F4 : Love Proposal

F4 : Love Proposal
BAB 27 : Sangat Yakin


__ADS_3

"Oke, Felix Altezza. Kita langsung to the poin. Kamu yakin kamu bisa?" tanya Alby. Felix mengangguk cepat.


"Kamu itu belum punya pengalaman. Apa lagi Kai itu manusia bukan hewan. Kamu juga belum nikah kan? Gimana cara kamu ngurus Kai? Gak mungkin di bawa ke kantor kan?" tanya Alby


"Ada Vara Pa, ada Aldino, ada F4 ada 2 om lorengnya Kai. Mereka bisa jagaian Kai." Jawab Felix.


"Kalau mereka semua sibuk? Termasuk kamu harus rapat pada saat mereka itu sangat sibuk. Siapa yang ngasuh Kai? Sedangkan kamu rapat dan Papa juga rapat." tanya Alby lagi.


"Ada.." belum siap Felix menyelesaikan perkataannya, Alby memotong perkataan Felix.


"Ada F4? Mereka semua akan segera manikah dan mereka juga akan sibuk dengan urusan keluarga mereka. Walaupun kamu leader mereka, tapi keluarga yang paling utama." potong Alby.


"Ada sekretaris Felix Pa." jawab Felix.


"Kamu percaya dia bisa jagain Kai?" tanya Alby lagi.


"Kalau gak percaya sama Sekretaris, Felix bakalan buat Kai tidur." jawab Felix.


"Kalau dia bangun sebelum kamu selesai rapat? Atau dia gak mau tidur padahal rapat kamu 5 menit lagi?" tanya Alby. Felix terdiam.


"Makanya Felix, kalau mau buat sesuatu itu pikirkan kedepannya jangan langsung ambil keputusan. Yang kamu adopsi ini manusia bukan hewan. Sedangkan kamu mengurus diri sendiri aja kadang gak sempat apa lagi ngurusin Kai." ucap Alby.


"Maaf Pa. Jadi Felix harus gimana karna papa gak bisa nerima Kai?" tanya Felix.


"Loh, siapa yang gak menerima Kai? Papa menerima. Papa cuman takut saat Kai resmi jadi anak kamu, tapi kamu gak bisa jaga dia gimana? Kalau gitu lebih baik dia di panti dari pada sama kamu." ucap Alby. Felix menunduk menerungkan apa yg telah dia lakukan.


"Papa tau kamu sakit hati. Tapi jangan ambil keputusan saat sedang sakit hati. Paham?" tanya Alby. Felix mengangguk.


"Oke oke bukan anak. Adik?" tanya Felix. Sepertinta Felix memaksakan Kai masuk keluarga Altezza.


"Oke, mana dokumennya?" tanya Alby. Felix tersenyum dan mengambil berkas yang di berikan ibu Maryam tadi. Felix yang sedari tadi memegang dokumen itu memberikannya kepada Alby. Alby pun menandatanginya.


"Ingat adik bukan anak. Kebelet jadi hot daddy kamu?" tanya Alby.


"Gak juga." jawab Felix. Fekix berlari keluar ruangan Alby lalu menghampiri Kai.


"Halo Kai sayang! Kakak Felix disini!" teriak Felix menggendong Kai.


"Loh tadi dad, sekarang kak? Gimana nih konsepnya?" tanya Arsen.


"Kalau di jelasin panjang kali lebar bang Arsen juga gak ngerti. Intinta abang itu nambah adik." ucap Felix.

__ADS_1


"Yayaya terserah. Abang mau pulang dulu ke Batalyon. Ada urusan medis." ucap Arsen.


"Pamit dulu ke Papa." ucap Felix. Arsen menaiki tangga dan menuju ruang kerja Alby.


"Assalammualaikum." ucap Vara.


"Waalaikumsallam." jawab Felix. Felix menghampiri Vara dengan Kai di gendongannya.


"Ini namanya kak Vara. Kakaknya Kai, oke Boy?" tanya Felix. Vara yang tengah terduduk santai kaget saat namanya di panggil.


"Loh, ada anggota baru? Vara punya adik?" tanya Vara. Felix mengangguk.


"Papa nikah sama siapa?" tanya Vara. Felix menepuk jidatnya.


"Kai dari panti asuhan Vara. Ntah kenapa kakak pengen banget bawa dia pulang." ucap Felix.


"Oh kakak kebelet nikah kayak kak Fito?" tanya Vara.


"Di ungkit lagi, kakak gak mau kamu ngungkit Fito sama Zahra dulu." ucap Felix. Vara berdiri dari duduknya dan menghampiri Kai.


"Namanya siapa?" tanya Vara.


"Fiks kakak udah cocok jadi hot daddy." ucap Vara.


"Awalnya kan memang anak kakak. Eh ga di bolehin sama Papa. Malah papa yang angkat dia jadi anak. Kan kakak yang keep duluan. Ga asik banget Papa." kesal Felix.


"Udah seneng banget di panggil Dad sama Kai. Eh jadinya di panggil kakak lagi." lanjut Felix.


"Yaudah terima aja." balas Vara sambil menahan tawanya. Felix saat sedang kesal sangat menggemaskan. Apa lagi pipi dia yang selalu di gembungkan ketika sedang kesal. Sudah tidak terlihat aura mematikan lagi seperti dulu. Sekarang Felix sudah menggemaskan menurut Vara.


"Dino mana?" tanya Felix.


"Vara gak sama Kak Dino, kak. Vara pergi sendiri. Katanya kak Dino lagi ngurusin catring. Jadi kami bagi tugas biar gak ketemu sebelum halal." jawab Vara.


"Kakak yang menikahkan kamu ya?" bujuk Felix.


"Felix Altezza! Kamu kira papa udah mati?! Papa yang nikahin Vara titik gak pake koma." ucap Alby dari lantai dua. Felix menurunkan Kai dari gendongannya.


"Loh, Vara kan adik perempuan Felix satu-satunya." ucap Felix.


"Vara juga anak perempuan papa satu-satunya. Kamu ngalah dong, papa masih hidup artinya papa yamg menikahkan Vara." ucap Alby tak mau kalah.

__ADS_1


"Udah kak ngalah aja. Kan memang seharusnya papa yang menikahkan Vara." ucap Vara menenangkan Felix.


"Au ah." jawab Felix Malas.


"Liat tu. Katanya mau punya anak, tapi kelakuan kayak anak-anak. Papa jodohin juga kamu!" ucap Alby kesal.


"Yaudah, palingan ntar di tikung lagi." jawab Felix lalu masuk ke kamarnya.


"Tuh Kai nya di tinggalin." ucap Alby.


"Kai sama Vara aja pa." sahut Vara.


"Ganteng, main sama kakak yuk." ajak Vara. Vara menggendong Kai dan mengajaknya ke kamar Vara. Alby menatap kearah kamar Felix. Sepertinya Felix butuh teman cerita. Apa selama ini ia tidak terlalu memperhatikan Felix? Dan terlalu fokus dengan Vara? Ia kira Felix akan bisa sendiri, rupanya Alby salah.


Alby menaiki tangga menuju kamar Felix. Ia membuka pintu kamar Felix dan terlihat gumpalan di kasur Felix. Alby menarik selimut yang di gunakan Felix.


Alby terkejut, ini pertama kalinya Felix menangis sejak ibunya meninggal. Ia kira Felix anak yang kuat, ternyata Alby salah. Felix juga butuh sosok seorang ayah dan ibu.


"Felix!" Alby menarik Felix kedalam pelukannya.


"Kangen mama." ucap Felix sambil memeluk foto ibunya.


"Padahal baru aja ke makam mama. Tapi masih kangen." ucap Felix. Alby memeluk erat Felix.


"Papa tau kamu dekatnya sama Mama. Tapi mau gimana lagi nak, kita gak bisa menahan takdir." ucap Alby.


"Kadang Felix iri Pa. Fardan, Fito dan Frizy selalu di masakin mamanya. Mereka ada teman bercanda dan bercerita. Ada yang mereka peluk kalau lagi capek. Beda sama Felix kalau cape peluknya bantal." ucap Felix menangis.


"Udah udah. Kamu masih punya papa. Kamu harus terus bersyukur. Ervan dan Arsen kehilangan kedua orang tuanya sekaligus. Kai, dia di buang orang tuanya. Kamu harus tetap bersyukur nak. Kalau kamu capek, kamu bisa curhat sama papa. Atau kamu bisa ke makam mama kalau mau cerita." Alby menenangkan Felix.


"Udah Pa, Felix udah berusaha Bersyukur. Kalau ada masalah Felix pasti cerita ke Mama. Tapi rasa rindu Felix gak bakalan terobati Pa. Felix pengen banget ketemu mama walau dalam mimpi. Felix pengen setiap Felix mimpi Mama, Mama lagi senyum bukan malah kecelakaan itu. Felix gak suka mimpi itu." ucap Felix.


"Udah, kami tidur aja. Sebelum tidur doa dulu. Mana tau mams kamu dateng ke mimpi kamu kan." ucap Alby. Felix mengangguk. Alby keluar dari kamar Felix dan menatap kamar Felix dengan raut wajah sedih.


Kamu di paksa mengerti lebih cepat. Maafkan Papa ya Felix. batin Alby.


•••Bersambung...


Akhirnya setelah berabad abad bisa up juga 🙃 gapapa pembacanya masih dikit, yang penting author masih bisa nuliss.


Makasih yang udah setia sama novel novel gak jelas author yaa😍😍

__ADS_1


__ADS_2