F4 : Love Proposal

F4 : Love Proposal
BAB 41 : Bayi Gede


__ADS_3

"Kak, mereka tadi siapa? Kok manggil kakak pakai nama depan?" tanya Qila.


"Hm, sahabat bagai saudara." jawab Felix.


"Terus nama kakak sebenarnya siapa?" tanya Qila.


"Ya Felix Arthur. Mereka memang manggil Felix karna mereka udah deket. Biasanya kalau buat formal manggil Arthur." jelas Felix.


Tapi boong. Mana pernah orang manggil nama tengah gua. Gua bisa pastiin juga bahkan anak F4 lupa nama tengah gua karna jarang di sebut. Batin Felix.


"Serius? Terus keluarga kakak?" tanya Qila.


Kepo bener ni anak. Masa gua ungkapin semuanya? Ya gak lah. Batin Felix.


"Kamu nanya?" ucap Felix dengan nada dilan yang lagi viral di salah satu media sosial.


"Kak aku serius. Kakak tau keluarga aku, bahkan nolongin aku dari keluarga aku. Masa aku gak tau keluarga kakak." ucap Qila.


"Yaudah, kakak punya 1 orang tua, 1 adik kandung seumuran kamu, 1 adik ipar dan 2 sepupu dari angkatan darat." ucap Felix singkat.


"Bentar, satu orang tua atau sepasang orang tua?" tanya Qila.


"Menurut kamu?" bukannya menjawab, Felix malah kembali bertanya kepada Qila.


"Serius kak." ucap Qila kesal


"Hehe, nanti kamu tau kok. Udah tidur sana. Aku tidur di ruang kerja aja. Takut kamunya gak nyaman." ucap Felix mengambil bantal dan selimut lalu keluar kamar.


Sejenak, aku kira kak Felix bakalan minta jatahnya langsung. Batin Qila


•••


"Sabar ngadepin anak orang Felix. Kalau kata mama anak sabar itu di sayang tuhan." gumam Felix sambil mengelus dadanya.


Felix membuka laptopnya dan tersenyum. Tadi, Fardan sempat bilang bahwa saham Altezza grup turun drastis.


Akhirnya setelah sekian lama, Felix membuka kembali pekerjaan yang ia tinggalkan selama ini. Ia membuka flasdisk yang selama ini ia simpan.


"Astaga, maafin Felix ya Ma, Felix seharusnya tetap kontrol Altezza grup dari jauh bukan ninggalin kerjaan gitu aja." gumam Felix. Felix mengutak atik dokumen itu semalaman supaya saham Altezza Grup kembali naik.


Saat ini pukul 03:00 dan Felix masih setia di depan laptopnya. Tiba-tiba tangan Felix bergetar hebat dan nafasnya sesak.


Bisa gak usah ngerepotin gak sih? Saham Altezza Grup lebih penting. Batin Felix tetap melanjutkan pekerjaannya walau susah karna tangannya tremor.


"Selagi gak mimisan kayak dulu, gas aja lah." gumam Felix tetap mengerjakan pekerjaannya walau pelan karna tangannya bergetar dan nafasnya sesak.


Di balik pintu, Qila prihatin melihat Felix yang seperti itu. Qila pikir Felix lembur untuk masalah di kantor.


Tadi kebetulan Qila ingin minum di dapur, tapi ia melihat pintu ruang kerja Felix terbuka, ia pun mengurungkan niatnya dan sedikit mengintip kegiatan Felix.


Qila pun pergi ke dapur dan membuatkan Felix teh. Sebenarnya Qila tak tau Felix suka teh atau kopi. Tapi ia akhirnya memilih Teh.


Tok! Tok!


"Kak, belum tidur?" tanya Qila.


"Belum La, kamu kok belum tidur?" jawab dan tanya Felix.

__ADS_1


"Qila bawa teh untuk kakak," ucap Qila meletakkan secangkir teh.


"Thanks ya." ucap Felix tersenyum.


"Kakak lembur?" tanya Qila


"Ehm, enggak. Kakak lagi kerja sampingan di salah satu perusahaan." jawab Felox bohong.


Emang jadi presdir kerjaan sampingan? Itu kerjaan utama gua, kerjaan sampingan gua itu manajer di Felza Grup. batin Felix.


"Jangan terlalu di paksakan kak. Sampai gak tidur gini, ntar sakit." ucap Qila.


Gini rasanya di perhatiin sama orang. Biasanya gua kerja sampai gak tidur pun gak di pedulikan. Apalagi waktu gua sekolah, mana besoknya ujian. Laptop plus buku depan mata. batin Felix.


"Gak apa kok udah biasa." jawab Felix.


"Walaupun udah biasa kak, tubuh kakak masih di pakai lama. Kalau kakak maksa gini, kesehatan kakak bisa menurun." ucap Qila.


"Iya bu dokter, sekaramg bu dokternya tidur dan terima kasih tehnya. Lain kali buatin susu ya." ucap Felix tersenyum manis.


Oh pantes stok susu banyak. Kak Felix bayi gede. Batin Qila.


"Tidak, saya akan menemani bapak." jawab Qila.


"Besok kerja Qila. Kamu tidur gih. Aku kiat kok begadang." ucap Felix kembali fokus dengan laptopnya.


"Tapi kak..."


Drttt..Drtt..


"Tuhkan, tidur sana. Aku udah biasa." ucap Felix mengambil handponenya. Mau tak mau Qila pun keluar dari ruangan Felix. Namun tak beranjak dari pintunya. Masih dengan niat menemani Felix.


"Vian, chek saham Altezza grup sekarang. Laporkan semua pergerakan yang mencurigakan di sana. Saya akan kontrol dari jauh. Masalah om Arkaiz, saya dan F4 yang akan selesaikan." ucap Felix.


"................"


"Sepertinya memang harus kembali. Papa, bang Arsen dan Ervan udah jadi korban. Saya gak mau Vara juga jadi korban, walau ada Aldino. Dan Kai, gimana keadaan Kai?" tanya Felix.


"............"


"Bagus, Kai di bawa sama Vara ke abu dhabi. Seyelah semuanya selesai saya akan membongkar semuanya satu persatu." ucap Felix dingin tak seperti biasanya yang tergolong sedikit bercanda. Kali ini nadanya sangat dingin dan serius.


Felix akhirnya mematikan telfon secara sepihak dan meletakkan handpone Z Fold itu di meja. Ia menggunakan handpone itu sebagai handpone bisnis karna bisa di jadikan tablet.


Drtttt...Drrrrttt...


"Hah, udah lama handpone yang ini gak bunyi." ucap Felix menghidupkan layar handpone berkamera tiga dan bergambar apel di gigit itu. Ia tersenyum saat menatap nama yang tertera di sana.


"Hello Boy! How are you today?" tanya Felix sedang melakukan video call dengan Kai.


"Hallo dad." sapa Kai.


"Belum tidur boy?" tanya Felix.


"Dia nungguin Telfon kakak udah dari lama banget." jawab Vara.


•••

__ADS_1


"Hah Dad? Kak Felix udah punya anak? Dan kak? Jangan-jangan aku istri keduanya." gumam Qila lalu memutuskan untuk masuk ke kamar Felix.


"Aku sama sekali gak ngerti kehidupan dia. Begitu banyak yang dia sembunyikan. Hah, sadarlah Qila kamu nikah sama dia cuman buat bayar hutang kamu ke dia." gumam Qila


"Aku penasaran dengan keluarganya dan kenapa dia bisa tinggal sendiri disini." gumam Qila kemudian kembali tertidur.


Keesokan paginya.....


Sarapan sudah Qila siapkan di meja makan. Felix pun keluar dari ruang kerjanya dan meregangkan semua ototnya. Bayangkan, ia baru tidur satu jam lalu harus bangun lagi untuk pergi kerja.


"Uh sarapan, biasanya aku gak pernah sarapan." ucap Felix sambil duduk di meja makan. Diikuti Qila yang baru saja siap pergi ke kantor.


"Mau pergi bareng?" tanya Felix.


"Kakak pake motor?" bukannya menjawab, Qila malah bertanya.


"Heem, kenapa?" tanya Felix.


"Aku susah naik motor kakak." jujur Qila.


"Gak sesusah itu. Lagian kamu pakai celana, jadi aman." jawab Felix.


Brum brum!


Bunyi motor di depan rumah Felix. Lalu bunyi motor iti berhenti dan kelihatan lah wajah pelakunya.


"Arvian Reyland!" kesal Felix.


"Hehe." cengir Vian.


Sekretaris gak berakhlak! Batin Felix.


"Mana motor titipan gua?" tanya Felix. Vian melepar kunci motor itu kepada Felix.


Liat lu, gaji lu gua turunin mampus. Batin Felix kesal.


"Berapa lu jual motor gua?" tanya Felix sambil berjalan mendekati Vian.


"900, and clean." jawab Vian.


"Terus lu beli ini berapa?" tanya Felix.


"2 M." jawab Vian santai. Felix melotot, dari mana Vian dapat uang sebanyak itu.


"Loh, lu dapat uang dari mana?" tanya Felix. Vian menunjukkan sebuah kartu berwarna Gold. Felix pun mengambilnya dengan cepat.


"Sekretaris sialan, mau gua potong gaji lu?" bisik Felix.


"Ampun tuan muda, saya tadi khilaf." jawab Vian cengengesan.


"Fiks gua potong gaji lu, lu masa ga tau sih? Gua sengaja gak pakai kartu itu karna kartu itu bisa dilacak bego." kesal Felix.


"Maaf tuan muda." sesal Vian.


Sabar Felix, saatnya kita main petak umpet. Batin Felix.


•••Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2