F4 : Love Proposal

F4 : Love Proposal
BAB 33 : Felix Arthur


__ADS_3

"Ck, Arkaiz Wardana. Seberapa besar kekuasaan dia?" gumam Felix di dalam perjalanan.


"Huh, sekarang gua mau kemana? Jawa barat? Kayaknya gua harus ke bandung." gumam Felix. Felix pun melajukan motornya untuk sampai di bandung.


Kurang lebih 2 jam ia melaju dari jakarta menuju bandung.


"Gua bawa uang cash cuman dikit. Hah, untung gua pintar punya 2 atm. Semoga mereka gak bisa ngelacak." gumam Felix. Felix pun melajukan motornya berkeliling bandung untuk mencari rumah.


"Kalau cari rumah sekarang, uang gua bakalan cukup untuk makan sampai sekitar 8 bulan, kalau pun harganya agak miring. Kalau harganya gak ada yang murah? Sekitar 4 bulan gua bertahan. Artinya gua harus kerja." gumam Felix.


"Tapi kalau gua cari kontrakan, bakalan ribet juga. Lebih baik gua beli rumah yang murah." ucap Felix.


Felix pun berkeliling dan bertemu dengan sebuah rumah yang minimalis, cukup untuk ia sendiri. Kebetulan orang yang menjual rumah itu sedang berada di sana.


"Pak misi, punten. Ini rumahnya mau di jual? Kira-kira berapa pak?" tanya Felix.


"300 juta bisa nego kang." jawab bapak itu.


"275 juta saya beli pak." tawar Felix.


"Gak bisa atuh kang. Saya mah lagi perlu duit. 285 juta gimana kang?" tanya Bapak itu. Felix berpikir sejenak, ia harus punya rumah untuk saat ini.


"Boleh deh pak, tapi saya riview dulu di dalamnya ya." ucap Felix. Bapak itu pun mengajak Felix berkeliling. Di rumah itu ada 2 kamar tidur dan 1 kamar mandi. Ruang tamunya juga cukup luas, dapurnya cukup untuk Felix leluasa. Ini lebij dsri cukup untuk Felix yang tinggal sendiri.


"Akang kasep tinggal sendiri? Kenapa gak ngekost aja?" tanya bapak itu.


"Ngekost ga enak pak. Kamarnya kecil, saya juga gak bisa leluasa keluar. Jadi selagi saya bisa, saya mau beli rumah aja." jawab Felix. Bapak itu mengangguk.



"Oke, mana rekening bapak. Uangnya saya transfer. Sekarang." ucap Felix.


"Sebentar kang, ini ada surat untuk mengurus sertifikatnya. Saya mah emang sengaja ngosongin namanya. Jadi nanti isi aja semuanya." ucap bapak itu.


"Bentar pak." ucap Felix. Felix menelfon seseorang dengan melakukan video call.


"Vian, ini bisa kamu urus gak?" tanya Felix sambil melihatkan berkas yang di kasih bapak tadi.


"Urus sekarang aja tuan muda, saya akan segera kesana." ucap Vian.


"Kamu mau ke bandung?" tanya Felix.

__ADS_1


"Tuan muda di bandung? Kebetulan saya juga di bandung, saya akan segera sampai ke sana." ucap Vian. Felix mematikan sambungan video callny itu.


"Punten, nama akangnya saha?" tanya bapak itu.


Kalau gua sebutin nama gua Felix pasti bapak ini bakalan gak asing. batin Felix.


"Nama saya Arthur." jawab Felix.


"Oh nak Arthur, namanya keren ya." puji bapak itu. Tak berselang lama, Orang yang di telfon Felix tadi pun datang.


"Tuan muda." sapa Vian. Felix langsung menutup mulut Vian.


"Shut, diam kamu. Saya bukan tuan muda keluarga Altezza. Panggil saya Arthur, paham?" bisik Felix. Vian mengangguk ketakutan.


"A-arthur ada apa?" tanya Vian.


"Tolong beresin sertifikatnya dong." ucap Felix. Vian menatap berkas yang di kasih Felix lalu memgangguk.


"Besok saya antar." ucap Vian lalu pergi.


"Oke pak, uangnya udah di transfer." ucap Felix.


"Makasih ya nak, semoga kamu bisa nyaman di sini dan semoga ada anggota baru nantinya biar kamu gak kesepian." ucap bapak itu.


"Umur kamu berapa?" tanya bapak itu.


"Jalan 22 pak." jawab Felix.


"Oalah, dengan umur segitu kamu udah mapan. Bapak punya anak cewe lagi kuliah. Bapak jodohin sama dia mau yah?" tanya bapak itu.


kamu pikir saya mau? oh tidak semudah itu ferguso. batin Felix.


"Haha, saya gak terlalu mapan pak. Cuman udah berhasil nabung beli rumah aja." jawab Felix.


"Emang kamu kerja apa diumur segini? Kalau dari umur kamu ini seharusnya kamu baru nyusun skripsi kan? Kan kamu cuman beda 2 tahun sama anak saya." ucap bapak itu.


Sewot bener ini orang. Gua mau masuk, mau istirahat mau nyari kerja juga! batin Felix.


"Saya baru lulus pak. Selama kuliah saya kerja makanya saya berhasil nabung dan bisa dapat cumlaude. Kalau gak ada yang mau di tanya lagi, saya izin masuk pak. Udah capek mau istirahat." ucap Felix.


"Oh ya sok atuh, perlengkapan di rumah masih utuh jadi kamu gak perlu beli lagi." ucap bapak itu.

__ADS_1


"Baik terima kasih bapak." ucap Felix lalu masuk ke dalam rumah.


Ia meletakkan tasnya di kamar pertama dan langsung berbaring.


Papa pasti punya alasan ngusir gua. Papa itu gak bakalan melakukan sesuatu yang aneh tanpa alasan. batin Felix.


Felix membongkar tasnya. Untunglah ijazah kuliahnya ada. Jadi ia bisa mencari kerja sekarang.


"Mari menjadi rakyat biasa!" semangat Felix. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan mandi. Siang-siang begini enakan mandi bukan?


Setelah mandi Felix pun bersiap-siap. Langkah pertama sebelum mencari kerja, ia harus makan dulu.


Felix memutuskan mencari makanan di jalan saja. Ia pun keluar dan mengunci pintu rumahnya lalu pergi dengan motornya.


Saat di tengah jalan akhirnya ia memutuskan untuk makan nasi padang agar awet sampe malam. Setelah selesai makan ia pun mencari pekerjaan.


Coba cari di perusahaan deh. Tapi kalau mereka tanya pengalaman gua kerja, gak mungkin gua jawab waktu gua sekolah gua sering bolak balik luar kota dan liar negri karna jabatan wakil presiden direktur dan tadi baru aja jadi presiden direktur eh di usir dari rumah. Gak mungkin gua bilang gitu kan? apa lagi fresh graduation kayak gua ini susah karna belum ada pengalaman. Tapi coba dulu deh. batin Felix.


Felix sepertinya beruntung. Ia melihat di sebuah perusahaan ada kertas tertempel memerlukan tenaga kerja.


Felix pun langsung masuk dan bertanya kepada resepsionis. Tapi ada seorang pria yang menerobosnya


"Mbak, permisi mau tanya. Lowongan pekerjaannya masih ada gak ya?" tanya pria itu.


"Gak ada!" jawab resepsionis itu jutek. Felix mengerutkan dahinya, kok resepsionisnya jutek.


"Serius dong mbak! Saya perlu kerjaan nih! Kan di depan ada tuh pemberitahuan perlu lowongan kerja." ucap pria itu.


"Mbak, lowongan kerjanya masih ada?" tanya Felix sopan. Resepsionis itu menatap Felix tak berkedip. Tubuh Felix yang tinggi bongsor, kulit putih bersih, rambut hitam, mata berwarna coklat gelap, rahang tegas dan proposi tubuh yang bagus.


"Ada kak." jawab resepsionis itu.


"Dih mandang fisik!" ucap pria itu langsung pergi.


"Mari say antarkan." ucap resepsionis itu sopan.


"Mbak, kenapa laki-laki itu gak diajak juga?" tanya Felix.


"Dia sudah sering membuat kekacauan di sini." jawab resepsionis itu sambil berjalan di depan Felix. Ia mengarahkan Felix ke ruang HRD.


"Silahkan. Semoga kamu di terima ya." ucap resepsionis itu. Felix mengangguk. Saat ingin membuka knop pintu, Felix malah terkejut karna ada seseorang yang keluar dari sana dengan marah.

__ADS_1


•••Bersambung...


__ADS_2