F4 : Love Proposal

F4 : Love Proposal
BAB 19 : Tidak Bisa Hilang


__ADS_3

Setelah mengajak Aldino berkeliling kota, Felix langsung pulang ke rumahnya. Ia langsung masuk kamarnya karna suasana hatinya kembali tidak enak.


Ting!


Mendengar notifikasi dari ponselnya, Felix segera membuka ponselnya.


......F4 Jomblo Ketjeh......


Fardan


send a photo


Frizy


Gila Fardan mau nikah sama


Fayyana? Felix gimana woy?!


Fito


Telat lu, udah lama kali


Fardan itu di jodohin sama Fay


Frizy


What? Seriously?


Fardan


Lu bukannya udah tau ya?


Frizy


Kapan Lu bilangnya ege?


gua ga ingat


^^^Anda^^^


^^^Selamat ya Fardan^^^


Frizy


Felix, aman lu?


^^^Anda^^^


^^^Ya kalau Fay jadinya sama^^^


^^^Fardan, artinya gua sama Fay ga jodoh^^^


Felix pun menutup ponselnya setelah membalas chat teman-temannya yang heboh dengan pernikahan Fardan yang tergolong sangat cepat. Felix tak ambil pusing dengan itu. Toh jika ia memperkeruh suasana, F4 akan terpecah. Ia tidak boleh egois, masih banyak wanita di dunia. Bahkan, jika wanita cuman Fayyana sendiri dan Fayyana akan berjodoh dengan Fardan, Felix tidak akan mengambilnya. Biarlah ia jomblo dari pada merelakan persahabatan yang sudah lama terjalin.


Felix mengambil sebuah bingkai yang berada di nakas samping tempat tidurnya. Ia melihat Foto seorang perempuan bersama suami dan 2 anaknya. Satu anak laki-laki dan satu anak perempuan. Itu adalah foto keluarga.


"Ma, Kayaknya memang Felix gak boleh fokus sama satu wanita deh Ma. Felix gak bermaksud memainkan wanita. Tapi sekarang, Felix di fase pasrah. Pasrah di jodohin dan pasrah jomblo." ucap Felix.

__ADS_1


"Tapi jomblo lebih baik, Felix jadi bisa fokus buat belajar." ucap Felix lagi sambil mengusap bingkai foto itu.


"Besok Felix ke tampat mama. Udah lama Felix gak bawain mama bunga. Sekalian Felix mau curhat sama mama tentang calonnya Vara. Penilain Felix tentang seseorang bernama Muhammad Husein Aldino itu baik ma. Kalau menurut mama gak baik, kasih tanda-tanda ya ma. Nanti Felix suruh Vara sama Aldino buat solat istikharah." ucap Felix.


"FELIX!" panggil Alby.


"Ya pa!" jawab Felix. Felix beranjak dari duduknya di tempat tidur dan memakai sendal rumahannya. Lalu ia berjalan dan membuka pintu kamarnya.


"Ada apa pa?" tanya Felix.


"Papa mau bicara sama kamu." jawab Alby.


"Oh yaudah, di kamar Felix aja pa." ucap Felix mempersilahkan Papanya masuk. Alby pun masuk kedalam kamarnya Felix. Felix menutup pintu kamarnya dan duduk di sofa depan tempat tidur Felix.


"Papa langsung to the poin dan kamu gak boleh nolak kali ini." ucap Alby. Felix yang sepertinya tau arah pembicaraan papanya ini pun membuang nafasnya kasar.


"Siapa lagi yang mau papa jodohin sama Felix? Anak SMA pasti." tebak Felix.


"Yap bener." jawab Alby.


"Pa! Ya allah, anak SMA kok nikah? Lagian Felix kan mau kuliah." ucap Felix.


"Dia satu tahun diatas Vara. Jadi dia udah kelas 12. Bentar lagi lulus." ucap Alby.


"Pa, gak bisa. Felix ngelarang Vara nikah saat masih SMA tapi Felix nikahin anak SMA." tolak Felix.


"Orang tuanya udah setuju kok. Dianya juga udah setuju." ucap Alby.


"Pa, Felix gak mau ya kalau dia sampai di paksa buat nikah. Lagian Felix baru juga lulus." ucap Felix.


"Felix, iya atau tidak?" tekan Alby. Felix terdiam. Ia tidak apa-apa jika ia menikah saat ini, tapi jika menikah dengan anak Sekolah Menengah Atas, itu akan ribet. Ia tak mau membebani perempuan itu dengan banyak tanggung jawab.


"Oke, besok kamu harus datang ketemu dia di restoran keluarga kita. Ini memang gak bisa di tolak Felix." ucap Alby. Felix mengangguk saja. Alby pun keluar dari kamar Felix.


"Yang bener aja? Adek gua masih SMA gua larang nikah. Lah ini, gua nikah sama anak SMA?! What the ****!" kesal Felix.


Keesokan harinya, di Altezza Resto....


"Udah lama?" tanya Alby.


"Baru datang juga kok Al." jawab Arya.


"Oh ya, aku udah lama nih gak ziarah ke makamnya Flora." ucap Karin.


"Felix yang mana?" tanya Arya saat melihat kedua pria di samping Alby.


"Oh ini Arsen dan Ervan. Anaknya Bang Luqqa." ucap Alby.


"Oh iya, abang lu kan? Luqqa dan istrinya Fiona? Udah lama banget ga denger nama mereka berdua." ucap Arya.


Ntah kenapa, mendengar nama orang tua mereka di sebutkan, Ervan dan Arsen menunduk. Sepertinya mereka merindukan kedua orang tua mereka.


"Letkol Luqqa Ahmad Altezza dan Persit Fiona Layra." ucap Arya. Alby yang menyadari kedua keponakannya itu mulai sedih, langsung mengubah topik pembicaraan.


"Oh ya. Ini anak kedua gua, Isvara Chelsea Altezza." ucap Alby. Arya mengangguk.


"Jadi kalian, mau mengikuti jejak orang tua kalian untuk jadi abdi negara?" tanya Arya. Alby menepuk jidatnya. Kenapa Arya sangat tidak peka.

__ADS_1


"Saya akan mendaftar untuk masuk akademi militer Om." jawab Ervan.


"Saya sedang koas untuk menjadi dokter militer." jawab Arsen.


"Sudah saya duga, kalian pasti juga gak jauh-jauh dari kemiliteran." ucap Arya.


"Maaf telat." ucap Felix menatap Alby. Seorang perempuan yang sedari tadi menunduk langsung mendonggakkan kepalanya. Ia melihat Felix yang sedang membenarkan tatanan rambutnya.


"Astagfirullah." ucap perempuan itu.


Felix pun duduk di samping Alby.


"Kenapa telat?" tanya Alby.


"Ya allah pa. Di luar hujan." jawab Felix.


"Tadi aku suruh kakak ikut ke mobil kita aja kakak gak mau." ucap Vara.


"Baiklah, maaf tuan putri." ucap Felix.


"Oke-oke kita hentikan drama ini. Ar, ayo." ucap Alby. Arya mengangguk.


"Felix perkenalkan ini anak om, namanya Razaina Zahra Nailah. Dia lebih tua setahun dari Vara." ucap Arya. Felix mengangguk.


Alby menyenggol lengan Felix.


"Apa sih pa?" bisik Felix.


"Bawa jalan-jalan tuh." jawab Alby dengan berbisik.


"Harus sekarang?" bisik Felix.


"Lebaran haji." jawab Alby kesal. Felix berdecak malas.


"Om, boleh izin bawa Razainanya? Saya mau kenalan saja. Ke taman belakang." izin Felix. Arya melihat ke arah istrinya lalu mengangguk. Felix berdiri dari duduknya dan menghampiri Alesha.


"Maaf saya ganggu sebentar. Ayo kita ke taman belakang." ajak Felix. Razaina berdiri dengan masih menunduk. Felix sengaja berjalan di depan Razaina karna ia tau sepertinya Alesha mirip dengan Fayyana.


Saat sampai di taman belakang, Felix agak menunduk kebawah saat ingin melihat Alesha, karna tubuh Razaina yang mungil seperti Vara.


"Razaina." panggil Felix.


"Zahra." ucap Alesha yang rupanya pangilannya adalah Zahra.


"Oke-Oke, Zahra." ucap Felix lembut. "Sekarang kamu masih kelas sebelas kan? Saya cuman mau tanya, apakah kamu siap dengan tamggung jawab kamu sebagai seorang istri? Bukan saya meremehkan kamu, tapi saya gak mau membebankan kamu. Apa lagi kamu akan naik ke kelas dua belas." tanya Felix.


"Insya allah saya siap kak." jawab Zahra.


"Baiklah, kalau kamu siap. Semoga kita bisa akur setelah menikah nanti. Jujur saja saya orangnya agak merepotkan." ucap Felix sambil tersenyum. Ia hanya mengetes Zahra saja. Sebenarnya ia tak merepotkan, ia bahkan bisa membersihkan rumah dan memasak. Itu sudah sering ia lakukan karna ia tak mungkin melimpahkan semua pekerjaan rumah sama Vara dan kedua sepupunya.


Tanpa Felix ketahui, Zahra tersenyum.


"Boleh saya minta mahar?" tanya Zahra. Felix kembali melihat Zahra.


"Apa?" tanya Felix.


"Hapalan surah Ar-rahman." jawab Zahra.

__ADS_1


•••Bersambung....


__ADS_2