
Sepulang dari Felza Grup, Felix langsung melajukan motornya menuju supermarket untuk mengisi kulkasnya. Felix membeli berbagai mavam sayuran, daging, buah-buahan, cemilan serta bahan dapur lainnya.
"Hm, gini nih kalau gak pernah belanja bulanan. Ga tau kan apa yang mau di beli." ucap Felix. Felix kembali berkeliling untuk melihat apa yang harus ia beli lagi. Setelah di rasa semuanya cukup ia pun membayar ke kasir.
Eh kalau gua pake black card pasti notifnya masuk ke papa. Dan yang lebih pasti lagi ini sudah di bekukan sama papa. batin Felix.
"Totalnya 450 ribu kak. Mau cash atau debit?" tanya Kasirnya.
Felix membuka dompetnya, ia hanya membawa 300 ribu uang cash.
"Debit mbak." jawab Felix. Ia mengeluarkan kartu atm berwarna hitamnya itu.
Semoga yang ini belum di bekukan. Gua males mau transfer ke kartu satu lagi. batin Felix.
Felix memberikan black card itu kepada kasir. Kasir itu agak terkejut dengan warna kartu Felix, tapi ia berusaha provesional.
"Pinnya kak." ucap kasir itu sambil memberikan mesin untuk membayar.
Felix memasukkan pin black cardnya itu.
"Maaf kak, ini sepertinya sudah di bekukan. Apa ada kartu lain?" tanya kasir itu.
Ganteng ganteng ngeluarin black card, eh black cardnya di blok. Keliatan banget dia ada masalah sama keluarganya. batin kasir itu.
Felix menghembuskan nafasnya kasar. Akhirnya ia mengeluarkan gold cardnya. Ia menggesek gold card itu langsung di mesin tadi dan langsung memasukkan sandi.
"Udah bisa kan mbak?" tanya Felix. Kasir itu mengangguk lalu memberikan struk pembayaran kepada Felix.
"Terima kasih, silahkan datang kembali." ucap kasir itu. Felix megangguk dan pergi dengan mengangkat banyak kantong belanjaan.
Ku kira tadi miskin, rupanya lebih kaya lagi. batin kasir itu.
•••
"Goblok sih lu Felix. Udah tau pake motor masih aja belanja banyak." gerutu Felix. Sekarang ia bingung bagaimana membawa barang belanjaan dengan motor sportnya.
"Vian masih di bandung gak ya?" gumam Felix sambil mengechek handponenya.
"Yah gak aktif lagi. Ahh, pintar-pintar gua deh bawanya. Lama-lama gua beli mobil juga nih." kesal Felix.
"Eh jangan, ntar gua ga bisa makan. Besok-besok gua belanja bulanan online aja." gumam Felix lagi.
Akhirnya dengan susah payah ia sampai di depan rumahnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, sampe juga." ucap Felix.
"Permisi, kak Arthur ya?" tanya seorang perempuan di depan pagar rumah Felix. Felix menoleh ke belakang.
"Ya kenapa?" tanya Felix.
"Saya anak bapak yang punya rumah. Bapak tadi nyuruh saya antar lauk untuk kakak." jawab perempuan itu. Felix menghampiri perempuan itu.
"Serius? kebetulan saya belum masak. Makasih ya." ucap Felix. Perempuan itu mengangguk.
"Kakak lagi belanja bulanan ya? mau aku basntu susun di kulkas gak?" tanya perempuan itu. Felix menoleh kebelakan dan kembali menatap gadis itu.
"Gak usah, saya bisa sendiri." tolak Felix lalu berbalik dan masuk kerumahnya dengan membawa belanjaannya.
Yah anaknya cuek. batin gadis itu.
Keesokan harinya....
Felix bangun pagi-pagi dan memasak sarapan sendiri. Untung lah ia cukup mahir memasak walau resepnya dari si mbah google.
"Selesai." ucap Felix. Felix pun ke kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap. Setelah mandi, ia menggunakan bajunya.
"Yah, cuman jadi manajer artinya kita gak perlu jas dan di tas gua juga ga ada jas. Cuman ada kemeja sama dasi. Ini style formal. Gua pengen pake yang casual." ucap Felix berusaha mencari jasnya.
"Oke gak terlalu formal. Semoga bisa di terima. Lagian outfit gua ke kantor dari dulu gini. Baru kemarin aja jadi presdir harus pakai pakaian lebih formal lagi." kesal Felix. Felix pun beranjak dari kamarnya dan duduk lesehan di lantai untuk memakan sarapannya.
"Kira-kira kalau gua beli sofa, bakalan sempit ga ya?" gumam Felix.
"Dari pada gua lesehan, ntar gua beli deh." ucap Felix. Setelah selesai makan, ia mengeluarkan motornya dan langsung menjalankan motornya menuju kantor barunya.
Tak terlalu jauh memang jarak antara kantor Felix dan rumahnya. Hanya sekitar 10 menit saja.
Felix masuk dengan percaya diri. Sudah ada seseorang yang menunggunya di sana.
"Bapak Felix?" tanya wanita itu. Felix menatap wanita itu.
"Kamu yang nabrak saya kemarin kan?" tanya Felix. Wanita itu menunduk lalu mengangguk.
"Maaf pak gak sengaja." jawab wanita itu.
"Lain kali kalau sama orang yang belum kenal, jaga sopan santunnya." tegur Felix.
"Maaf pak. Saya akan lebih sopan lagi." jawab wanita itu.
__ADS_1
"Mari pak saya antar ke departemen perencanaan." ucap wanita itu. Felix mengangguk dan mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di departemen perencanaan, wanita itu menepuk tangannya tiga kali.
"Perhatian semuanya, silahkan berdiri. Manajer baru kita telah sampai." ucap wanita itu.
Mereka semua takjub dengan Felix, tak lupa juga dengan teriakan heboh para wanita saat melihat Felix. Felix hanya bisa tersenyum saja.
"Perkenalkan saya Arthur. Mohon bantuannya." ucap Felix.
"Nama lengkapnya siapa?" tanya salah satu karyawan.
Kalau gua bilang nama depan gua Felix, mereka nyadar gak ya? batin Felix.
"Felix Arthur, saya sering di panggil Arthur." jawab Felix.
"Nama depan kamu kayak nama Presdir kami deh. Dia baru diangkat jadi presdir kemarin." sahut salah satu karyawan.
Jangan ada yang ngenalin gua please. batin Felix.
"Nama Felix ga cuman satu di dunia." jawab Felix.
"Kok lu bisa jadi Manajer? Lulusan mana? Predikat apa? Ipknya berapa? umurnya berapa? udah nikah belum?" tanya karyawan bergantian.
"Melbourne university, cumlaude, Ipk 3,9. Umurnya 22 tahun termasuk manajer muda dan status lajang." bukan Felix yang menjawab melainkan wanita yang megantarkannya tadi.
"Pengalaman jadi manajer?" tanya karyawan lain lagi.
"Altezza Grup." jawab Felix.
Presdir dan wakil Presdir. lanjut batin Felix.
"Woahh!!!"
Prok! prok! prok!
"Welcome to departemen perencanaan pak Arthur." ucap mereka senang. Felix mengangguk sambil tersenyum. Ia mengambil kartu tanda pengenal lalu mengalungkannya di lehernya.
"Fashion yang keren pak!" puji salah satu dari karyawan itu.
•••Bersambung....
Udah 4 bab dalam 2 hari nihh. Mana ayoo dukungannya....
__ADS_1