
"Aku ikut kak!" ucap Qila yang rupanya tidak ikut pergi bersama karyawan yang lain.
"Gak!" bukan Felix yang menjawab, melainkan Frizy.
"Lu nyusahin." lanjut Frizy.
"Aku bisa bela diri!" bantah Qila.
"Ck, bisa bela diri tapi babak belur juga di pukul sama bapak lu." balas Frizy.
"Frizy Kivandra." Felix akhirnya bersuara. Frizy pun memilih diam dari pada adu argumen dengan Felix di saat seperti ini.
"Biarin aja dia ikut, dia bakalan mundur sendiri kalau takut." ucap Felix.
"Dia bakalan nyusahin Felix." ucap Fito membenarkan perkataan Frizy.
"Dia pasti tau kemampuannya, makanya dia mau ikut." ucap Felix. Akhirnya mau tak mau mereka pun mengizinkan Qila untuk ikut.
Mereka berlima pergi ke parkiran untuk mengambil motor mereka.
"Oh motor Felix rupanya, gak heran sih." ucap Frizy.
"Motor baru?" tanya Fardan.
"Motor di belikan sama Vian pakai kartu keluarga Altezza." jelas Felix.
"Oh pantes tadi rusuh." sahut Fito. Mereka pun siap untuk pergi ke Jakarta dengan Qila di bonceng oleh Felix.
3 Jam perjalanan menggunakan sepeda motor akhirnya mereka sampai kembali di tanah kelahiran mereka.
"Hah, Jakarta lagi." murung Felix.
"Udah, tante Flora udah bangga liat lu kok. Anak kesayangannya udah gede sekarang. Lu udah berhasil jaga Vara." ucap Fardan.
"Gagal jaga papa kan?" tanya Felix.
"Sebenarnya gak gagal, lu doang yang penurut." ucap Fito.
"Ayok gas!" ucap Felix.
"Kemana?" tanya Frizy.
"Kediaman Altezza." jawab Felix.
"Yakin langsung kesana? Gak mau istirahat?" tanya Fardan. Felix menggeleng.
"Kalau gua gak pergi, gak bakalan separah ini kan? Gua cuman mau nyelesaikan ini secepatnya." ucap Felix.
"Oke, terserah lu. Tapi setidaknya jelaskan dulu kerjaan cewe itu apa." ucap Frizy.
__ADS_1
"Oke Qila, dengerin aku. Kamu nanti ikut masuk bareng sama kita, tapi posisi kamu di tengah. Kalau ada kode tangan dari kami kamu mundur dan sembunyi. Kalau ada kode tangan kedua artinya kamu memanjat dan pergi ke lantai dua ruangan nomor 3 tulisan pintu luarnya Ervano Altezza. Sebisa mungkin buka pintu balkon itu dan jangan menarik perhatian. Setelah kamu buka, kamu masuk ke dalam dan jangan lupa tutup pintu balkonnya lagi. Di dalam ada yang namanya Ervan, kamu jelaskan kalau Felix dan teman-temannya udah datang dan kamu di tugasin buat nyelamatin Ervan dan Arsen buat bantuin kita." jelas Felix.
"Setelah kamu jelaskan, kamu cari lagi pintu balkon nomor ke 6 dengan tulisan Felix Altezza. Itu kamar ku. Kamu pergi sama Ervan, dan jangan lupa kasih Ervan dan Arsen ini." ucap Felix memberikan sebuah benda kepada Qila.
"Buka pintu itu dan selamatkan Arsen. Jika mereka berdua sudah selamat, bawa mereka ke bassmen bawah tempat kami berada. Kamu bisa bantu kalau menurut kamu bisa tapi kalau gak, kamu lebih baik bersembunyi." ucap Felix. Qila mengangguk mengerti.
"Yakin ngasih dia tugas kayak gitu?" tanya Fardan.
"Saat ini kita harus yakin dengan satu sama lain. Qila ini walau pun kecil tapi otaknya bisa di percaya." ucap Felix.
"Aku gak kecil kak! Kakak aja kayak titan!" kesal Qila.
"Yayayaya." jawab Felix.
"Udah, ayo pergi." ucap Fito. Mereka berempat mengangguk.
Akhirnya sekitar 15 menit perjalanan mereka sampai di kediaman Altezza.
"Buat seperti yang gua bilang tadi." ucap Felix.
Mereka pun berkumpul dengan Qila di tengah. Jangan lupakan penutup wajah yang mereka berlima kenakan.
"Qila masuk lewat atas." ucap Felix.
"Lu bisa manjat ga?" tanya Frizy. Qila mengangguk.
"Bagus, ayo manjat." ucap Felix. Qila pun mulai memanjat tembok rumah Altezza. Mereka terus melihat Qila sambil melihat sekitar.
Setelah merasa Qila cukup aman, mereka berempat mengalihkan fokus anak buah Arkaiz dengan masuk ke dalam rumah Altezza.
Qila dengan cepat menghitung Balkon yang berada di lantai 2. Ia ingat dengan perkataan Felix bahwa semua ruangan di lantai 2 punya balkon.
Qila menghitung sampai Balkon yang ia pijak, jumlahnya ada 4, berarti ia harus menyembran untuk sampai ke balkon 3. Ia menyebrang dengan hati-hati. Salah sedikit saja ia bisa jatuh ke bawah.
Setelah usaha cukup menguras tenaga akhirnya Qila mendarat di Balkon nomor 3. Qila mengintip dan melihat orang yang berdiri di dalam kamar itu. Qila berusaha mencocokkan wajah orang itu dengan foto yang di berikan Felix.
"Cocok!" gumam Qila. Qila berusaha membuka pintu balkon yang terbuat dsri kaca itu. Sudah susah payah ia mencobanya tapi hanya bergeser sedikit.
Qila mencoba menarik perhatian pria yang berada di dalam itu.
"Hei! Kak Ervan!" bisik Qila. Ervan yang peka dengan suara melihat gadis yang memanggilnya. Ervan mendekati Qila.
"Mau ngapain?" tanya Ervan.
"Buka dulu, aku di suruh Kak Felix kesini dan kasih ini." ucap Qila menunjukkan sesuatu. Ervan pun membantu Qila membuka Balkon itu.
"Makasih kak." ucap Qila terduduk kecapean.
"Jadi kak Felix nyuruh Qila kesini dan bantu bebasin kak Ervan dan Kak Arsen." ucap Qila memberikan foto yang di berikan Felix.
__ADS_1
"Untung bada kamu kecil, jadi muat sama pintu sekecil itu." ucap Ervan.
"Kata kak Felix, aku di suruh bawa kak Ervan untuk bebasin kak Arsen dan bawa kalian berdua ke bassmen buat bantuin kak Felix dan teman-temannya." ucap Qila. Untung saja ia sudah mulai terbiasa dengan nama Felix bukan Arthur.
"Bisa aja saya bantu, tapi tubuh saya gak buat sama pintu sekecil itu." ucap Ervan.
"Di luar ada yang jaga gak kak?" tanya Qila.
"Ada." jawab Ervan.
"Hm, coba kakak keluar dulu lewat Balkon, mana tau muat." ucap Qila.
"Yaudah kita coba." ucap Ervan. Dengan mudah Qila keluar, tapi Ervan? Tubuhnya yang kekar itu nyangkut.
"Malah nyangkut." ucap Ervan. Qila sedikit tertawa.
"Sini Qila bantuin." ucap Qila mendorong pintu kaca itu. Akhir setelah perjuangan lama Ervan keluar dari ruangan itu.
"Hah, thanks bocil. Ayo selamatin bang Arsen." ucap Ervan.
"Aku bukan bocil, aku istrinya kak Felix." ucap Qila. Saat itu juga Ervan ingin sekali tertawa tapi ia tau kondisi sehingga ia menahan tawanya.
"Ey bocil, Felix aja udah gak percaya cinta lagi. Dia aja gak mau pacaran lagi setelah cinta dia di tolak dan tunangan dia di tikung. Terus dia tiba-tiba nikah? Itu gila." ucap Ervan.
"Tapi kalau misalnya kamu suka sama Felix, aku janji. Setelah masalah ini kelar, aku ceritain semuanya tentang kenapa Felix udah gak percaya cinta lagi ke kamu." ucap Ervan.
"Untuk sekarang kita fokus sama masalah ini dulu." lanjut Ervan. Qila mengangguk.
Ervan pun membantu Qila menyebrangi Balkon hingga sampai ke kamar Felix.
"Mana pistol yang di kasih Felix?" tanya Ervan.
"Ini kak pilih aja." jawab Qila menyuguhi 3 pistol.
"Uh Felix pintar." ucap Ervan. Ervan pun mengetuk pelan pintu kamar Felix.
"Bang." bisik Ervan. Arsen yang sedang membalut lukanya itu menoleh ke arah Ervan.
"Van." kager Arsen. Ervan meletakkan telunjuknya di depan bibir menyuruh Arsen diam. Ervan mencoba membuka pintu balkon Felix dan akhirnya terbuka. Arsen segera keluar dan memeluk Ervan erat.
"Kalau lu kenapa-napa gua merasa bersalah sama ayah bunda Van." ucap Arsen mencium rambut Ervan.
"Santai aja kali bang. Nih," ucap Ervan memberikan pistol yang di beri Qila.
"Oke jelaskan rencana Felix." ucap Ervan duduk di balkon agar tak kelihatan di ikuti Arsen dan Qila. Qila menjelaskan semua yang di jelaskan Felix tadi.
"Oke artinya sekarang kita ke Bassmen. Dan kamu, sebaiknya sembunyi. Kamu ada senjata kan? Kalau waktunya udah genting, kamu bisa tarik pelatuk ini dan arahkan ke orang yang kamu mau buat bantu kami. Paham?" jelas Arsen. Qila mengangguk.
"Oke kita turun." ucap Ervan.
__ADS_1
•••Bersambung....