
"Kau! Berani menyentuh kedua sisi wajahku?" Dengan tatapan tajam mematikan, Lion berikan kepada gadis mungil di depannya.
Lion memegang bagian sisi wajahnya yang terdapat bekas merah cap lima jari. yang diberikan Lolly dengan telapak tangannya yang lembab.
Lolly pun membalas sorotan tajam Lion, tak kalah tajamnya.
Dengan nafas berderu cepat, mata merah berkaca-kaca dan mimik wajah yang bercampur baur oleh perasaan yang tidak bisa, wanita bertubuh mungil itu utarakan.
Rasa kecewa dan terluka lah, yang mendominasi perasaan Lolly sekarang ini.
Perasaan hancur atas hinaan yang diterimanya. sudah cukup harga dirinya diinjak-injak, bagaikan sampah.
Sudah cukup dirinya di permalukan dan di perlakukan semena-mena.
Sudah cukup. waktunya Lolly melawan atas apa yang ia terima oleh perlakuan Lion kepadanya.
Ia lelah, jenuh dan tidak sanggup lagi membiarkan rasa sakit hatinya tertampung di rongga dadanya.
Sakit, sesak dan perih yang dirasakan wanita bermanik biru terang ini, setiap kali mendapatkan hinaan dan cacian dari pria sang pemilik hatinya.
Cukup. Lolly menyerah dengan raganya, yang setiap saat terus berperang dengan perasaannya.
Biarkan kali ini, Lolly mengikuti raganya untuk membenci pria yang — sial hatinya yang paling dalam memilihnya.
Lolly masih membalas tatapan tajam nan dingin Lion, sambil kepala terangkat ke atas.
Lion sendiri pun tak kalah tercengangnya melihat sikap wanita lemah di depannya ini.
Dengan penuh keberanian, Lolly mengeluarkan segala isi hatinya yang sudah lama tersimpan di dalam rongga dadanya yang selalu membuatnya menyesak perih.
Masih dengan tatapan nyalang Lolly mengucapkan kalimat yang membuat Lion terdiam.
"I HATE YOU." lirih Lolly, bersamaan air matanya jatuh membasahi kedua pipi merahnya akibat sengatan amarah tertahan.
Kedua pasang bola mata dengan warna berbeda itu kini, saling mengunci. Deru nafas jantung keduanya pun saling berlomba untuk memompa aliran darah keduanya.
Sang pria bahkan mengetatkan kedua garis wajahnya yang ditumbuhi cambang halus yang mempertegas garis wajah pria itu. Buku-buku jarinya terkepal kencang, sehingga memperlihatkan urat-uratnya yang hijau.
__ADS_1
Rasa marah dan tercengang mendominasi perasaan Lion sekarang. Apalagi melihat tatapan membenci Lolly yang selalu terlihat teduh itu.
Lolly sendiri memperlihatkan sorotan mata berkaca-kaca nya kepada sang pria. Ia ingin menunjukkan rasa kecewanya dan rasa sakit hatinya itu.
Lolly juga ingin mengubah pandangan penuh cinta kepada Lion menjadi tatapan benci.
"Apa anda tahu tuan? Kalau, begitu banyak rintangan yang saya hadapi untuk mendapatkan keinginan, anda. Saya, harus melewati ratusan anak tangga secara, bolak balik. Apa anda tahu rasanya? Sakit. Rasanya sungguh sakit." Imbuh Lolly dengan suara gemetar menahan rasa perihnya. " Apa, anda juga ingin tahu? Kalau, saya harus menerima ejekan orang-orang dan saya, rela merendahkan diri saya? APA, ANDA INGIN TAHU RASANYA SEPERTI APA? RASANYA BEGITU SAKIT. APA, ANDA INGIN TAHU? KALAU DEMI MEMPERJUANGKAN KEINGINAN ANDA, SAYA RELA MENDAPATKAN LUKA DAN — APA, ANDA INGIN TAHU RASANYA…? Lolly, menghentikan sejenak ucapannya sambil terisak pilu sambil menepuk-nepuk dadanya yang begitu perih.
"Sakit! Rasanya begitu sakit. APA ANDA DENGAR! RASANYA BEGITU SAKIT!" Tumbang sudah pendirian Lolly untuk mempertahankan emosinya agar tidak mengeluarkan suara histerisnya.
"Sedangkan anda, dengan mudahnya menuduh saya dan memperlakukan saya seperti ini. menghina dan mencaci, apa anda tahu rasanya seperti apa? Saat perjuangan kita tidak dihargai? APA ANDA INGIN TAHU BAGAIMANA PERASAAN SAYA SAAT INI. SAKIT! RASANYA SANGAT SAKIT, LEBIH SAKIT DARIPADA YANG AKU ALAMI SETELAH BERJUANG MENDAPATKAN KEINGINAN, ANDA." teriak Lolly histeris di depan wajah Lion yang masih memperlihatkan wajah tercengangnya.
"I HATE YOU, I HATE YOU!" Teriak Lolly lagi dan segera berlari ke arah pintu ruangan Lion setelah puas mengeluarkan segala isi hatinya yang bergejolak di dada.
Lion hanya bisa terdiam di posisinya dengan wajah linglung, rahang kerasnya yang semula mengetat kini berubah kebingungan.
Entah mengapa, Lion tidak mampu berkata-kata, mulutnya terasa terkatup rapat dengan lidah kelu.
Pria itu tidak menduga reaksi histeris Lolly yang sangat terlihat mengerikan.
Wanita mungil itu seakan berubah menjadi seekor binatang buas yang menakutkan.
"Brakk"
Lion tersadar dari rasa linglung nya saat mendengar pintu ruangan miliknya dihempaskan begitu kuat.
Pria jangkung itu menjangkau sesuatu di balik meja kerjanya dan ia menekan tombol berwarna putih.
Seketika tirai yang menutupi dinding kaca ruangannya tertarik ke atas dan Lion dapat melihat para karyawan lain pun tercengang melihat berubah Lolly, si wanita lemah itu.
"APA YANG KALIAN LIHAT! "hardik Lolly kepada para karyawan yang berkerumunan di meja sekretaris Lion dengan tatapan bingung mereka tujukan kepada Lolly.
Semua karyawan yang ada di lantai enam, tersentak kaget melihat sikap Lolly yang berubah itu.
"KEMBALI BEKERJA. APA, KALIAN DIGAJI HANYA UNTUK, BERLEHA-LEHA?! kembali Lolly mengeluar suara mengelegarnya.
Lagi-lagi para karyawan lain tercengang dengan sikap Lolly yang berubah berani.
__ADS_1
"SEKARANG!" Bentak Lolly.
Membuat seluruh karyawan membubarkan diri mereka masing-masing ke meja mereka.
"Eh! Wanita bodoh, kamu sudah berani menghardik, kami! Siapa dirimu, lihat, kamu hanya wanita sialan juga murahan. Kamu, hanya wanita bodoh yang memiliki wajah palsu, dasar jaaalang."
"Plak, plak." Lolly pun memberikan cap lima jarinya di wajah penuh make up sekretaris Lion.
"Jaga ucapanmu! ingat posisimu, nona. Kamu hanya seorang sekretaris magang di sini dan ingat, jabatan saya sebagai asisten pribadi tuan muda Kato. Jadi, jaga sikapmu dan bekerjalah dengan baik, jangan menunjukkan posisi jaaalang mu disini," lugas Lolly tegas yang memberikan tamparan keras untuk membungkam mulut Calista, yang selama ini selalu merendahkannya.
"Sangatlah mudah bagi saya, mengeluarkan anda dari perusahaan ini," lanjut Lolly.
"Bekerjalah dengan baik dan berhenti memperlihatkan sikap murahanmu juga meneriakkan sikap jalaangmu kepada orang lain," Sarkas Lolly dengan wajah dingin.
Karyawan yang mendengar perkataan Lolly dan sikap Lolly yang sudah berani melawan Calista, yang mengaku adalah sekretaris kesayangan Lion dan juga teman ranjangnya.
Calista sendiri hanya bisa tercengang dengan raut wajah merah, antara bekas tamparan Lolly dan rasa marahnya.
Sama hal yang dirasakan Lion, Calista hanya bisa terdiam dengan tubuh membeku di tempatnya.
"Awas kamu, aku akan membalasmu," gumam Calista dalam hati.
Wanita itu menatap punggung mungil Lolly memasuki ruangannya dengan tatapan penuh dendam.
Calista bersumpah, akan memberikan pelajaran kelak untuk Lolly, membuat Lolly menyesal karena mempermalukan dirinya di depan karyawan lain.
Sementara Lion hanya bisa menatap dalam diam, semua perlakuan Lolly kepada sekretaris nya.
Lion kini menatap lekat dengan sorotan mata tajam kepada sosok wanita mungil yang berada di seberang ruangannya.
Tatapan mereka kini beradu dengan sengit. Tatapan penuh permusuhan. Lion melangkah menuju arah pintu ruangannya, ia bertujuan untuk mendatangi ruangan Lolly dan memberikan pelajaran untuk wanita itu.
Ia merasa sikap Lolly sudah keterlaluan, berani-beraninya wanita itu menurunkan tirai dinding kaca ruangannya dan tidak menghiraukan keberadaannya.
Baru saja Lion ingin membuka pintu ruangannya, sebuah panggilan telepon ia terima dari kliennya.
Lion hanya bisa menghela nafasnya dengan berat, ketika mendapatkan undangan mendadak dari salah satu kliennya di sebuah bar.
__ADS_1
Lion pun melanjutkan membuka pintu, namun bukan untuk mendatangi Lolly, tapi berjalan ke arah lift dan melewati ruangan wanita itu.
Lion hanya melirik dengan ekor mata tajamnya sejenak dan melanjutkan langkahnya, diikuti oleh Calista di belakangnya dengan tersenyum puas.