F4 : Love Proposal

F4 : Love Proposal
BAB 12 : Fayyana?


__ADS_3

Kediaman Altezza...


Uhuk! Uhuk!


Felix tersedak air minum. Felix menatap tak percaya kepada ayahnya itu.


"Pa? Yang bener aja!" ucap Felix heran.


"Mau gak mau kamu harus lakukan." ucap Alby.


"Gak, anak keluarga Altezza kan gak Felix sendiri Pa. Masih ada bang Arsen sama Ervan. Kenapa harus Felix?" tanya Felix.


"Arsen dia bakalan kerja di angkatan militer, sedangkan Ervan akan masuk akademi militer. Mereka berdua akan bekerja di bagian militer. Arsen bagian kesehatan, Ervan tentaranya. Tinggal kamu sendiri." jawab Alby.


"Vara kan ada." ucap Felix.


"Oh, jadi kamu biarin Vara menikah muda?" tanya Alby. Felix terdiam sebentar.


"Felix berencana masuk akademi militer juga Pa." ucap Felix pelan.


Brak!


Felix terkejut, ia sebenarnya takut untuk membicarakan dengan ayahnya itu.


"Kamu mau masuk angkatan militer? Kamu mau jadi tentara?" tanya Alby. Felix mencoba menatap mata ayahnya. Felix berdiri dengan tegas.


"Ya! Saya akan menjaga negara dengan baik." ucap Felix tegas.


"Kamu tau akan tinggal di batalyon dan mempertaruhkan nyawamu demi negara. Kamu yakin?" tanya Alby. Felix menunduk lalu berdiri tegap dan menatap Ayahnya.


"Siap, saya bisa." jawab Felix tegas.


"Gak boleh." jawab Alby. Felix kaget, ia kira dengan semua pertanyaan yang di berikan ayahnya, ia akan di berikan restu untuk mengabdi kepada negara.


"Kita keluarga pembisnis. Keluarga militer itu keluarga Altezza bagian keluarga Ervan dan Arsen. Kamu gak usah ikut-ikutan. Kamu tau kan? Kedua orang tua Ervan dan Arsen meninggal karna di tembak *******. Ayahnya Arsen dan Ervan memang Letnan dan komandan yang sangat hebat. Ia mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan anggotanya sehingga ia meregang nyawa karna itu. Ibunya Arsen dan Ervan juga adalah persit dan perawat yang sangat hebat. Ia juga meninggal karna ******* yang sama. Jadi, kamu mau merubay keluarga Altezza menjadi keluarga militer?" tanya Alby. Felix menunduk, ia tak bermaksud seperti itu.


"Maaf pa." ucap Felix.


"Terakhir, mama kamu. Kamu bisa jadikan contoh mama kamu. Papa bertemu dengan mamamu saat papa gagal mengikuti tes militer. Mamamu memang berhasil menjadi angkatan militer wanita, tapi papa memaksa mamamu berhenti karna kehidupan kita mulai gak aman. Dan benar saja, setahun setelah Vara lahir, mamamu korban dari kapten kapal asing yang menyandera warga negara kita. Jadi, ayah mohon kamu jangan ikutan ke akademi militer. Cukup dengan bisnis, jangan bergabung ke militer." pinta Alby.


"M-maaf Pa. Kalau gitu, Felix setuju Vara nikah muda." ucap Felix.


"Kamu korbankan adikmu demi kebebasan kamu?" tanya Alby menatap tajam Felix.


"Sebelum menjawab itu, Felix mau nanya Pa. Calonnya Vara siapa?" tanya Felix.

__ADS_1


"Aldeno Adhitama." jawab Alby.


"Hah? Alden?" tanya Felix. Alby mengangguk.


"Kalau calon Felix?" tanya Felix.


"Fayyana Queensha." jawab Alby.


"Fayyana?!" kagat Felix.


Fayyana? kenapa dengar nama Fay kata-kata Fito terngiang di telinga gua? batin Felix.


"Tapi, kalau Vara nikah, gimana sekolahnya Pa? Umur Vara untuk menikah itu gak bisa, termasuk pernikahan dini." ucap Felix.


"Tau, jadi Ayahnya Alden mau Alden tunangan sama Vara dulu. Kalau Vara udah selesai sama pendidikannya baru nikah. Lagian Alden juga mau kuliah dulu. Alden seumuran kamu kan?" jelas Alby. Felix mengangguk.


"Ya, tapi kenapa sama Alden?" tanya Felix.


"Hm, selain untuk memperkuat bisnis, ini juga untuk memperkuat ikatan pertemanan." jawab Alby.


"Atau kamu mau sama Fayyana aja? Dari pada adik kamu yang kamu korbanin demi kebebasan kamu." tanya Alby. Felix reflek menggeleng. Dua kali penolakan sudah cukup bagi Felix. Memang dia belum berjuang, tapi dua kali penolakan sebelum berjuang itu membuat samangat seorang Felix luntur.


"Papa tau Fay itu Ning dari pesantren?" tanya Felix. Alby mengangguk.


"Lalu?" tanya Alby.


"Ada apa dengan Felix?" gumam Alby.


•••


Felix duduk di sofa ruang tamu dan melihat dua orang yang sedang asik bermain game.


"Bang, Van. Kalian mau masuk angkatan militer? Kok gak bilang?" tanya Felix.


"Ervan doang. Kalau abang mungkin bakalan di tugasin di angkatan militer atau gak itu urusan nanti kalau udah dapat gelar dokter." jawab Arsen.


"Jadi siap ujian lu daftar ke Akademi militer Van?" tanya Felix. Ervan mengangguk karna tak mau konsentrasinya terganggu.


"Udah daftar?" tanya Felix lagi.


"Minggu depan." jawab Ervan. Felix berdecak sebal, ia sedang badmood karna masalah Fayyana tadi, sekarang di tambah kesal dengan Ervan dan Arsen.


"MAS!" teriak Vara.


"Apa princess?" jawab Arsen yang masih fokus dengan ponselnya.

__ADS_1


"BANG!" teriak Vara lagi.


"Apa sayang?" jawab Ervan yang masih sangat fokus dengan Gamenya. Felix mengerutkan keningnya, kenapa Vara memanggil Ervan dan Arsen.


"KAK!" teriak Vara. Felix menepuk dahinya.


"Apa dek?" tanya Felix. Felix bangkit dari duduknya dan mengambil kedua ponsel yang di pegang erat oleh Ervan dan Arsen.


"Ck, ngapain di ambil sih? Mau menang itu!" kesal Ervan.


"Ntar aja mainnya, ibu negara manggil tuh. Bahaya kalau dia ngamuk." ucap Felix.


"MAS, BANG, KAK!" teriak Vara lagi.


"IYA ISVARA!" jawab mereka bertiga. Mereka bertiga pun berjalan menaiki tangga menuju kamar Vara. Mereka bertiga membuka pintu kamar Vara dan melihat Vara yang berada diatas tempat tidur.


"Kenapa?" tanya Ervan.


"K-kecoa!" jawab Vara. Ervan dan Arsen ikut berdiri diatas tempat tidur Vara.


"Ih Mas, Bang. Bantuin awasin dulu kecoanya. Kecoanya ada dua!" kesal Vara.


"G-gak!" jawab Ervan dan Arsen serentak.


"Ck, calon tentara sama dokter kok takut kecoa." ucap Felix berjalan santai menuju kecoa yang sedang diam. Felix mengambil antena kecoa itu lalu membuangnya jauh (antena atau apa ya? author lupa). Felix mengambil obat pembasmi nyamuk untuk kecoa yang terbang.


"Aaa!" teriak mereka bertiga saat salah satu kecoa terbang dengan santainya.


CESSS!


Obat pembasmi nyamuk itu berhasil membuat kecoa itu bertekuk lutut di hadapan Felix. Felix pun membuangnya seperti ia membuang kecoa pertama tadi.


"Udah. Turun gih, malu. Masa dokter sama calon tentara takut kecoa." ucap Felix sambil menahan tawanya lalu keluar.


"Ih turun Mas! Abang ayo turun!" ucap Vara. Ervan dan Arsen pun turun. Ia masih heran dengan Felix punya mental apa Felix sampai berani melawan kecoa? Dua ekor lagi.


"Nanti abang suruh bibi bersihin kamar kamu." ucap Ervan.


"Kamar kamu ada kecoa pasti karna kotor. Mana dua ekor lagi kecoanya." ucap Arsen bergidik ngeri.


"Nyenyenye. Kalian tau ceramah aja, nolongin mah enggak!" ucap Vara sambil mengusir Ervan dan Arsen keluar dari kamarnya lalu menutup pintu kamarnya yang berwarna peach.


"Huh, saba je lah." ucap Ervan menirukan suara abang salleh di kartun si kembar botak itu.


"Dih, calon tentara kok slay." sahut Arsen.

__ADS_1


•••Bersambung...


__ADS_2