
"Felix, gak pernah berubah." ucap Alby.
"Itu baru kak Felix Pa. Kalau ada kak Arsen dan kak Ervan lebih parah lagi." ucap Vara.
"Itu kamu tau marah kakak-kakak kamu serem, malah kamu buat marah." ucap Alby lalu pergi. Vara berdecak sebal, kukunya bisa patah jika ia membersihkan taman yang besar ini.
"Sini aku bantu." ucap Qila.
"Semuanya karna lo! Coba aja kalau lo orang besar bukan dari kalangan biasa pasti gak kayak gini. Gue lebih setuju kak Felix sama Arsy, kak Zahra atau kak Fay terserah asal jangan sama lo! Caper banget!" kesal Vara menatap Qila.
"Lo mau bantu gue kan? Bersihin semua tamannya jangan sampai kakak gue tau!" ucap Vara meninggalkan Qila sendiri.
Orang kaya, cuman kak Felix doang yang bener. Batin Qila.
Qila pun terpaksa mengikuti perkataan Vara dan membersihkan taman belakang. Cukup lama ia membersihkan taman belakang itu, tiba-tiba ada suara yang memanggil seseorang.
"Om Alby!" teriak Ervan dan Arsen baru pulang olahraga. Rencananya setelah mereka olahraga mereka akan kembali ke batalyon. Jika terlalu lama keluar, Mayor mereka akan marah.
"Eh Qila kok bersihin taman sendiri?" tanya Ervan melihat satu pemandangan yang agak aneh.
"Iya tadi kak Felix minta." jawab Qila berbohong.
"Felix? Setau kita Felix orangnya gak bakalan nyuruh orang ngelakuin tugas yang banyak. Kita udah tinggal sama Felix dari kita kecil kok." ucap Ervan.
"Ntar." ucap Arsen. Arsen menggambil handponenya dan menelfon seseorang.
"Halo!" jawab Felix ngegas.
"Santai dong." ucap Arsen.
"Gua lagi rapat bang." jawab Felix.
"Gua mau nanya, ini lu serius nyuruh Qila bersihin taman belakang sendirian? Taman belakang besar, mana bisa dia sendiri." ucap Arsen.
"Itu tugas Vara bang. Tadi Vara gua hukum buat bersihin itu sendiri karna dia nyuruh Qila bersih-bersih sendiri seakan Qila pembantu." jawab Felix.
"Oh paham gua." ucap Arsen mematikan sambungan sepihak.
"Kan bener, tugas tuan putri." ucap Arsen. Saat Arsen ingin membuka suara untuk memanggil Vara, Qila menolaknya.
"Kak!" panggil Qila. Arsen menaikkan alisnya sebelah.
"Jangan kak, aku yang niat kok bantu Vara." ucap Qila.
"Qila, jadi orang jangan mau di suruh sama Vara. Kamu bantuin dia tapi dia gak ada rasa terima kasih sama kamu. Seharusnya dia bantuin kamu juga di sini, bukan semua tugas dia kamu embat. Gak gitu cara kerjanya." ucap Arsen.
__ADS_1
"Gak apa kak, aku bisa sendiri. Udah biasa di rumah." jawab Qila.
"Felix dapat cewe polos gini dari mana sih? Dapet aja sama dia!" kesal Ervan.
"Gini ya nyonya Felix Altezza. Seharusnya kamu jangan mau di suruh sama Vara. Semakin kamu mau di peralat Vara, semakin gak segan juga dia sama kamu." ucap Arsen.
"ISVARA ALTEZZA!" teriak Ervan dan Arsen bersamaan. Vara langsung berlari menuju sumber suara.
"Ya ampun, apa sih kak?" tanya Vara.
"Yi impin ipisi kik." ejek Ervan. "Noh liat, istri Felix kamu apain? Kalau Felix tau, marah besar dia." ucap Ervan.
"Kak, lagian dia sendiri yang mau bersihin kok." ucap Vara.
"Iya tau, tapi setidaknya kamu sadar diri. Bisa-bisanya Aldino sabar sama kamu, patut di acungi jempol sih sabarnya Aldino." ucap Arsen.
"Ya gimana gak sabar, orang istrinya lagi hamil." ucap Vara.
"What?!" kaget Arsen dan Ervan.
"Iya, kak Dino tadi masak karna memang aku lagi pengen masakan dia. Akhirnya dia masak banyak sekalian buat sarapan. Terus, ga tau tuh si Qila ntah caper apa gimana, dia langsung bersih-bersih tanpa di suruh. Yaudah karna aku sayang kuku, aku biarin aja." jawab Vara.
Arsen dan Ervan menepuk jidat mereka, bisa-bisanya Vara dengan entengnya bilang seperti itu.
"Kamu pikir dia caper? Kalau caper dia gak bakalan nolong kita dan bahayain nyawa dia dong. Dia cuman mau dekat sama kamu dengan nolong kamu, kamu kok gak welcome sama dia. Dia kakak ipar kamu, mau dia seumuran sama kamu atau gak, kamu harus hormatin dia." ucap Arsen.
"Sorry deh, lo berdiri aja mandi sana, biar itu bibi sama tukang kebun yang bersihin." ucap Vara. Qila berdiri dari jongkoknya dan tersenyum.
"Maaf kalau pandangan kamu sama aku jelek, kita baru pertama kali bertemu." ucap Qila sambil tersenyum.
"Yaudah santai aja." ucap Vara. Sebenarnya Vara cemburu karna kasih sayang kakaknya terbagi dua antara dirinya dan Qila. Semenjak ada Qila, kasih sayang Felix sangat sedikit untuknya.
"Sehat-sehat deh bumil." ucap Arsen.
"Doain bang Arsen dapat jodoh ahaahaha." tawa Ervan.
"Sialan lu!" kesal Arsen. Ervan berlari menghindari amukan abang tersayangnya itu.
"Btw sekali lagi sori, tadi mood gue hancur karna di marahin sama kakak." ucap Vara.
"Gak apa kok, mood bumil emang biasanya naik turun kan. Kalau ada sesuatu panggil aku ya." ucap Qila tersenyum
Drrrtt....Drrrrttt..
Qila meraba telfonnya dan mengangkat telfon dari Felix.
__ADS_1
"Ya kak?" tanya Qila lembut.
"Qila, ke kantor dong bentar. Ada sesuatu nih." ucap Felix.
"Perlu apa kak?" tanya Qila.
"Ada deh, pake pakaian formal ya. Yang biasa kamu pakai waktu masuk di Felza Grup." jawab Felix.
"Oke kak." jawab Qila.
"Nanti Vian jemput kamu." ucap Felix langsung mematikan sambungan telfonnya sepihak.
"Aku permisi dulu ya, kayaknya kak Felix perlu bantuan aku." ucap Qila. Vara mengangguk. Qila pun meninggalkan Vara sendiri dan bersiap-siap.
Dalam beberapa menit, Qila siap dengan pakaiannya. Tak lama setelah itu, Vian datang untuk menjemput Qila. Qila pun mengikuti Vian ke dalam mobil. Suasana mobil saat ini tegang sekali tidak ada pembicaraan.
"Gimana cara aku manggil kamu?" tanya Qila.
"Panggil Vian saja nyonya." jawab Vian. Qila mengangguk.
"Sebenarnya kak Felix siapa? Kenapa rumahnya gede banget, terus kenapa kemarin dia ngaku sebagai pemilik Felza grup?" tanya Qila.
"Tuan muda bernama lengkap Felix Arthur Altezza. Dia anak sulung dari keluarga Altezza, Felza grup itu adalah perusahaan yang ia dirikan dari nol sampai akhirnya menjadi cabang dari Altezza Grup. Tuan muda sekarang menjabat sebagai presiden direktur di Altezza Grup. 3 teman yang datang kerumah anda waktu itu adalah anggota dari F4, perkumpulan yang di buat tuan muda dan temannya sejak mereka SMA. Dan sebenarnya tuan muda tidak dapat beasiswa ke Australia melainkan sengaja kuliah di Australia untuk menunggu calon istrinya siap untuk menikah." jelas Vian.
"Calon istrinya kak Felix itu yang jadi istrinya kak Fito?" tanya Qila.
"Iya, benar." jawab Vian.
"Kamu jadi asisten kak Felix sejak kapan?" tanya Qila.
"Sejak kecil, keluarga saya sudah sedari lama bersama keluarga Altezza. Saya dan tuan muda berteman sedari kecil." jawab Vian. Qila mengangguk paham.
"Sudah sampai." ucap Vian. Qila dan Vian pun turun bersamaan. Vian mengarahkan Qila menuju ruangan Felix. Mereka menaiki lift menuju lantai paling atas dan langsung sampai di depan pintu ruangan presiden direktur. Disana tertulis 'R. Presdir'
Mereka berdua masuk ke dalam ruangan Felix. Dengan jelas Qila melihat papan nama dari kaca yang mengkilap itu, tertulis di sana Presdir Felix Arthur Altezza B.B.A, MBA.
Qila berdecak kagum dengan gelar Felix. Ia sudah bergelar Master padahal Qila mendengar ia hanya Sarjana. Qila ingin sekali mendapatkan gelar itu tapi gelar itu di dapatkan jika ia berkuliah di luar negri. Jangakan berkuliah, lulus SMK saja dia sudah bersyukur.
Felix bisa mendapatkan gelar sekali dua karna langsung di berikan oleh pihak kampusnya waktu itu karna Felix bisa menyelesaikan program studynya dengan sangat cepat.
"Tuan muda, sudah datang." ucap Vian.
•••Bersambung...
B.B.A \= Bachelor of Business Administration.
__ADS_1
MBA \= Master of Business Administration.