
"Mbak, kenapa laki-laki itu gak diajak juga?" tanya Felix.
"Dia sudah sering membuat kekacauan di sini." jawab resepsionis itu sambil berjalan di depan Felix. Ia mengarahkan Felix ke ruang HRD.
"Silahkan. Semoga kamu di terima ya." ucap resepsionis itu. Felix mengangguk. Saat ingin membuka knop pintu, Felix malah terkejut karna ada seseorang yang keluar dari sana dengan marah.
"Apaan?! Gua udah 4 tahun jadi manejer di sini malah di pecat! Dasar bos sialan!" kesal orang itu. Felix menggelengkan kepalanya lalu memasuki ruangan itu.
"Siang pak." ucap Felix.
"Siang, kamu mau lamar pekerjaan?" tanya HRD itu to the poin. Felix yang masih berdiri itu mengangguk.
"Udah penuh." jawab HRD itu.
"Oh begitu ya pak, kalau gitu saya pamit dulu." ucap Felix
"Eh tunggu! Saya mau lihat surat lamaran serta ijazah kamu." ucap HRD itu. Felix memberikan amplop coklat yang ia pegang.
"Silahkan duduk." ucap HRD itu. Felix pun duduk.
Kok mereka pada judes sama karyawan baru? Pantes aja setiap ketemu Karyawan baru, mereka pada nunduk ketakutan. batin Felix.
"Wow, kamu lulusan Melborne university? jurusan bisnis internasional dan cumlaude." ucap HRD itu.
Mati! gua lupa di ijazah itu nama gua masih ada Altezzanya. Mampus. batin Felix.
Gua mohon jangan lihat Altezzanya. Jangan lihat Altezzanya. batin Felix lagi.
"Felix Arthur. Nama kamu agak gak asing ya. Tapi ini nama bagus. Panggilannya siapa?" tanya HRD itu.
Ini serius interviewnya gini? batin Felix.
"Arthur." jawab Felix.
"Apa kamu udah punya pengalaman?" tanya HRD itu.
duh gak mungkin jujur kan kalau gua udah 5 tahun jadi wakil presdir dan baru 1 hari jadi presdir? batin Felix.
"Saya pernah magang di Altezza grup selama 4 bulan pak." jawab Felix.
"Kenapa pindah ke Bandung? Sementara kamu kan magang di Altezza grup yang kita sama-sama ketahui itu bukan perusahaan besar." tanya HRD Itu.
"Urusan keluarga pak." jawab Felix. HRD itu mengangguk.
"Kalau benar kamu magang di sana, mana kartu magang dan nilai kamu selama magang?" tanya HRD itu.
__ADS_1
Waduh gua gak magang pak, gua yang ngurusin orang magang. batin Felix.
"Tapi sepertinya itu gak perlu, soalnya nilai kamu di mata kuliah strategi bisnis ini bagus. Saya bakalan rekomendasiin kamu jadi manajer di tim perencanaan." ucap HRD itu.
"Maaf pak, nilai saya di mata kuliah strategi yang bagus, kenapa saya di letakkan di perencanaan?" tanya Felix.
"Karna rupanya nilai perencanaan kamu sama bagusnya. Selain itu, yang kosong cuman jabatan Manajer perencanaan. Dia katauan korupsi makanya di pecat. Walau korupsinya gak banyaj tapi itu merugikan perusahaan. Saya harap kamu gak ikutan kayak dia." ucap HRD itu.
"Ayo ikut saya ke ruangan wakil direktur." ucap HRD itu.
"Kok kesana? Bukannya ke ruangan Presdir?" tanya Felix.
"Presdir kami sedang dinas keluar kota." jawab HRD itu.
Felza Grup? Gua masuk anak perusahaan gua?Ini anak perusahaan Altezza grup. Pantesan aja presdirnya ga ada, kan presdirnya gua. batin Felix.
"Silahkan." ucap HRD itu.
Uh kok wakil presdirnya gini? Perasaan Cv dia belum sampai di tangan gua. Kenapa dia di terima? Lagian kemarin gua ga ada waktu cek Cv. batin Felix.
"Karyawan baru?" tanya wakil direktur itu.
Ini kalau gua menjabat lagi, ni anak gua pecat dah. batin Felix.
"Namanya siapa?" tanya Direktur itu.
"Tingginya berapa? Skincarenya apa? Keturunan orang luar? Blasteran mana? Hidungnya mancung juga." tanya wakil direktur itu.
"Apa itu penting? Saya melamar sebagai karyawan bukan sebagai model." ucap Felix.
"Ouh, tinggal jawab susah banget sih. Bisa jadi kamu itu jadi model, soalnya kamu tinggi, kulit kamu putih mulus, hidung mancung, rambut kamu itu buat kamu ganteng, wajah ganteng dan suara kamu itu perfect." ucap wakil direktur itu.
"Dia juga lulusan Melbourne university dengan predikat cumlaude." sahut HRDnya.
"Wah, Melbourne university? Kamu bukan anak penjabat? Kok bisa ke Melbourne University?" tanya wakil direktur itu.
Kepo banget loh! batin Felix.
"Kamuh nanyak kenapa aku bisa kuliah di situ?" tanya Felix dengan nada dilan.
"Saya dapat beasiswa." jawab Felix berbohong.
"Ouh, Ipk kamu tinggi banget yah. Cocok jadi manejer. Gak mungkin kan bibit unggul kami sia-siakan." ucap wakil direktur itu kembali memberikan CV Felix.
"Besok bisa kerja ya." ucap wakil direktur itu memegang bahu Felix. Felix pun mengangguk dan izin pamit.
__ADS_1
Dih paan. Manajer perencanaannya korupsi, wakil direkturnya gak bener. Liat aja kalau direkturnya juga gak bener. Gua tutup anak perusahaan ini. Eh btw, yang jadi presdir sekarang siapa ya. batin Felix.
Bruk!
Felix tak sengaja menabrak bahu seseorang.
"Eh, sori." ucap Felix sambil menunduk mencari barangnya mana tau ada yang jatuh.
"Makanya! Jalan pake mata!" sinis perempuan itu. Felix pun mendonggakkan kepalanya dan menatap perempuan itu dengan sinis.
"Santai dong! Gua udah minta maaf, jangan ngegas!" balas Felix.
Sabar Felix, sabar. batin Felix.
"E-eh iya maaf." jawab perempuan itu.
cakep banget, nyesal gue teriak teriak. batin perempuan itu. Felix pergi tanpa melihat wanita itu.
Sayangnya gua bukan keluarga Altezza lagi. Kalau gua masih keluarga Altezza, gua pecat ni orang semua. Gak ada sopan santun dalam bekerja, sok berkuasa. batin Felix.
•••
"Apa mau mu lagi? Penerus bisnis keluarga Altezza satu-satunya terpaksa saya usir karna kamu!" marah Alby.
"Lagian, anak mu itu berani-beraninya menculik anakku." ucap Arkaiz.
"Menculik? Justru Felix yang menolong dia dari istri bermuka dua mu itu, Bang!" teriak Alby.
"Albyan Altezza. Betapa muaknya aku menyebut nama keluarga Altezza." ucap Arkaiz.
"Muak? Kau juga dari keluarga Altezza. ARKAIZ ALTEZZA! Nama mu itu bukan Wardana tapi Altezza. Tolong sadar diri. Setelah kau membunuh kedua adik ipar dan satu adikmu kau belum tobat? Aku masih bersyukur Bang Luqqa punya penerus sekuat Arsen dan Ervan dan aku juga bersyukur aku selamat dari kau." ucap Alby.
"Kau hanya beruntung." ucap Arkaiz.
"Lalu Ersya?" tanya Alby.
"Dia adik perempuanku satu-satunya. Gak mungkin aku membunuh dia juga." ucap Arkaiz.
"Bang, lu itu bukan di usir dari keluarga Altezza! Ayah gak pernah ngusir lu!" sentak Alby.
"Dengan ayah membunuh bunda itu udah membuat gua terusir dari rumah." jawab Arkaiz.
"Oh, jadi dengan membunuh bang Luqqa dan istrinya, serta istriku, kamu puas? Kamu balas dendam dengan adik-adikmu?" tanya Alby.
"Apakah terlihat? Kalian itu berada di kubu ayah, jadi siapapun yang ada di kubu ayah, adalah musuh Arkaiz Wardana Altezza." ucap Arkaiz.
__ADS_1
•••Bersambung..