
"Tuan muda, sudah datang." ucap Vian.
"Oh ya terima kasih." ucap Felix yang masih sibuk dengan tugasnya. Sudsh di tinggal 3 bulan jadi pekerjaan itu menumpuk begitu saja.
"Kenapa kak?" tanya Qila.
"Hm, aku perlu sekretaris." jawab Felix.
"Loh, udah ada Vian kan? Lagian aku harus balik ke Felza Grup kak." ucap Qila. Felix menghentikan pekerjaannya.
"Siapa yang bilang kamu masih di Felza grup. Dari awal aku di Felza grup kamu kan asisten aku sampai aku di Altezza grup pun kamu jadi asisten aku. Paham?" tanya Felix. Qila mengangguk.
"Tapi aku gak paham kak." ucap Qila.
"Kamu bakalan diajarin sama Vian. Meja kerja kamu di luar di samping meja Vian, kami bisa beberas sekarang. Dan ini tugas pertama kamu." ucap Felix memberikan sebuah berkas.
"Chek berkasnya, tanya Vian kalau gak ngerti." ucap Felix. Qila menerima berkas itu lalu mengangguk dan izin keluar dari ruangan Felix.
Qila pun melihat ada satu meja kosong di samping meja Vian. Ia duduk di sana dan menyapa Vian.
"Vian, mulai hari ini mohon bantuannya ya." ucap Qila ramah. Vian mengangguk sambil memperhatikan pekerjaannya. Qila tersenyum lebar lalu mencoba memahami pekerjaan yang di berikan Felix.
•••
"Ya allah bang pulang pulang malah buat emosi!" kesal Fito.
"Brisik lu Fito, mendingan kerja sana." usir Kavin.
"Dih ogah, papa bilang dia mau msuk kantor, artinya gua libur." keras Fito.
"Zahra, kakak kalau jadi kamu, udah kakak ceraiin nih anak. Gak ada peka-pekanya." ucap Kavin pada Zahra.
"Kalau jodoh, pasti tetap bersama kak." jawab Zahra.
"Hahaha istri gua tuh." ucap Fito.
"Idih istri hasil nikung sahabat sendiri aja bangga. Lu itu di suruh jagain bukan nikahin." ucap Kavin.
"Masih aja di bahas, Felix udah maafin gua kok." ucap Fito.
"Aaa yang bener?" goda Kavin.
"Ck, lu nyari jodoh sana. Lu sepaket sama bang Arsen. Udah jomblo, abdi negara lagi." ucap Fito.
"Trus Ervan?" tanya Kavin.
"Ervan udah ada Nayra, lu sama bang Arsen noh masih setian menjomblo setengah mati. Sampe Vara yang paling muda diantara kits udah nikah, lu yang paling tua kapan?" tanya Fito.
"Gua sama Arsen cuman beda 1 bulan ya!" kesal Kavin.
"Ya kan tuaan lu sebulan." jawab Fito. Kavin tak dapat mengeluarkan katanya, ia terjebak oleh adiknya sendiri.
__ADS_1
"Sialan lu!" kesal Kavin berdiri dan pergi.
"Eh, mau kemana bang?" tanya Fito.
"Balik ke batalyon!" kesal Kavin.
"Ini kak kopinya." ucap Zahra sambil meletakkan secangkir kopi di depan suaminya.
"Thanks." jawab Fito.
"Hubungan kakak sama kak Felix beneran udah balikan ya? Maaf ya karna umi sama abi hubungan kakak dan kak Felix harus renggang lagi." ucap Zahra.
"Ga papa santai aja. Felix kayaknya udah move on juga. Dia baru aja nikah di KUA saat di Bandung kemarin." ucap Fito.
"Serius kak? Kapan nih kita kumpul buat kenalan sama istrinya kak Felix?" tanya Zahra.
"Katanya Felix siap resepsi Fardan sih sekalian mau kumpul-kumpul juga. Ntar Fardan ajak Fay juga, kamu ajak Qila jadi temen kamu ya. Kakak lihat Vara kurang suka sama Qila, padahal Qila anaknya polos gak tau apa-apa." jelas Fito. Zahra mengangguk paham.
"Orangnya gimana kak?" tanya Zahra.
"Kamu lihat aja sendiri, dia lebih muda dari kamu setahun, ya seumuran Vara lah." jawab Fito. "Menurut kakak, kalau buat Felix dia itu kekecilan. Bayangin tinggi dia sama Felix aja beda sekitar 30 senti meter. Kamu liat aja Felix yang tiang listrik dapat istri kecil mungil gitu." ucap Fito ingin tertawa.
"Aku gak kecil kan kak?" tanya Zahra.
"Hm, gak pas deh buat aku yang gak terlalu tinggi kayak Felix atau Frizy." jawab Fito. Zahra tersenyum manis. Fito pun ikut tersenyum manis.
•••
"Beneran udah siap? Berapa persen persiapannya?" tanya abinya Fay.
"Sudah sekitar 80% Bi." jawab Fardan.
"Wah cepat juga, liatin lagi mana tau ada yang salah." ucap Umi.
"Udah Fardan lihat tadi umi, Alhamdulillah udah bener semua." ucap Fardan.
"Ini, Victor gak ada niatan mau nyusul abang kamu?" tanya Abi.
Victor senyum terpaksa. "Gak dulu Abi, jodohnya belum ada." jawab Victor sopan.
Untung dia sopan. Batin Fardan.
"Mana tau kamu mau di kenalin sama anak pondok, barang kali tertarik." ucap Abi.
"Gak Abi, agama saya belum cukup untuk membimbing mereka." jawab Victor bijak.
"Wah, kami tunggu kesiapan kamu." ucap Abi, Victor mengangguk terima saja.
•••
"Apa maharnya?" tanya mamanya Hazel.
__ADS_1
Yap! Saat ini Frizy dan adiknya sedang berada di rumah Hazel, Frizy berniat melamar Hazel.
"Apapun yang di minta Hazel, saya akan sanggupkan." ucap Frizy yakin.
"Lalu, mana orang tua kamu? Gak mungkin kamu datang cuman berdua aja kan?" tanya mamanya Hazel.
"Ma, orang tua kak Frizy itu..." belum siap Hazel berbicara, mamanya memotong pembicaraan itu.
"Ya kalau mau serius harus ada orang tuanya dong. Masih punya orang tua kan? Kamu udah pacaran lama sama anak saya dan baru ada niatan buat ngelamar sekarang, lalu kamu ngelamar gak bawa orang tua? Gimana carany bisa melamar tanpa orang tua?" tanya mamanya Hazel.
"Siapa bilang orang tuanya gak ada? Kami di sini." ucap bundanya Frizy.
"Maaf kita telat. Kita baru aja pulang dari proyek luar negeri." ucap ayahnya Frizy. Frizy mengelus dadanya menenangkan diri.
"Jadi bagaimana bu Lamaran anak saya? Apakah di terima?" tanya bundanya Frizy.
"Hah, itu tergantung Hazel dan papanya." jawab mamanya Hazel.
"Saya mah tergantung anak saya. Dia tau apa yang baik dan yang buruk." jawab papanya Hazel.
"Sebelumnya terima kasih karna kalian udah repot-repot datang buat ngelamar Hazel, Hazel tau kak Frizy pasti tulus ngelamar Hazel. Maka dengan itu pun Hazel tulus menerima lamaran kak Frizy." jawab Hazel.
Frizy tersenyum senang mendengarnya, mereka pun melanjutkan pembicaraan mengenai tanggal dan hari pernikahan yang cocok.
•••
"Kita mau kemana kak?" tanya Qila.
"Mau beli semua kebutuhan kamu." ucap Felix.
"Kakak mau beliin Qila baju? Kan tinggal diangkut dari bandung ke sini kak." ucap Qila.
"Repot, selagi ada uang beli aja, sekalian ngajak Kai jalan-jalan." ucap Felix menatap anak yang baru saja berumur 4 tahun yang berada di gendongannya itu.
"Ey boy, mau beli mainan?" tanya Felix. Kai mengangguk.
"Cium abang dulu." ucap Felix, Kai pun mencium pipi Felix dan Felix menggigit gemas pipi Kai.
"Abang, cakit." ucap Kai mengelus pipi yang di gigit Felix tadi.
"Abang nda boleh gigit olang, abang nanti jadi jaat!" ucap Kai memegang pipi Felix.
"Oke boy!" jawab Felix semangat.
Qila sangat melihat jiwa keayahan yang di miliki Felix. Felix sangat tau cara mebghadapi anak kecil. Tapi Qila tak tau bagaimana Felix mendidiknya.
"Oke kita temenin kak Qila belanja dulu abis itu kita main oke!" ucap Felix kepada Kai.
"Ottey!" jawab Kai semangat. "Abang tulun." ucap Kai ingin turun dari gendongan Felix. Felix menurunkan Kai dari gendongannya dan meletakkan Kai di tengah. Felix menggengam tangan kiri Kai dan Qila tangan kanan Kai, mereka seperti keluarga bahagia.
•••Bersambung...
__ADS_1