
Paginya, Felix sudah bersiap untuk masuk kerja. Ini adalah hari pertama Felix bekerja. Felix turun ke lantai bawah dengan stelan jas rapi berawarna hitam.
"Morning everyone!" ucap Felix sambil duduk di meja makan.
"Siapa yang masak nih? Banyak juga? Gak mungkin Vara kan? Dia masak aja masih Ervan yang ngajarin." tanya Felix.
"Si Arsya tuh." jawab Alby.
"Hah? Arsya mana?" tanya Felix.
"Bukannya tadi malam kamu bawa wanita pulang?" tanya Dino yang berada di depan Felix bertujuan mengingatkan Felix tantang kejadian malam tadi. Dino baru saja di beri tau oleh Alby.
"Eh iya, cewe itu yang masak?" tanya Felix. Alby dan Dino mengangguk.
"Ntar, My Kai mana?" tanya Felix lagi. Pasalnya dari ia bangun tidur tadi Kai sudah tidak ada di sampingnya.
"Kak!" panggil Kai. Felix menoleh ke belakang dan melihat Kai yang sudah rapi dan harum.
Felix menghampiri Kai dan berjongkok.
"Kai nya kakak baru mandi? Mandi sama siapa?" tanya Felix.
"Sama kak Arsya." jawab Kai.
"Oh sama kak Arsya." ucap Felix sambil mengusap kepala Kai.
"Kai mau kemana udah rapi?" tanya Felix.
"Lix! Kai kamu ajak ke kantor aja. Papa ada urusan, Dino kerja dan Vara kuliah." ucap Alby.
"Titipin sama om lorengnya aja. Ada Ervan sama bang Arsen kan?" tanya Felix.
"Ervan ada latihan gabungan. Kalau Arsen, tadi malam kan dia udah bilang mau praktek ke rumah sakit bareng Kavin." jawab Alby.
"Oh iya, F4 ada." ucap Felix.
"Nah papa aja gak yakin sama F4." balas Alby. Felix menunduk.
__ADS_1
"Makanya jangan jadi sok dewasa. Papa tau kamu masih perlu bimbingan. Jadi jalan kamu udah bener kerja dulu jangan nikah atau adopsi anak dulu." ucap Alby.
"Yaudah Kai ikut sama Felix aja." balas Felix.
"Terus, siapa yang jagain dia di kantor?" tanya Alby.
"Felix bawa Arsya." jawab Felix.
"Saya?" tanya Arsya saat namanya tersebut.
"Gak ngerepotin dia Lix?" tanya Dino.
"Nah iya, lagian surat dari pengadilan belum keluar. Bisa jadi Papa gak bisa adopsi di karna papa orang tua tunggal." ucap Alby. "Lain kali kalau mau ngambil keputusan mikir dulu. Kalau kamu kayak gini, perusahaan bisa bangkrut di tangan kamu. Papa tau kamu itu pintar banget, selalu juara satu umum apa lagi kemarin dapat gelar Coumlaude. Tapi kalau kayak gini cara kerja kamu, lebih baik kamu gabung sama Ervan dan Arsen di batalyon." lanjut Alby.
"Ini kah jalan pikiran seorang leader F4? Papa kira kamu awalnya bijak karna kamu anggota termuda dari F4 dan kamu juga leadernya. Tapi papa gak yakin untuk saat ini kamu bisa jadi pemimpin, apa lagi sejak pulanh dari Australia. Papa bahkan gak tau apa yang terjadi saat kamu di Australia." ucap Alby berdiri dari duduknya.
"Papa duluan ya." pamit Alby. Vara yang baru saja keliar dari dapur menghampiri Alby dan menyaliminya.
"Papa mau kemana?" tanya Vara.
"Papa mau ke bogor? Mau Dino antar?" tanya Dino.
"Gak usah, papa sama Raza aja perginya." jawab Alby. "Seharusnya kamu gak kerja Dino. Biarin Felix aja yang bantuin kerjaan kamu." ucap Alby
Uhuk! Uhuk!
Felix tersedak nasi goreng. Ia kaget dengan perkataan papanya. Ia saja tidak tau pekerjaannya sebanyak apa, lalu mau di tambah dengan pekerjaan Dino? Masa baru hari pertama Felix sudah lembur?
"Gak usah Pa, Felix juga pasti kerjaannya banyak. Sekalian juga mau ngantar Vara sekalian ke kantor." jawab Dino sangat pengertian. "Sekalian mau izin pindah ke apartemen Dino yang dekat sama kantor Pa." lanjut Dino.
"Gak tinggal di sini aja?" tanya Alby.
"Udah keputusan Vara sama kak Dino Pa. Jadi mau ke kampus dekat, ke kantor juga dekat." jawab Vara. Alby mengangguk.
"Mau pindah kapan?" bukan Alby yang bertanya melainkan Felix.
"Insya allah besok Lix." jawab Dino.
__ADS_1
"Cepet banget, lu gak bawa kabur adik gua kan?!" tanya Felix.
"Ya terserah kak Dino, lagian kak Dino suami Vara! Terserah kak Dino mau bawa Vara kemana!" kesal Vara saat mendengar nada introgasi kakaknya itu. Felix berdiri dari duduknya dan langsung merangkul kepala adiknya yang tak mengenakan hijab itu lalu membuat kusut rambutnya.
"FELIX ALTEZZA!" kesal Vara.
"Makanya pake hijab!" jawab Felix lalu menggendong Kai dan berlari keluar.
Mereka tertawa puas saat melihat Arsya yang berusaha mengejar Felix yang lari dengan kaki panjangnya itu.
"Kasian anak orang. Di kiranya semua orang setinggi dia?" tanya Vara heran.
"Udah, pakai khimarnya. Kita berangkat." ucap Dino. Vara mengangguk dan berjalan menaiki tangga menuju lantai dua untuk mengambil khimarnya.
"Yaudah papa berangkat juga." ucap Alby. Dino mengangguk.
•••
"Kak jangan lari lagi aku gak bisa ngejar kakak." ucap Arsya.
"Ya maaf." ucap Felix. Felix keluar dari mobilnya bersama dengan Arsya yang menggendong Kai. Beberapa pegawai menyambut Felix sambil menatap heran.
"Bukannya presdir baru kita belum nikah ya?" bisik pegawai yang menyambut Felix.
"Iya ini mah udah punya istri sama anak. Tapi presdir masih terima istri kedua gak ya?" balas temannya.
"Hus! ada ada aja kamu!" ucap pegawai itu.
"Felix!" panggil Frizy. Felix menoleh ke belakang. Ada Fito dan juga Fardan bersama Frizy.
"F4? Kenapa?" tanya Felix.
"Gawat!" ucap Fito.
"Kenapa?" tanya Felix heran.
•••Bersambung...
__ADS_1