
Victor kembali pulang setelah puas curhat dengan Frizya, adiknya Frizy. Memang curhat dengan Frizya lebih tenang dari pada cerita dengan Vara atau temannya yang lain.
Kriet..
Pintu terbuka sedikit, Victor masuk secara perlahan agar tidak membangunkan orang rumah.
"Baru pulang?" dingin Fardan sambil melipat tangannya di dada.
"Kemana aja? Habis jalan sama adiknya Frizy? Kayak gitu aja terus, pantes gak ada perkembangan." ucap Fardan.
"Lu kenapa remehin gua mulu si? Emang ketenangan lu keganggu? Gua rasa gua gak ganggu lu banget. Gua malah sering bercanda sama bang Felix dan yang lainnya. Lu kenapa hah? Sensian banget. Lebih parah dari dulu tau gak?" ucap Victor.
Fardan berdiri dari duduknya dan mendekat mearah Victor lalu memegang bahunya.
"Gak usah sok paling ceria, gak usah sok paling tengil. Kalau sifat lu introvert, yaudah introvert aja gak usah di paksa ekstrovert. Gua malah makin muak liat lu, apa lagi setelah lu pulang dari Swiss, makin parah." ucap Fardan.
"Ck, kalau gua diam di rumah gua malah makin pusing dengarin celotehan mama sama papa yang tiap hari banggain lu seolah gua cuman beban keluarga yang gak tau apa-apa dan gak berguna sama sekali." ucap Victor.
"Kalau lu emang gak berguna gimana?" tanya Fardan. "Pikir dulu pakai otak kalau mau bicara, punya otakkan?" lanjut Fardan.
Victor mengepalkan tanganya kuat, ia berusaha menahan emosinya.
"Lu salah bang. Lu belum dewasa. Orang yang sudah dewasa itu gak bakalan nilai seseorang hanya sekali lihat." ucap Victor.
"Masalahnya, gua gak sekali atau dua kali liat lu bahkan dari lu bayi gua udah liat." jawab Fardan. Victor makin erat mengepalkan tangannya.
"Yaudah, lu keganggu sama gua kan? Lebih baik gua balik aja ke Swiss." ucap Victor.
"Yaudah balik, pintu rumah terbuka lebar buat lu. Tapi jangan harap lagi gua baik sama lu sejak kejadian waktu itu. Jangan harap." ucap Fardan.
"Perlu bukti apa lagi? Bukti yang gua berikan itu udah cukup kuat buat membuktikan kalau bukan gua yang bersalah. Segitu bencinya lu sama gua? Gua adik kandung lu bukan adik tiri lu Fardan!" kesal Victor. Ia sudah sedari tadi menahan amarahnya, tapi Fardan selalu saja membuatnya lepas kendali.
"Iya gua tau lu adik kandung gua, gak perlu di ingatin lagi. Tapi lun yadar gak? Mama papa nyuruh lu sekolah ke Swiss dan pisah sekolah sama gua dari SMA sampai kuliah itu sebenarnya ngusir lu. Bukan mau lu berkembang." ucap Fardan.
"Sebenarnya mama sama papa berhasil buat gua berkembang, tapi lu yang buat gua kembali ke Victor yang dulu." ucap Victor.
__ADS_1
"Mental lu aja lemah." jawab Fardan. Victor makin mengepalkan tangannya dab berusaha mengatur emosinya. Jika ia tidak mengatur emosinya, bisa saja pertengkaran lebih parah terjadi.
"Terserah lu bang. Kalau lu sangkut pautkan semuanya dari masalah dulu itu gua dalangnya dan setelah gua lampirin banyak bukti kalau gua gak bersalah, lu tetap ngira gua dalangnya kan? Gak guna juga sih berdebat sama lu." ucap Victor berjalan santai menaiki anak tangga untuk sampai di kamarnya yang berada di lantai 2.
•••
Pagi indah di rumah keluarga Altezza. Aman, damai dan tentram.
Felix tidur dengan nyenyaknya padahal hari ini ia berjanji untuk masuk kerja kembali.
Drrttt... Drrttt..
Handpone Felix bergetar lama, menandakan ada seseorang yang menelfonnya.
"Halo." jawab Felix dengan suara serak bangun tidur.
"Tuan muda, astaga. Tuan muda baru bangun? Ini udah mau jam 7. Kita ada meeting jam setengah 8." ucap Vian dari seberang sana.
Dengan cepat Felox terduduk di tempat tidurnya dan menatap jam.
"Qila!" teriak Felix sambil turun tangga. Tapi saat sudah berada di lantai bawah, Felix terkejut dengan apa yang dia lihat.
"Kok kamu yang bersihin semuanya? Bibi mana?" tanya Felix.
"Bibi.." belum selesai menjawab, Vara datang memotong pembicaraan antara Felix dan Qila.
"Bibi lagi izin pulang kampung. Katanya ada ponakannya nikah." jawab Vara.
"Kok izin gak bilang kakak?" tanya Felix.
"Ya mana Vara tau." jawab Vara.
"Terus kenapa Qila yang bersihin sendiri? Kamu gak bantu?" tanya Felix.
"Ya ampun kak, Vara kemarim baru many pady cure, ntar rusak kuku Vara." jawab Vara.
__ADS_1
"Terus yang masak siapa?" tanya Felix.
"Tadi kak Dino mengajukan diri mau masak karna gak tega liat istrinya masak." jawab Vara.
"Dinonya mana?" tanya Felix.
"Udah berangkat kerja." jawab Vara.
"Isvara Altezza!" kesal Felix. "Beruntung kamu punya suami sesabar Dino, kalau kakak jadi suami kamu, langsung kakak ceraikan! Kakak tau tugas rumah itu sebenarnya tugas kepala rumah tangga, tapi Dino itu sibuk di kantor, malah kamu suruh masak." ucap Felix.
"Terus Qila, kamu sayang sama kuku kamu tapi gak sayang sama kakak ipar kamu? Kamu bilang apa tadi? Dino gak mau liat istrinya masak? Kakak juga gak mau liat istri kakak bersih-bersih sendiri sedangkan kamu enak-enak duduk. Qila bukan pembantu!" marah Felix.
"Ada apa ini?" tanya Alby baru saja dari kamarnya.
"Liat tu anak yang papa manjain, gak ada sopan santunnya. Qila di suruh bersih-bersih sendiri kayak pembantu tapi dia duduk enak. Terus Dino yang masak buat kita bukan dia. Kerjaan kamu apa selama ini hah?!" marah Felix.
"Kak udah kak, lagian aku gak ada kerjaan juga di rumah." ucap Qila.
"Diam kamu! Kalau di suruh bersih-bersih sendiri kayak gini itu, kamu harusnya ngelawan bukan diam!" Felix benar-benar marah.
"Kamu! Ikut kakak!" ucap Felix menarik Vara.
"Kak! Lepasin!" pinta Vara.
"Felix! Udah cukup!" ucap Alby, tapi tak di dengar Felix. Begini kalau Felix sudah marah. Dia mengikuti egonya tanpa mau mendengarkan orang lain. Felix memang jarang marah, tapi sekalinya marah gak kebayang seseram apa.
Felix menarik Vara menuju taman belakang dan melepaskan tangan Vara di sana.
"Kamu bersihkan ini, sampai kakak pulang nanti kalau belum bersih, liat aja kamu." ucap Felix.
"Qila! Jangan bantu dia." ucap Felix menatap tajam Vara.
Setelah melakukan itu, Felix pun pergi ke kantornya.
•••Bersambung....
__ADS_1