
"Felix itu dulu pernah ada keinginan jadi tentara. Karna tidak adanya pewaris bisnis keluarga Altezza, mimpi Felix terpaksa harus terkubur dan beralih bidang jadi pembisnis, terlebih lagi dia anak pertama dan adiknya cewe, kalau adiknya cowo mungkin dia udah ada di batalyon." jelas Fito.
"Terus apa hubungannya sama pernyataan Zahra tadi?" tanya Zahra.
"Bangga itu bukan hanya untuk jadi abdi negara. Bangga sama apa yang di raih diri sendiri itu sangat wajib. Bahkan jika mimpinya terkubur, tapi dia masih bisa cari celah untuk mimpi barunya." jawab Fito.
"Maksudnya kak? Agak gak nyambung." tanya Zahra.
"Nanti kamu tau sendiri kok." ucap Fito.
•••
"Masuk." ucap Felix. Akhirnya Felix membawa gadis itu pulang karna kasihan.
"Terima kasih." ucap gadis itu sambil membungkuk lalu mengikuti Felix masuk ke dalam rumah keluarga Altezza.
"Kak!" panggil Vara sambil menggendong Kai. Felix menepuk jidatnya, ia lupa bahwa ia menitipkan Kai dengan Vara, Pasti Aldino terganggung dengan Kai.
Felix mengambil alih Kai lalu tersenyum manis sambil mengedipkan mata.
"Makasih cantik, silahkan tidur." ucap Felix. Vara mengeluarkan tatapan sinisnya lalu kembali ke kamarnya.
"Eh Boy, kamu gak ganggu kak Vara, kan?" tanya Felix.
Sepertinya itu adalah anaknya dan yang tadi mungkin adik atau istrinya. batin gadis itu.
"Kamu duduk aja dulu, saya mau menidurkan Kai." ucap Felix mengikuti bahasa formal gadis itu. Gadis itu mengangguk dan Felix langsung ke kamarnya untuk menidukan Kai.
Ceklek!
Pintu depan terbuka, Gadis itu menoleh ke belakang dan terlihat seorang pria masuk ke dalam rumah. Ia pun sejenak kembali menoleh ke depan, ada seorang pria yang menghampirinya. Jadi saat ini gadis itu di apit dua orang Pria.
"Siapa?" tanya Arsen. Alby menggeleng.
"Kamu siapa? Jawab saya." tanya Arsen lagi. Gadis itu menunduk.
"Jawab aja." sahut Alby.
__ADS_1
"Siapa yang bawa kamu ke sini?" tanya Arsen.
"Maaf saya gak tau namanya." jawab gadis itu.
"Terus kamu mau di bawa orang asing ke rumah yang asing gitu aja?" tanya Arsen.
"B-bukan begitu... saya hanya memerlukan pertolongannya saja." jawab gadis itu.
"Felix yang bawa bang." ucap Felix dari atas.
"Siapa yang ngizinin?" tanya Arsen.
"Emang kenapa sih? Lagian bang Arsen ngapain pulang? Katanya mau nginap di tempat bang Kavin." tanya Felix.
"Besok mau tugas di rumah sakit, sekarang mau ngambil mobil mau pulang ke batalyon." jawab Arsen.
Oh dia tentara, pantes menakutkan. batin gadis itu.
"Kenapa pakaian kamu gitu?" tanya Arsen saat melihat pakaian gadis itu sudah ada yang robek. Gadis itu memegang erat jaket yang di berikan Felix.
"Ck! Besok datang kerumah sakit militer, jelasin semuanya." ucap Arsen naik ke atas dan mengambil kunci mobilnya lalu pergi.
"Bang gua pinjam kamar Ervan buat dia ya!" teriak Felix.
"Liat aja kalau ada barang adik gua yang ilang, gua penggal kepalanya!" jawab Arsen.
"Kok kamu bisa seperti itu?" tanya Alby sembari duduk di susul Felix. Gadis itu menatap Felix, Felix pun mengangguk, gadis itu lalu duduk.
"Sebelumnya perkenalkan nama saya Fanny Arsyana sering di panggil Arsya. Saya anak tunggal dari Arkaiz Wardana dan Dyana Ferita. Ibu saya sudah meninggal beberapa tahun lalu dan ayah menikah lagi dengan seorang janda anak satu. Jadilah sekarang saya punya ibu dan kakak tiri." jelas Arsya.
"Ibu dan kakak tiri saya tidak suka sama saya karna harta warisan ayah saya akan jatuh ke tangan saya, jadi mereka sudah menyusun beberapa rencana sebelumnya tapi selalu gagal. Lalu, mereka mengajak saya ke suatu pesta katanya. Ayah saya terhasut oleh ibu tiri saya, jadi beliau memaksa saya ikut ke pesta itu. Ibu dan kakak tiri saya lalu memberikan pakaian kursng bahan ini dan membawa saya ke Bar. Banyak Om-om yang menggoda saya. Saya pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke toilet, saat saya keliar dari toilet kakak tiri saya memaksa saya meminum Vodca yang terlarit dengan obat tidur." jelas Arsya dan diangguki Felix serta Alby.
"Dia memaksa membuka mulut saya dan memaksa saya menelan minuman itu. Tak lama kepala saya mulai berputar dan saya pingsan sebelum keluar dari Bar. Saat saya terbangun sudah ada seorang pria tua yang menindih saya, saya berusaha untuk kabur dan ketemu mobil yang tidak terkunci. Saya masuk ke sana dengan terpaksa agar lolos, lalu saya bertemu dengan kamu. Terima kasih sudah menyelamatkan saya." ucap Arsya.
Felix mengangguk sambil tersenyum.
"Arkaiz Wardana?" tanya Alby. Arsya mengangguk.
__ADS_1
"Ayah kamu Arsitek kan?" tanya Alby lagi. Arsya kembali mengangguk.
"Umur kamu berapa?" tanya Felix.
"18 tahun." jawab Arsya.
"Lebih muda dari 1 tahun dari Vara." ucap Felix.
"Oh ya, saya Alby ayah dari Felix." ucap Alby.
"Salam kenal Pak." ucap Arsya.
"Saya Felix, saya lebih tua 4 tahun dari kamu." ucap Felix.
"Salam kenal kak." ucap Arsya. Felix mengangguk.
"Yang perempuan tadi adik saya, dia baru nikah hari ini. Dia setahun lebih tua dari kamu, namanya Vara dan suaminya Aldino. Kalau anak kecil tadi adik angkat saya namanya Kai. Yang ngeintrogasi kamu tadi namanya Bang Ervan. Dia dokter militer, wajah aja dia garang gitu. Terus dia punya adik juga, adiknya abdi negara sama kayak dia. Namanya Ervan." jelas Felix. Arsya mengangguk paham.
"Kamu tidur di kamar Ervan dulu, masalah baju besok saya pinjam ke Vara." ucap Felix berdiri di ikuti Arsya. Arsya berusaha mengikuti langkah lebar Felix.
Mereka pun masuk ke kamar Ervan.
"Ingat jangan kamu sentuh apapun kecuali tempat tidurnya. Jangan sampai ada yang hilanga atau dua bakalan ngamuk. Kamu bakalan sehari di sini. Besok kamu ke kamar bawah." ucap Felix. Arsya mengangguk mengerti.
"Terima kasih." ucap Arsya. Felix mengangguk lalu masuk ke kamarnya yang berada tepat di sebelah kanan kamar Ervan.
Di pintu putih itu tertulis nama "Letda Ervano C.A."
Arsya pun menutup pintu kamar itu. Cat dindin kamar itu berwarna putih, sangat elegan. Banyak pernak-pernik tentang game, bola dan tentang TNI. Arsya juga melihat foto 4 orang di bingkai foto.
"Foto ayahnya berbeda. Apa mungkin mereka sepupu?" tanya Arsya.
Pokoknya aku akan terus berterima kasih kepada Kak Felix. Terima kasih orang baik. batin Arsya
•••Bersambung...
Okee author hari ini up lagi yeyyy!!!🤗🤗
__ADS_1