F4 : Love Proposal

F4 : Love Proposal
BAB 44 : Felix


__ADS_3

Felix memberikan aba aba untuk masuk ke rumahnya sendiri itu. Mereka berjalan pelan menuju ruang tengah.


Felix memainkan matanya ke kanan dan ke kiri memberikan kode kepada ketiga temannya untuk menyebar.


Gak mungkin keamanannya selemah ini. Ini jebakan. Batin Felix.


"Jebakan." ucap Felix. Mereka bertiga mengangguk.


"Ck, pintar juga." ucap seorang pria paruh baya yang baru saja datang dan berhadapan dengan Felix.


"Hm, Arkaiz Altezza. Maaf maksud saya Arkaiz Wardana." sapa Felix.


"Bukannya kemarin kamu udah pergi? Kok balik lagi?" tanya Arkaiz.


"Karna sekali Altezza tetap Altezza." ucap Felix tersenyum miring. Tangannya sudah siap menyerang jika ini benar jebakan.


"Kamu tau, Flora Altezza itu bodoh. Dia mau aja nikah dengan seorang Albyan Altezza. Menurut saya, Albyan itu tidak cocok untuk Flora. Tapi Luqqa malah mendukung mereka. Saya aneh saja, kedua adik saya gila semua. Baguskan kalau mereka mati? Untung saya baik dan menyisakan Anak dari Luqqa. Saya juga menyisakan satu adik saya agar ada tantangan untuk menghancurkan keluarga Altezza. Sialnya aku lupa anak sulung Alby akalnya licik." ucap Arkaiz.


"Apa anda tau? Saya tau bahwa anda dalang di balik kecelakaan itu sehingga Ibu saya meninggal. Hanya saya terlalu kecil untuk melawan anda yang tua. Dan sekarang saya sudah cukup kuat melawan anda yang semakin tua." ucap Felix.


Arkaiz tersenyum miring lalu tiba-tiba tubuh Felix di tendang sehingga Felix bertekuk lutut.


"Felix." kaget Fardan, Frizy dan Fito.


"Diam!" perintah Arkaiz. Arkaiz berjongkok dan mengangkat wajah tampan Felix itu.


"Katanya kuat." ucap Arkaiz. Felix tersenyum miring dan mendorong kuat Arkaiz lalu memijak tangan Arkaiz yang terkapar karna dorongan Felix cukup kuat.


"Haduh tua bangka kayak anda itu, seharusnya di panti jompo, bukan malah buat perang. Punya anak cewe kok gak di manfaatkan dengan baik." ucap Felix. Seketika kepala bagian kanan dan kiri Felix dingin. Dua pistol menempel dengan mulus di kepalanya.


"Udah tua kok gak mau mati? Gimana sih? Udah bau tanah juga." ucap Felix. Felix memainkan matanya ke kanan dan ke kiri. Ia tau temannya juga di tekan di belakang. Artinya tak ada yang menolongnya.


"Ck, orang gila punya sembilan nyawa kayak kamu gak ada takutnya." ucap Arkaiz.


"Itu tau, kok masih berani lawan Felix Altezza." ucap Felix mematahkan tangan dua anak buah yang memegang pistol di pelipisnya tadi.


"Ups maaf, patah ya? Ntar di ganti deh sama yang maha kuasa." ucap Felix tersenyum lebar dengan tatapan dinginnya itu.


Seram, satu kata itu yang bisa di gambarkan oleh Fardan, Fito dan Frizy saat melihat Felix.


"Segitu doang? Itu mah Fito doang bisa nyelesaiin. Gak perlu manggil Fardan, Frizy apa lagi gua." ucap Felix.


"Felix!" teriak Fardan. Felix mengolengkan sedikit tubuhnya dan tersenyum.


"Gak kena." ucap Felix.


Fardan, Fito dan Frizy pun mengangguk dan sama sama terlepas dari ancaman pistol anak buah Arkaiz.


"Mau perang? Ke bassmen itu ada peredam suara. Mau?" tawar Felix. Felix mengajak ketiga temannya itu untuk keluar dan mengikutinya ke Bassmen.

__ADS_1


"Ikuti dia, mereka cuman berempat dan kalian ramai. Pasti kalian menang!" ucap Arkaiz. Anak buahnya pun mengikuti perintah.


•••Bassmen.....


"Oke bagus." ucap Arsen dan Ervan bertos.


"Mereka datang, Qila ambil posisi." ucap Ervan. Qila mengangguk dan bersembunyi di tempat aman.


Ervan dan Arsen juga ikut bersembunyi. Mereka berdua akan mengejutkan anak buah Arkaiz.


"Eh ngikutin juga Om? Udah tua gak boleh lari-lari begitu." ucap Felix.


"Diam kamu anak kecil!" ucap anak buah itu.


"Eits umur saya 23, udah 20 tahun. Berarti saya sudah dewasa. Kalau saya dewasa artinya kamu lansia. Hahaha." ledek Felix.


"Ahk Lama!" kesal anak buah itu. Mereka langsung menyerang Felix dan ketiga temannya.


Saat perkelahian itu sedang berlangsung, Ervan dan Arsen keluar karna merasa mereka kalah jumlah.


"Wah, udah lolos ya." ucap anak buah itu.


"Jangan banyak tanya om." ucap Ervan.


Kratak!


Tangan anak buah itu berbunyi kuat. Ia memekik kesakitan.


"Berhenti atau dia mengikuti jejak Flora." ucap Arkaiz membawa Alby ke Bassmen itu.


"Turunkan senjatanya." ucap Arkaiz.


"Felix." panggil mereka menunggu kepastian. Felix meletakkan senjatanya diikuti Fardan, Frizy, Fito, Ervan dan Arsen.


"Lepas." ucap Felix serius.


"Hm, kalian semua! Hajar mereka semua!" perintah Arkaiz.


"Felix!" kesal mereka semua.


Para anak buah Arkaiz mendekati mereka. Hanya ilmu bela diri yang merrka punya untuk melawan anak buah sebanyak itu.


Perlahan Fardan, Frizy, Fito, Arsen dan Ervan mulai lelah karna banyaknya yang menyerang mereka. Tubuh mereka juga sudah sakit karna tak sempat menangkis pukulan dari belakang. Anak buah di sekitar mereka pun sudah mulai tumbang. Tapi ada beberapa yang pergi dari sana dan ikut menyerang Felix.


Sori, kalian kalau capek udahan aja..Biar gua tanggung jawab. Batin Felix.


Dor!


"Felix!" teriak mereka berlima.

__ADS_1


Lengan Felix terkena timah panas itu dan mengeluarkan darah. Dari belakang ada orang yang menendang punggung Felix sehingga Felix bertekuk lutut lagi.


"Makanya jangan sok jagoan." ucap Arkaiz.


"Ck, segini doang?" tanya Felix. Felix mengambil belati dari sakunya dan menggores kulit anak buah Arkaiz dengan bengis.


"Baru di gores, belum di tusuk." ucap Felix.


"Lebih baik kita tidur, Felix ga bakalan kalah kalau dia balik ke mode monster itu." ucap Frizy kelelahan.


Luka tembakan ini ngilu juga. Batin Felix.


"Oh jadi lebih memilih dia mati?" tanya Arkaiz.


"Tidak, aku lebih memilih kau mati." ucap Felix mendekati Arkaiz dengan tatapan Elangnya dan senyuman miring khas Felix.


"Jangan berdiri saja kalian di sana! Bunuh anak ini!" ucap Arkaiz.


"Mau bergerak?" tanya Qila yang sudah memasang pistol di depan para anak buah Arkaiz.


"Ck, kau bawa perempuan? Tidak bermoral." ucap Arkaiz.


"Setidaknya aku mempergunakannya dengan benar, bukan menjualnya." ucap Felix. Felix menggoreskan belati itu di leher Arkaiz.


"Gimana? Mau di tebas aja?" tanya Felix.


Dor!


"Kak!" teriak Qila.


Belati yang di pegang Felix terjatuh karna kedua tangannya kena timah panas lagi.


"Kau!" kesal Qila. Qila dengan gesit mengambil pistol Felix. Dan memegang kedua pistol itu di tangannya. Ia menembak semua anak buah Arkaiz dan datang ke hadapam Arkaiz.


"Wow." kaget Fardan, Frizy, Fito, Ervan dan Arsen.


"Om setidaknya kalau punya otak di pake." ucap Qila menaikkan dagu Arkaiz dengan pistol.


"Kalau saya tembak di sini apa yang terjadi?" tanya Qila.


"Yaudah, biar sama kayak kak Felix, aku tembak di dua lengan aja ya." ucap Qila.


Dor!


"Gak! Qila jangan!" teriak Felix.


"Maaf kak." ucap Qila karna ia sudah terlanjur melakukan.


"Wow!" ucap Frizy lagi.

__ADS_1


"Jangan diam aja di sana! Bantuin lepasin Papa!" ucap Felix. Mereka berlima bangun dengan tenaga yang tersisa dan melepaskan tali pengikat Alby.


•••Bersambung...


__ADS_2