F4 : Love Proposal

F4 : Love Proposal
BAB 39 : F4 Comeback


__ADS_3

3 bulan kemudian....


"Ini salah, mau gini gak bisa, yang ini gak bisa. Gimana nih? Udah pusing banget gua!" kesal Frizy.


"Biasanya strategi lu selalu berhasil Fit, tumben yang ini udah 3 kali coba gagal semua?" tanya Fardan.


"Lu liat dong siapa leader kita dulu. Kalau di situasi genting otak gua gak bisa mikir. Cuman Felix yang bisa mikir waktu panik." ucap Fito.


"Kita harus cepat. Saham Altezza grup udah turun banyak. Kalau ini berlangsung lama, bukan hanya Altezza grup yang bangkrut. Witton Compeny, Kivandra grup dan Malikh Compeny semuanya ikut hancur." ucap Vian.


"Aldino gak bisa selamanya ngehandle itu. Kalau kayak gini terus perusahaan Aldino juga kena." ucap Kavin.


"Apa gua perlu buat strategi baru?" tanya Fito.


"Gak!" jawab Arsen keras. "Asal lu tau, karna rencana lu, sekarang om alby dan Ervan di tahan. Walau gua masih bingung kekuasaan Om Arkaiz itu sebesar apa. Tapi gua minta tolong, selagi gak ada Felix jangan buat strategi lagi!" pinta Arsen.


"Kita aja gak tau dimana Felix." ucap Frizy.


"Bandung, Felix ada di bandung." ucap Arsen.


•••


"Oke! Saya transfer sekarang juga!" tegas Felix.


"Ingat 500 juta jika kamu ingin bawa dia pergi dari sini!" ucap seorang wanita.


Felix tadi menawarkan tumpangan seperti biasanya pada Qila. Qila sudah menolaknya, tapi Felix bersikukuh mengantar Qila untuk pulang. Alasan Felix sangat simple, karna ia tidak ingin anggotanya pulang sendirian saat sudah malam seperti ini.


Duh, mana uang gua cuman tinggal 1 miliar. Tapi setidaknya masih bisa nolong Qila. Gua udah muak sama orang tuanya. Anaknya di jadikan mesin uang dan di pukulin tiap hari. Ya kalau gak mau nerima anak kandung suaminya tinggal suruh Qila ke panti atau tinggal sendiri kan? Ini malah di jadikan mesin uang, di jadikan pembantu dipukul pula. Batin Felix.


"Jangan pak." ucap Qila. Felix mengeluarkan handponenya dan membuka mobile bankingnya. Lalu mentransfer 500 juta sesuai perjanjian.


"Udah saya transfer. Kalian harus tanda tangani ini." ucap Felix. Mereka berdua pun menandatangani dokumen yang di pegang Felix.


"Beresin barang-barang kamu." ucap Felix.


"Ingat, jangan ganggu Qila. Paham?" ucap Felix dengan hawa dinginnya. Mereka sontak mengangguk cepat.


"Udah?" tanya Felix heran.


Kok cepat banget? batin Felix.


"Barang saya sedikit pak." jawab Qila. Felix pun mengangguk. Ia merangkul Qila lalu membawanya keluar.


"Bu! Seharusnya dia buat aku! Dia itu lumayan kaya dan ganteng! Kenapa ibu kasih dia sama Qila?" tanya Asya, kakak tiri Qila.


"Hei, tenang dong. Presdir di perusahaan kalian kan masih belum menikah, kamu bisa goda dia. Umurnya kan sama dengan orang tadi bahkan dia lebih kaya." ucap ibunya.


"Presdir Altezza Grup? Gimana aku godainnya Bu? Dia di jakarta!" kesal Asya.

__ADS_1


"Yaudah, kamu ke Jakarta sana." ucap ibunya.


"IBU!" kesal Asya.


•••


"Maaf dan terima kasih pak, saya pasti bayar." ucap Qila.


"Hm, gimana kalau kamu bayarnya sekarang aja?" tanya Felix.


"Maksudnya pak?" tanya Qila.


"Kita simbiosis mutualisme aja. Kamu perlu saya, saya perlu kamu." ucap Felix.


"Bapak butuh bantuan saya? Apa pak?" tanya Qila.


"Ayo ikut saya." ucap Felix menaiki motornya yang akhirnya bisa ia perbaiki sejak kecelakaan 3 bulan lalu.


Qila pun ikut naik ke jok belakang motor Felix. Felix mengendarai motornya membelah jalan raya Bandung yang masih ramai walau sudah malam.


Ckitt!


Akhirnya Felix berhenti di sebuah bangunan.


"Kantor Urusan Agama." baca Qila.


"Hm, kamu perlu status but bantuin saya." jawab Felix.


"Tapi tutup pak." ucap Qila.


Tok! Tok!


Felix mengetoknya dengan kuat. Ia yakin kantor ini baru saja tutup.


"Altezza Family!" teriak Felix.


Brak!


Pintu kantor itu langsung terbuka lebar. Felix tersenyum. Akhirnya ia menggunakan nama Altezza untuk pertama kalinya setelah ia limayan lama pisah dengan keluarga Altezza.


"Silahkan tuan muda." ucap Felix.


"Ayo!" ajak Felix kepada Qila yang masih melongo. Qila pun menggelengkan kepalanya lalu mengikuti Felix masuk ke dalam sana.


"Saya kira anda tidak datang." kata penghulu itu. Sepertinya Felix sudah merencanakannya.


"Baik, saya mau pernikahannya sah di mata hukum dan agama. Hari ini juag, detik ini juga." ucap Felix.


"Baik tuan muda." jawab penghulu itu. Felix dan Qila pun foto berlatar biru dan melakukan ijab kabul serta menandatangani buku nikah. Nama mereka juga sudah terdaftar sebagai suami istri.

__ADS_1


Felix sudah merencanakan semuanya kemarin. Ia tau ini akan terjadi lagi dan ia juga sangat membutuhkan wanita di sampingnya. Selain itu ada alasan lain Felix mengambil langkah berani ini.


"Kalian sudah sah suami istri di mata hukum dan agama. Selamat." ucap Penghulu itu.


"Kita menikah pak?" tanya Qila. Felix mengangguk. Mereka pun keluar dari kantor urusan agama dan sekarang kantor itu benar-benar tutup.


"Keluarga bapak gimana?" tanya Qila.


"Keluarga? Bisa diatur. Sekarang kita pulang dan jangan panggil saya bapak kalau diluar kantor." ucap Felix.


"Lalu siapa?" tanya Qila.


"Hm, karna saya lebih tua 2 tahun dari kamu, kamu bisa panggil saya kak aja." jawab Felix. Qila mengangguk. Mau tak mau ia harus mengikuti Felix karna ia sudah hutang budi kepada Felix.


Oh ya, nama kakak kan Felix Arthur kenapa tadi aku lihat nama buku nikahnya Gelix Arthur Altezza? Batin Qila.


Felix mengendarai motornya menuju rumahnya.


"Oke udah sampai." ucap Felix. Qila pun turun dari motor Felix. Felix membuka kunci pintu dan mempersilahkan Qila masuk.


Wow rapi banget. Batin Qila.


"Kakak tinggal sendiri?" tanya Felix.


"Yes, im alone." jawab Felix sambil membuka pintu kamarnya.


"Barang-barang kamu bisa letakkan di sini." ucap Felix. Qila agak ragu masuk ke kamar Felix. Tapi akhirnya ia memberanikan diri untuk masuk.


"Kamu beberes, aku mau masak dulu." ucap Felix.


"Qila aja yang masak kak." ucap Qila


"No, kamu beberes dulu." ucap Felix langsung pergi ke dapur.


Kak Felix baik banget serius. Walaupun aku gak tau rasa cinta aku bakalan ke balas sama kak Felix atau gak. Batin Qila.


TOK! TOK! TOK!


Bunyi ketokan di pintu sangat keras membuat Felix berdecak sebal. Ia pun meninggalkan dapur dan membuka pintu.


"APA?!" marah Felix.


Bugh!


3 orang laki-laki berlutut di depan Felix.


"Kami gak bisa selesaikannya Lix!"


•••Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2