
Ijab kabul pernikahan Fay dan Fardan selesai. Akhirnya yang di tunda-tunda selama ini bisa terselesaikan juga. Sungguh sangat lega sekali rasanya.
Fito melirik Frizy dengan tatapan jahil. Ia mencolek lengan Frizy lalu menaikkan dagunya.
"Lu kapan?" tanya Fito.
"Ntar lagi, lamaran gua udah di Acc sama camer." jawab Frizy.
"Asik makan-makan lagi." ucap Fito. Frizy memberikan tatapan julidnya saat mendengar perkataan Fito.
"Noh bapak leader tanya, kapan resepsinya. Yang pasti punya dia lebih mevvah." ucap Frizy.
"Ada benernya juga." jawab Fito.
Mereka pun memberikan selamat kepada Fardan dan Fay lalu stay di sana sampai acara selesai. Setelah acara selesai, mereka semua kembali kerumah masing-masing.
Kamar Felix...
Felix duduk diatas kasurnya sedangkan Qila meremas tangannya berusaha mengurangi kegugupannya. Ia kali ini akan bertanya sesuatu yang agak privasi kepada Felix.
"Kak." panggil Qila.
"Hm?" jawab Felix. Qila menghampiri Felix lalu duduk di samping Felix.
"Kak Ervan sama kak Arsen pernah bilang sama aku kalau kakak gak percaya cinta lagi? Maaf pertanyaannya agak Privasi." ucap Qila. Felix tertawa renyah.
"Tanyain aja apa yang pengen kamu ketahui gausah takut. Aku gak bakalan batasin kamu." ucap Felix.
"Jadi kamu mau tau apa lagi?" tanya Felix.
"Kakak beneran gak percaya Cinta? Terus kok kakak mau nikah sama aku?" tanya Qila.
"Di bilang gak percaya cinta sih kurang tepat. Kakak cuman gak mau terlibat lagi sama namanya cinta. Tapi kalau kamu nanya kenapa kakak mau nikah sama kamu, pasti kamu tau alasannya." ucap Felix.
__ADS_1
"Tapi kenapa harus nikah? Kan kakak bisa aja pelerjakan aku jadi pembantu atau yang lainnya." ucap Qila.
"Saat itu aku memang bener-bener butuh istri. Aku tau aku bakalan balik lagi kerumah ini. Dan saat aku balik kerumah ini dengan kondisi jomblo, pasti papa bakalan jodohin aku sana sini dan aku terlibat cinta lagi." jawab Felix.
"Jadi kakak gak cinta aku?" tanya Qila.
"Hm, menurut aku cinta itu datang karna kita terbiasa sama seseorang yang selalu ada di samping kita. Mungkin saat ini perasaan itu belum ada dan aku mau kamu nunggu sebentar lagi." ucap Felix.
"Aku berharap itu akan secepatnya terjadi, karna aku pengen juga rasanya di cintai karna memang bener kata orang mencintai sendiri itu lumayan capek." ucap Qila. Qila kembali memberanikan dirinya untuk kalimat selanjutnya yang akan ia lontarkan sementara Felix masih setia mendengar.
"A-aku jujur kalau aku suka kakak dari awal pertama masuk kerja. Awalnya aku kira kakak bakalan galak, tapi beberapa menit kemudian itu semua terhapus. Rupanya kakak ramah dan baik selalu peduli sama orang. Gak tau sejak kapan rasanya mulai datang perlahan. Tapi yang pasti sebelum aku sama kakak nikah perasaan itu udah ada." ucap Qila.
Felix memeluk Qila. Qila yang sedang melow akhirnya menumpahkan semua air matanya di punggung Felix.
"Maaf ya kamu harus nunggu lagi." ucap Felix. Qila semakin terisak, entah kenapa setelah kedua mantan Felix itu menikah perasaannya sudah agak lega. Ia berharap Felix dapat setia hanya pada dirinya. Ia tak mau mengulang kejadian seperti ayahnya.
"A-aku sebenarnya takut menikah karna melihat pernikahan ayah sama ibu. Ayah mukulin Ibu sampai ibu sakit dan lari gitu aja. Setelah ibu meninggal aku terpaksa tinggal sama ayah dan di jadikan pembantu sama ibu tiri itu. Di jadikan mesin penghasil uang. Aku bahkan pernah hampir dijual sama ayah." tangisan Qila pecah. Felix semakin menguatkan pelukannya.
Qila menangis di pundak Felix. Akhirnya bebannya yang selama ini ia tanggung sendiri tidsk terlalu berat lagi karna ia punya teman cerita sekarang.
"Mau makan yang manis-manis sebagai penyejuk hati?" tawar Felix. Qila menatap wajah Felix dengan bingung. Wajah bingung Qila sangat menggemaskan sampai Felix mencium mata sembab Qila. Ia mencium kening dan kedua pipi Qila lalu terakhir mendarat di bibir Qila.
"Kak! First kis Qila!" protes Qila.
"Kan udah halal hehe. Anggap aja bayaran kamu udah basahin baju aku." ucap Felix. Qila kembali memeluk Felix.
"Belum malam banget nih. Mau jalan-jalan?" ajak Felix. Qila yang masih dalam pelukan Felix itu mengangguk.
"Yaudah yuk." ucap Felix berdiri. Qila pun berdiri.
"Bawa jaket ntar dingin." ucap Felix lagi. Qila mengambil jaketnya dan mereka berangkat menggunakam motor Felix.
Felix mengajak Qila ketaman yang cukup terkenal dan masih ramai pada jam segini. Felix dan Qila turun dari motor. Felix menggandeng tangan Qila.
__ADS_1
"Ntar kamu ilang, kamu kan kecil susah di cari." ucap Felix. Qila menatap Felix dengan tatapan kesal. Mereka seperti anak pacaran saja. Tapi memang pantas pada umur mereka saat ini seharusnya mereka pacaran dulu.
Felix mengajak Qila berjalan di taman itu. Terlihat banyak sekali anak muda seumuran Qila yang sedang pacaran.
"Gausah iri sama mereka yang pacaran belum halal. Seharusnya mereka yang iri sama kita, kita pacaran pas udah halal." ucap Felix saat melihat Qila menatap remaja seumuran dia sedang pacaran mesra.
"Qila gak pernah pacaran jadi Qila gak tau rasanya pacaran." ucap Qila.
"Kenapa gak pacaran?" tanya Felix.
"Mana ada yang mau sama Qila. Qila dulu culun, malah jadi sasaran empuk untuk di bully." ucap Qila.
"Kamu di bully?" tanya Felix. Qila mengangguk. Felix menatap prihatin dengan istri kecilnya ini. Berapa banyak cobaan yang telah ia terima selama ini? Kenapa banyak sekali.
"Kenapa di bully?" tanya Felix.
"Qila selalu pakai sepatu, tas dan seragam bekas kakak. Dulu juga sering ikat rambut dua kayak anak ambis. Wajah Qila juga sering babak belur jadi kata mereka biar komplit mereka ikutan juga kayak ayah. Mereka sering bandingin diri mereka sama Qila yang gak punya apa-apa dan selalu pakai yang bekas." jawab Qila.
"Kata ayah, ayah gak punya uang buat beliin Qila yang baru. Gak papa kok, bekas kakak masih bagus juga." ucap Qila sambil tersenyum. Bisa-bisanya ia masih tersenyum dengan apa yang ia alami saat ini.
"Kakak mau tau sesuatu lagi gak?" tanya Qila. Felix mengangguk.
"Semua yang aku lakuin sama kakak, semuanya pertama kali buat aku." ucap Qila.
"Bahkan pegangan tangan?" tanya Felix menunjukkan tangannya yang tergenggam erat dengan Felix. Qila mengangguk.
"Kan gak ada cowo yang mau dekat sama aku, jadi semuanya yang kakak lakuin itu pertama kali buat aku." ucap Qila. Felix memegang pipi Qila dan menatap mata Qila.
"Kamu tau? Kamu perempuan terhebat yang selama ini aku temui. Jadi sebagai perempuan hebatnya Felix Altezza, kamu gak boleh nangis dan ingat masa lalu kamu itu. Aku sebagai suami kamu berjanji akan membuat perempuan hebat ini bahagia." ucap Felix. Qila tersenyum lebar lalu kembali memeluk Felix.
"Kalau kakak bahagia aku bahagia juga." ucap Qila. Felix mengelus kepala Qila dan mencium pucuk kepala Qila.
•••Bersambung...
__ADS_1