
Frizy kembali ke rumahnya dan di sambut oleh pertengkaran kedua orang tuanya.
Hah, bukannya kemarin mereka pergi? Kok balik lagi? Udah tenang juga. Batin Frizy.
Frizy melewati kedua orang tuanya dan memeluk adiknya yang sedang bersembunyi di dekat tangga. Friza menangis di pelukan Frizy, Frizy membawa adiknya itu menuju kamarnya.
"Kok nangis tuan putri kakak? Kenapa?" tanya Frizy mengelus surai rambut hitam milik Friza.
"Kak, kok mereka gak habis bertengkar sih?" tanya Friza.
"Baru aja tenang, aku capek liat mereka bertengkar terus. Di London kemarin tiap pulang sekolah pasti aku di suguhi pemandangana mereka adu argumen. Makanya aku seneng waktu dengar aku bakalan sama kakak lagi." ucap Friza. Frizy memeluk erat adiknya itu.
"Lain kali kalau ada masalah cerita aja sama kakak kamu gak perlu menitipkan itu di bahu kamu, biar kakak bantu bawain." ucap Frizy.
"Tapi beban kakak pasti lebih berat." ucap Friza. Frizy tersenyum lebar lalu menggeleng.
"Gak seberat kamu, kalau punya beban, transfer sini sama kakak. Kamu gak perlu nanggung bebannya, biar kakak aja." ucap Frizy.
"Huaaa!" Friza semakin terisak mendengar perkataan kakaknya itu. Ia sangat sangat menyayangi kakaknya. Bodoh ia pernah iri deengan Vara yang mempunyai 3 kakak yang sangat sayang kepadanya. Punya Frizy saja sudah cukup untuk Friza.
"Ada lagi?" tanya Frizy.
"V-victor di jodohin sama Hazel." ucap Friza hati-hati. Frizy rsasanya ingin sekali tertawa lebar, rencananya berhasil.
"Terus kenapa?" tanya Frizy.
"Bukannya Hazel itu udah lama banget sama kakak? Terus kenapa dia di jodohin sama Victor?" tanya Friza.
"Kamu suka Victor?" tanya Frizy. Friza dengan mudahnya mengangguk.
"Oke gini, pernikahan kakak dengan Hazel gagal karna penolakan mama sama paoa yang tiba-tiba. Orang tua Hazel yang tau itu langsung batalin pernikahannya karna mungkin emang udah gak srek sama kakak dari awal." jels Frizy.
"Jadi gimana dong kak?" tanya Friza.
"Mereka udah ketemuan?" tanya Frizy. Friza mengangguk.
__ADS_1
"Baru aja mereka ketemu." ucap Friza. Frizy ingin sekali tertawa. Baru saja ia pergi dari rumah Hazel, tetapi Hazel sudah punya calon saja.
"Yaudah, besok kita ke rumah Victor buat jelasin semuanya. Kakak wali kamu." ucap Frizy.
"Emang aku gak bisa jadi wali kakak biar kakak balikan sama Hazel?" tanya Friza. Frizy menggeleng.
"Biarin aja kakak kayak gini yang penting kamu bahagia selalu, kakak udah seneng. Kamu bahagia, kakak lebih bahagia." ucap Frizy.
Keesokan harinya...
Seperti biasa, mereka berdua di suguhi pemangandangan tak enak.
"Haish! Kalau kalia bertengkar terus, mendingan kalian pulang aja ke london!" kesal Frizy. Ia sudah tak tahan debgan kedua orang tuanya.
"Kami akan bercerai!" ucap ibu Frizy.
"Oh, oke bagus. Setidaknya hariku nyaman tanpa pertengkaran dan akhirnya hidupku tenang." ucap Frizy.
"Anak kurang ajar kamu ya!" ucap ayah Frizy yang merasa bahasa Frizy tak sopan.
Drrrttt....Drrttt....
Frizy menghentikan celotehannya dan mengangkat telfon itu. Ia menjauh dari kedua orang tua dan adiknya. Frizy awalnya kaget dengan nama kontak yang tertera di ponselnya itu. Tapi ia terpis semua itu dan menerima telfon dari orang itu.
"Ya Zel?" tanya Frizy.
Yap! Hazeline, yang menelfon tadi adalah Hazel.
"Aku pengen ketemu. Aku mau kamu jelasin semuanya kenapa kamu mundur. Aku gak mau sama Victor kak!" ucap Hazel memelas.
"Huft, oke kita ketemuan di depan cafe dekat rumah kamu. Aku on the way sekarang." ucap Frizy mematikan telfonnya sepihak.
Ia jujur sangat senang bisa bertemu dengan Hazel lagi. Ia sesungguhnya masih sangat mencintai Hazel. Kenangan yang bertahun-tahun mereka buat lenyap begitu saja karna orang tua Frizy. Frizy juga berencana memberitahukan bahwa orang tuanya akan bercerai yang artinya ia bisa menikah tanpa kehadiran orang tuanya.
Frizy menyambar jaket yang berada di tangan Friza dan memakainya.
__ADS_1
"Dek, kakak pergi dulu ya, bentar aja. Nanti kakak pulang, kita langsung ke rumah Victor." ucap Frizy sangat lembut kepada Friza. Friza mengangguk dan kembali ke kamarnya.
"Buat kalian, urus akta cerai kalian secepatnya. Aku ingin menikah dengan Hazel. Jangan buat kekacauan apapun." ucap Frizy.
"Ck! Berani kamu memerintah saya? Perlu saya ingatkan, saya masih ketua sah dari Kivandra compeny, perusahaan yang saat ini kamu duduki. Dan posisi kamu sudah tinggi dengan posisi Presdir." ucap ayah Frizy.
"Saya gak perlu posisi Presdir itu. Yang terpenting hidup saya tenang!" ucap Frizy membanting pinti rumah dan pergi menemui Hazel.
"Liat tu anak kamu, kurang ajar. Makanya jangan kerja mulu, anak gak ke urus kan?" hujat ayah Frizy.
"Eh, kamu sama aja ya! Tugas urusin anak itu dari dua belah pihak, bukan istri aja yang di bebankan." bantah ibu Frizy
•••
"Yey banyak!" ucap Kai senang. Qila ikut bertepuk tangan saat Kai melompat kesenangan.
"Nah udah berapa? Mari kita hitung." ucap Qila. Kai menatap Qila yang sedang menghitung uangnya itu dengan raut wajah senang.
"Nah uang Kai udah ada lima ratus ribu. Saran kakak jangan di belanjain semua ya. Simpan lagi untuk tabungan besok. Nanti kalau kamu sabar, uang kamu bakalan sebanyak uang kak Felix." ucap Qila.
"Beneran kak?" tanya Kai. Qila mengangguk senang. Kai melompat kegirangan dan memeluk Qila.
"Kai seneng. Dapat kakak baru, ada temen main, dapat pelajaran baru juga. Bang Felix baik banget bawa kakak untuk Kai. Soalnya kak Vara udah sibuk sama bang Dino." ucap Kai. Qila mengelus sayang Kai.
Sebelumnya Qila belum pernah mempunyai adik, makanya ia sangat sayang dengan Kai.
"Qila!" panggil Felix. Qila berdiri dari duduknya dan menghampiri Felix yang ngos-ngosan habis turun dari tangga.
"Kenapa kak?" tanya Qila.
"F-Frizy kecelakaan!" ucap Felix masih mengatur nafasnya dan berusaha mengontrol tubuhnya yang kaget.
"Kok bisa?" tanya Qila kaget. Pasalnya ia baru beberapa hari ini bertemu Frizy dan Frizy memang menyebarkan kebahagiaan baginya.
•••Bersambung...
__ADS_1