
Pesawat itu pun mendarat dengan selamat di bandara internasional di Australia. Felix turun dahulu dan membiarkan wanita itu sendiri. Gelix turun dengan tenang dan berjalan menuju tempat pengambilan barang.
"Hai!" sapa wanita tadi. Felix terkejut karna dia sedang fokus dengan ponselnya.
"Kenapa?" tanya Felix malas.
"Makasih udah mau nolongin. Tadi katanya kamu bilang, kamu suami aku makanya dia mau tukar tempat duduk." ucap wanita itu.
"Sama-sama." jawab Felix. Felix mengambil kopernya dan berjalan menjauh sambil menyeret 2 kopernya.
"Hei kita belum kenalan!" ucap wanita itu mengejar Felix sambil menyeret kopernya dan mengulurkan tangannya di depan Felix.
Felix berlalu begitu saja. Ia malas meladeni wanita seperti ini. Toh dia punya Zahra, ia harus menjaga hati atau ia bisa di keluarkan dari kartu keluarga Altezza.
"Aku Nayra Cleo Jessica mahasiswa baru University of Melbourne jurusan Fashion." ucap wanita bernama Nayra itu.
Dalam hati Felix ia menyumpah serapahi wanita bernama Nayra itu. Kenapa mereka bisa satu kampus? Untung saja Felix mengambil jurusan Manajemen Bisnis.
"Nama kamu?" tanya Nayra.
"Kepo." jawab Felix singkat lalu benar-benar menjauh dan pergi.
"Hm, cowo misterius. Menarik, aku akan dapatkan identitasnya." gumam Nayra.
•••
"Astagfirullah, Aldino sabar ya." ucap Fito mengelus-elus pundak lebar Aldino. Aldino menoleh ke samping.
"Sepertinya lebih tertekan kamu." balas Aldino. Fito memegang dadanya seakan dialah yg paling tersakiti.
"Iya, gua tertekan ngurus Vara. Untung Felix nitip Vara sama lu." ucap Fito.
"Vara gak nyusahin kok." ucap Aldino sambil tersenyum. Aldino saat tersenyum begitu manis, eyes smilenya mendukung itu semua.
"Ih kak Dino kalau senyum matanya ilang." ucap Vara. Fito dan Arsen tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Dino matanya ilang." ulang Arsen sambil tertawa terbahak-bahak. Aldino hanya tersenyum saja.
"Tapi manis banget." ucap Vara.
"Jangan lupakan Masyaallah ya kalau muji orang." tegur Aldino.
"Hehe, reset. Masyallah senyumnya kak dino manis banget, apa lagi matanya ilang." ucap Vara memperbaiki. Aldino mengangguk. Aldino tetap menatap dagu Vara tanpa mau menatap mata Vara. Katanya takut zina mata.
"No, nunduk mulu." ucap Fito.
"Jaga pandangan sama Vara. Dia kan bukan makhrom saya." jawab Aldino. Fito mengangguk.
"Bang, kapan balik ke batalyon?" tanya Fito.
"Oh, lu mau ngusir gua? Mentang-mentang Ervan udah masuk akademi militer, lu mau usir gua?" bukannya menjawab pertanyaan Fito, Arsen malah menghadiahi pertanyaan bertubi-tubi kepada Fito.
"Ya gak gitu bang, masa lu bebas banget mau pergi keluar dari rumah dinas lu." jawab Fito
"Minggu depan gua pindahan, udah dapat rumah dinas juga gua." jawab Arsen. Fito mengangguk.
"2 tahun lagi." jawab Dino.
"Tahan No? Gak kelamaan tu?" tanya Fito.
"Insyaallah gak." jawab Dino.
"Terus, Vara mau lu bawa ke Abu Dhabi?" tanya Fito.
"Kalau om Alby gak mengizinkan, ya saya gak bakalan bawa dia ke Qatar." jawab Dino.
"Oh ya bulan depan lu mau ke turki kan?" tanya Fito.
"Iya rencana saya juga mau kuliah di turki dengan target 3 tahun seperti Felix." jawab Dino
"Yah berarti kakak bakalan ninggalin Vara?" tanya Vara.
__ADS_1
"Ya kalau kamu gak setuju, Abi sama Umi juga gak setuju, terpaksa saya kuliah di indonesia." ucap Dino.
"Kuliah di indonesia aja, yang penting gelar kan?" tanya Fito. "Gua tau lu udah pinter bisnis islami." ucap Fito lagi.
"Iya gelar, saya juga alumni sekolah bisnis islam. Tapi saya cuman mau lebih memperdalam ilmu bisnis islam." ucap Aldino. "Saya gak memaksakan kehendak saya. Jika tidak di terima saya akan cari cara lain." ucap Aldino.
"Kenapa gak di Abu Dhabi? Kenapa di Turki?" tanya Vara.
"Iya, kenapa gak sekalian di Arab?" tanya Fito.
"Saya kan dari turki, saya cuman mau kembali ke tanah kelahiran saya. Walau saya punya darah indonesia, tapi saya tetap lahir di Istanbul." ucap Aldino.
"Tapi namamu sangat indonesia able." ucap Fito.
"Hahaha, Nama Aldino memang sengaja di kasih umi saya biar ada konsep indonesia katanya." jawab Aldino. Fito pun mengangguk.
•••
"Hah, baru beberapa jam di sini, udah tersiksa aja." keluh Ervan.
"Semangat Ervan. Kamu harus punya pangkat lebih tinggi dari pada ayah. Kalau ayah kamu aja bisa dapat pangkat Letkol, artinya kamu bisa dapat pangkat Kolonel." gumam Ervan.
Ervan baru saja di tes fisik. Ia harus lari keliling lapangan sebanyak-banyaknya dalam waktu 30 menit. Lalu di susul lari bolak balik di tambah push up dan sit up dan banyak latihan fisik lainnya.
Ervan sebenarnya lumayan terbiasa, tapi latihan ini terbilang cukup berat karna biasanya Ervan hanya latihan fisik kecil saja. Lari 7 keliling, push up 30 kali, sit up 30 kali, kadang ia joging pagi, melakuksn peregangan dan banyak lagi.
Ia kira latihannya akan cukup ringan seperti latihan yang di dapatkan Arsen. Ternyata Ervan salah, Arsen itu latihan fisiknya agak ringan karna ia ambil jurusan kedokteran militer. Sekarang pun pangkat Arsen sudah sampai pada pangkat Lettu.
"Haha, Lettu Arseno Altezza. Liat aja bang, besok gua bakalan ngalahin pangkat Lettu lu dengan pangkat komandan gua." ucap Ervan.
"Si paling Koas, padahal latihan. Dia kan dokter militer bukan dokter umum." ucap Ervan lagi.
"Van! Latihan mau di mulai lagi. Udahan istirahatnya." ucap salah satu teman Ervan. Ervan mengangguk. Ia juga sangat bersyukur ia bisa cepat menyesuaikan diri di akademi militer ini.
•••Bersambung...
__ADS_1