
Di tengah perjalanan, Felix membelokkan stang motornya. Ia mengurungkan niat untuk pulang kerumah. Felix terus melajukan mootrnya dan sampailah di sebuah bangunan seperti sebuah rumah. Di depan rumah itu ada palang dengan tulisan "Panti Asuhan Pelita"
Felix memarkirkan motornya dan masuk kedalam panti asuhan itu. Sebelum masuk tadi Felix menelfon seseorangd dari ponselnya untuk membawakan beberapa barang untuk keperluan anak-anak panti.
"Assalammualaikum." Felix mengucap salam.
"Waalaikumsallam." jawab seorang wanita paruh baya. Felix menyalim tangan wanita itu lalu tersenyum.
"Felix? Udah lama gak kesini." ucap wanita itu.
"Iya bu, baru aja pulang dari Australia." jawab Felix.
"Ya allah, selama 3 tahun ini kamu di Australia? Kuliah atau Kerja?" tanya wanita itu.
"Kuliah bu. Anak-anak gimana bu? Sehat?" tanya Felix.
"Alhamdulillah sehat." jawab wanita itu. Wanita itu bernama Maryam, ia adalah ibu asuh dari panti asuhan ini. Felix bserta F4 selalu datang ke panti ini untuk bermain dengan anak-anak atau hanya sekedar memberi kebutuhan anak anak ini. Bisa di bilang, F4 donatur tetap di sini.
"Duduk dulu." ucap Bu Maryam. Felix memangguk lalu duduk.
"Fardan, Fito sama Frizy selalu kesini. Saat ibu tanya kemana Felix mereka cuman jawab, biasalah Felix selalu traveling." ucap bu Maryam.
"Hahaha, mereka ngada-ngada. Felix kuliah di Australia bu. Felix pulangnya sekali setahun tapi masih belum sempat kesini." ucap Felix jujur. Bu Maryam mengangguk.
"Kamu belajar terlalu keras ya? Kurusan banget kamu." ucap bu Maryam.
"Iya bu, turun 8 kilo." jawab Felix.
"Ya allah nak, belajar memang perlu tapi dahulukan kesehatan." ucap bu Maryam.
"Iya bu, kemarin kelepasan." ucap Felix.
Bugh!
"Eh." Felix kaget saat ada anak berusia sekitar 3 tahun menabrak lututnya.
"Kai, hati-hati." ucap bu Maryam. Felix tersenyum dan menggendong anak itu.
"Hai boy, namanya Kai ya?" tanya Felix.
"Iya." jawab anak itu.
"Wah pinter banget kamu boy, mau main sama kakak gak?" tanya Felix. Kai melihat wajah Felix lalu mengangguk.
"Oke, nanti kakak kasih kamu mainan yang banyak." ucap Felix. Kai tertawa dengan lucunya.
"Terlalu gemas!" ucap Felix geram. Felix pun menurunkan Kai dari pangkuannya.
"Boy main dulu, nanti kakak susul." ucap Felix. Kai berlari dan meninggalkan Felix.
"Anak baru bu?" tanya Felix. Bu Maryam mengangguk.
"Ada yang ninggalin dia di depan panti asuhan. Sepertinya baru lahir karna kulitnya masih merah." jawab Bu Maryam.
"Ada ya orang yang buang bayi? Jahat bener." ucap Felix tak habis pikir.
"Mungkin orang tuanya itu berhubungan di luar nikah." tebak bu Maryam.
"Gimana kalau Kai, Felix adopsi aja? Ya walau Felix belum punya istri, tapi insya allah Felix bisa urusin dengan baik." tawar Felix.
"Beneran kamu mau adopsi Kai?" tanya Bu Maryam.
__ADS_1
"Felix suka sama Kai bu, dia gemesin terus nurut lagi. Ya walau masih awak ketemu, tapi hati Felix nyantol di dia. Ntar nama belakang dia juga Altezza." ucap Felix.
"Wah kamu the real duda tapi perjaka." ucap bu Maryam.
"Yah ibu, bisa aja." malu Felix. "Tapi Felix masih takut Kai gak bisa dapat kasih sayang seorang ibu." ucap Felix.
"Kamu kan nanti menikah, pasti Kai bisa dapat kasih sayang seorang ibu." ucap Bu Maryam.
"Kalau kasih sayangnya gak tulus?" tanya Felix.
"Jangan mikir gitu, kalau kamu yang cari pasti pada tulus." ucap bu Maryam.
"Assalammualaikum!" Teriak Frizy.
"Waalaikumsallam." jawab bu Maryam dan Felix.
Frizy datang bersama Fardan dan Fito. Mereka membawa banyak sekali barang.
"Woi, gua ada kabar baru masih hot." ucap Felix.
"Apaan?" tanya Frizy, Fardan dan Fito sambil meletakkan barang yang di pesan Felix tadi.
"Gua punya anak." jawab Felix enteng.
"Astagfirullah!" teriak mereka kaget.
"Anak haram dari siapa tu?" tanya Fardan.
"Bukan anak haram! Gua adopsi anak panti. Ya kali gua punya anak haram. Gua masih perjaka!" kesal Felix.
"Oh kirain, baru mau gua ceramahin." ucap Fardan.
"Astagfirullah bestie." Fardan beristigfar.
"Anak yang mana?" tanya Fito.
"Bentar." ucap Felix berjalan ke dalam. Tak beberapa lama Felix dan bu Maryam kembali. Kebetulan saat teman teman Felix datang, bu Maryam langsung menyiapkan berkas adopsi Kai.
"Liat ni, gemoy kan." ucap Felix.
"Lu adopsi anak kayak adopsi kucing." ucap Fito.
"Manusia ini bukan hewan." jawab Felix.
"Lu beneran mau adopsi? Lu kan gak punya istri, yang ngurus dia siapa?" tanya Fardan.
"Yaelah lu kira di rumah gua ada gua doang? Vara ada, kalau Vara kuliah? Aldino ada, kalau Aldino kerja? Papa ada, kalau papa masuk Kantor? Titipin aja ke batalyoj biar di jagain sama kedua om lorengnya. Kalau mereka berdua ada latihan gabungan? Gua bawa Kai ke kantor." jawab Felix.
"Hidup jangan di ribetin, semua ada solusinya." ucap Felix bangga. "Tapi kalau gua rapat, gua titipin dia sama kalian. Kan kalian punya istri, buat temen para istri kalian di rumah nanti." ucap Felix.
"Yah ngebeban dia." ucap Fardan, Frizy dan Fito serentak.
"Ini berkasnya, tinggal ajukan ke pengadilan. Tolong jaga Kai ya!" ucap bu Maryam. Felix mengangguk.
"Izin namanya boleh Felix tukar bu? Tapi Panggilannya tetap Kai." ucap Felix. Bu Maryam mengangguk. Felix mengangkat tinggi-tinggi Kai.
"Fattah Atharazkai Altezza." ucap Felix.
"Udah izin sama om Alby?" tanya Fito.
"Masalah itu gampang." ucap Felix.
__ADS_1
"Hei boy, pulang sama dad yuk!" ajak Felix.
"Ntar, gua jijik lu di panggil Dad." ucap Frizy.
"Kata-katanya perlu di saring lagi nih. Cucu pertama keluarga Altezza nih!" ucap Felix. Mereka pun tertawa bersama.
Cukup lama mereka bermain di panti asuhan itu. Saat hari sudah mulai gelap, mereka pun pulang. Felix berhati-hati membawa motornya karna di depannya ada nyawa seorang anak kecil yang sangat gemoy (menurut Felix)
Kalau gigit pipinya bisa gak ya? gemes banget gila! batin Felix. Felix pun di perhatikan sepanjang jalan, karna membawa anak kecil. Mungkin mereka pikir Felix itu hot daddy.
Felix dan Kai pun sampai di kediaman Altezza. Ia memarkirkan motornya di garasi. Felix menggendong Kai dan langsung membawanya ke dalam rumah. Felix mendudukkan Kai di sofa ruang tamu.
"Pinter kamu ya, gak rewel." ucap Felix mencubit pipi Kai.
"Atit." ucap Kai dengan raut wajah ingin menangis.
"Maaf ya boy, jangan nangis dong." ucap Felix berusaha menenangkan Kai.
"Huaaa!" nangis Kai. Seisi rumah pun keluar ketika mendengar tangisan Kai. Felix langsung menggendong Kai dan membujuk Kai agar segera berhenti menangis.
"Felix, dia siapa?" tanya Alby.
"Anak Felix." jawab Felix simple.
"Ya allah Felix, kamu hamilin wanita mana?" tanya Alby.
"Nanti Felix jelasin. Sekaenag bantuin tenangin Kai dulu." ucap Felix.
"Boy, kamu ganteng jangan nangis dong. Dad minta maaf ya. Ntar Dad belikan kamu ice cream deh ya." bujuk Felix. Kai pun berhenti menangis.
"Mau." ucap Kai mengulurkan tangannya.
"Aaaa gemesin banget si kamu! Pengen makan pipinya!" gemas Felix.
"Terlihat seorang Felix sedang bucin." ucap Arsen.
"Eh Kapten Arsen." sapa Felix.
"Baru nyadar dari tadi." ucap Arsen.
"Vara mana Bang?" tanya Felix.
"Lagi liat dekor gedung buat hari sabtu." jawab Arsen.
"Bang, main sama Kai bentar. Felix mau minta restu Kaisar dulu." ucap Felix langsung memberikan Kai kepada Arsen.
"Woi! Gua ga pandai jaga bocil!" teriak Arsen.
"Om belicik." ucap Kai.
"Eh sori boy. Namanya siapa?" tanya Arsen.
"Kai om, dad biyang nama kai cancik." jawan Kai dengan cedal.
"Oh my good you so cute!" gemas Arsen.
•••Bersambung...
Maaf kalau gak sesuai ekspetasi🥲 Ntah kenapa waktu authoe buat nulis semakin kecil. Banyak banget tugas🥲
Kalau ada typo mohon di maafkan, Typo mungkin karna author sudah ngantuk😭
__ADS_1