
Selesai resepsi Vara dan Dino, Fito dan Zahra memilih untuk pulang. Fito menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Kak." panggil Zahra.
"Hm?" sahut Fito.
"Kita gak salah sama kak Felix kan?" tanya Zahra.
"Enggak, Tenang aja. Lagian kamu sama Felix masih tunangan kan? belum nikah. Jadi gakada dosanya." ucap Fito.
"Tapi kak, Zahra yang nyuruh kak Felix untuk kuliah. Awalnya kak Felix memang nolak, tapi karna Zahra bilang kalau Zahra belum siap, makamya kak Felix mau kuliah di Australia dan janji bakalan lulus selama 3 tahun. Kak Felix nepatin janjinya, tapi malah dapat kabar yang gak enak dari kita." ucap Zahra menceritakan semuanya.
"Oh jadi kamu alasannya Felix mau kuliah di Australia, selain mau mencangkup pasar internasional Australia. Pantes aja dia semangat sampai masuk rumah sakit." ucap Fito keceplosan.
"Hah? Kak Felix masuk rumah sakit? Kenapa kak?" tanya Zahra panik. Fito mengrutuki kebodohannya. Padahal Felix sudah bilang jangan ada yang tau jika ia pernah di rawat di rumah sakit karna mimisan.
"Ee, katanya kecapean aja. Jadi dia konsultasi takut ada penyakit serius, gitu." ucap Fito ngasal.
"Serius kak?" tanya Zahra. Fito mengangguk.
"Besok kamu ada kelas kan? Kita bareng aja. Kakak sama anak F4 lain ada bimbingan skripsi." ucap Fito. Zahra mengangguk.
Tak berapa lama, mereka pun sampai di kediaman Malik. Fito membuka pintu kediaman keluarga Malik dan langsung terdorong keluar karna seseorang memeluknya sampai ia mundur beberapa langkah.
"Hai Bro!" sapa seseorang.
"What? Bang Kavin!" kaget Fito. Mereka berdua saling berpelukan sambil lompat-lompat.
"Fito gua udah gede aja!" senang Kavin.
Alvaro Arkavin Malikh lebih tepatnya Mayor Muda Alvaro Arkavin Malikh adalah anak pertama dari keluarga Malikh. Biasa di panggil Kavin dan seumuran jiga dengan Arsen. Ia baru pulang dari tugasnya di luar negri. Ia di tugaskan cukup lama di sana, sekitar 2 tahun lalu ia kembali di tugaskan di daerah papua selama kurang lebih 3 tahun.
Memang pangkat Kavin lebih tinggi satu tingkat dari Kapten Dr. Arseno yang merupakan dokter militer dan juga seorang tentara.
"Gua ketemu lu 5 tahun lalu Bocil! Sekarang udah gede! Waktu itu umur gua masih 20 tahun. Padahal Gua belum lulus Akmil udah di kirim ke medan perang." ucap Kavin.
"Gua masih kelas 1 SMA itu! Udah gede!" bantah Fito.
"Rupanya lu memang ngikutin keinginan lu buat masuk kuliah bukan Akmil." ucap Kavin.
"Ngapain gua masuk Akmil. Walau keluarga Malikh itu keluarga Militer, gua gak mau masuk militer. Lebih baik gua ke bisnis." jawab Fito. Kavin merangkul Fito dan mengajaknya masuk di ikuti dengan Zahra.
__ADS_1
Kedua orang tua Fito sangat senang melihat interaksi kakak adik itu.
"Untung lu pulang sehat-sehat, kalau tinggal nama kan gak seru." ceplos Fito.
"Eh buset, di doain mati gua!" kaget Kavin.
"MAYOR ALVARO ARKAVIN MALIKH!" teriak seseorang dari pintu.
"KAPTEN DR. ARSENO ALDEN ALTEZZA!" balas Kavin sambil berlari. Mereka berdua melompat lompat seperti anak kecil.
"Hadeuh malu gua." ucap Felix.
"Maaf gak bisa datang ke nikahan Vara. Masa datang ke nikahan Vara pake baju loreng, kan gak lucu. Mana gua di kunci dari luar." ucap Kavin menatap sinis kedua orang tuanya. Orang tuanya hanya terkekeh saja.
"Ervan mana?" tanya Kavin.
"Lagi ngebucin, kalau Vara sama Dino lagi istirahat. Kalau Felix lagi galau." jawab Arsen.
"Eh lu galau kenapa Lix?" tanya Kavin.
"Noh, tanya adik lu bang! Apa yang dia perbuat." ucap Felix.
"Kayaknya banyak banget nih kejadian saat gua ga ada." ucap Kavin.
"Oke gini Lix, sebagai gantinya gimana kalau lu kencan buta sama adik bungsunya temen gua?" tanya Kavin.
"Ga minat." jawab Felix malas. "Dah gua mau pulang, lagian bamg Arsen nginap di sini." ucap Felix langsung nyelonong keluar karna tau apa yang akan ia hadapi jika Kavin sudah meminta sesuatu darinya.
"Dih kasian jomblo!" sindir Kavin.
"Dih! Kasian punya adek tukang tikung!" jawab Felix langsung masuk ke dalam mobilnya lalu menjalankam mobilnya.
Fito mengelus dadanya agar tetap sabar menghadapi Felix.
•••
Felix memberhentikan mobilnya di depan minimarket. Ia ingin membeli camilan karna lapar. Ia sengaja tak mengunci pintu mobilnya karna ia hanya sebentar saja.
Felix masuk ke dalam minimarket dan dengan cepat mengambil semua barang yang ia mau. Ia rasa masih kurang, Felix mengambil lebih banyak lagi, sampai ia kesusahan membawa camilannya itu ke kasir.
"Totalnya 300 ribu kak." ucap kasir itu. Felix mengeluarkan dompetnya. Ia lalu menepuk jidatnya karna ia lupa menarik uang. Felix terpaksa menggunakan Black Cardnya karna ia malas ke atm.
__ADS_1
Wih, beli camilan pakai black card. Calon sugar daddy ini, mana ganteng lagi. batin kasir itu. Kasir itu pun menyelesaikan pembayaran Felix, lalu ia mengembalikan dan memberikan jajanan serta black card Felix.
"Terima kasih, silahkan datang lagi." ucap kasir itu sambil mengatupkan kedua tangannya.
Felix membuka bagasi belakangnya dan meletakkan camilannya tadi.
"Permisi, lu liat cewe rambut panjang warna hitam tergerai, pakai baju gaun warna biru dan tingginya sekitar 160an." tanya seseorang memakai jas hitam beserta anak buahnya.
"Gak liat, gua baru keluar dari minimarket." jawab Felix jujur.
"Oh oke thanks." jawab Pria itu lalu pergi menjauh.
"Paansi, gak jelas." kritik Felix. Felix pun membuka pintu mobilnya dan duduk di kursi kemudi.
"Huh! Selamat!" gumam seseorang. Felix pelan-pelan melihat kesamping kursinya.
"Astagfirullah! Kunti! Allahulailahaillaulah..." doa Felix yang di hentikan perempuan itu.
"Saya bukan setan." jawab perempuan itu lembut. "Terima kasih sudah menolong." ucap perempuan itu lagi.
"Oh yaudah, udah selamat kan? Sekarang keluar." perintah Felix.
"Jangan, saya minta tolong sama kamu sekali lagi. Mereka tadi suruhan ibu dan kakak tiri saya. Mereka ingin menjual saya ke pria hidung belang dengan memaksa saya minum air yang ada obat tidurnya." jelas perempuan itu.
"Terus? Itu masalah gua? Ada terlihat wajah gua perduli?" tanya Felix.
•••
"Kakak beneran dari keluarga tentara?" tanya Zahra.
"Iya, cuman kakak sama kakek aja yang nyasar malah milih bisnis. Tapi itulah satu-satunya pilihan agar keluarga Malikh tetap jalan dari dua arah. Bisnis dan tentara." jawab Fito.
"Kakak kenapa milih jadi pembisnis?" tanya Zahra.
"Hm, menurut kakak, jadi TNI itu repot. Harus ada tes ini itu, latihan fisik setiap hari, mau nikah susah, dan yang pasti itu mempertaruhkan nyawa. Mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan negara." jawab Fito.
"Tapi bangga tau kak kalau jadi abdi negara." ucap Zahra.
"Kamu mau tau gak?" tanya Fito. Zahra mengangguk.
•••Bersambung....
__ADS_1
Baiklah setelah sekian abad update lagi, bagaimana perasaan kalian? senang? malas? kecewa? tidak seperti yang di pikirkan?
Ayoo komen!!