke arah Lion yang hanya membisu.
Lion pun menganggukkan kepalanya dan mencoba menyakinkan Luzi kalau semuanya akan baik-baik saja.
"Keluarlah! Dan — bawa semua ini!" Seru Lolly dengan suara dingin sambil menatap satu persatu barang-barang yang sudah dibeli oleh Lion.
"Tidak akan. Aku tidak akan pernah pergi dari rumah ini. Dan … yah. Aku membeli ini semua, bukan semata-mata untuk dirimu, nona. Aku, membelinya untuk adik kecilmu. Cih, kamu begitu besar kepada," pungkas pria itu dengan di akhiri oleh cibiran suruhnya sinis kepada Lolly.
"Kami tidak membutuhkan semua ini," protes Lolly yang kini saling menatap tajam.
"Apa kamu yakin, nona?" Sela Lion dengan senyum miring. Pria dengan memamerkan lengan berototnya itu, semakin berjalan mendekati Lolly.
__ADS_1
Lolly yang menyadari itu pun menjadi pias dan menciut, wanita bertubuh mungil itu memundurkan tubuhnya, untuk menghindari kontak fisik dengan Lion.