F4 : Love Proposal

F4 : Love Proposal
BAB 38 : Asisten Manajer


__ADS_3

"Dok!" panggil dokter muda itu. Dokter yang merasa dirinya terpanggil pun masuk keruang IGD.


"Dok saya sudah periksa pasien. Dia pasien kecelakaan. Pingsan karna terkejut dan tekanan darahnya rendah. Selebihnya saya serahkan pada dokter." jelas dokter muda itu. Dokter yang senior pun melihat Felix.


"Felix!" kaget dokter itu.


"Felix! Astaga lu kenapa gini!" kaget Arsen.


"Mayor, saya izin sebentar mengurus pasien ini. Nanti saya kembali ke batalyon." ucap Arsen.


"Memangnya dia siapa kamu?" tanya Mayor.


"Izin bicara informal." ucap Arsen.


"Eh Kavin, lu lupa sama Felix? Amnesia lu?" tanya Arsen.


"Ya allah, Felix adik lu?!" kaget Kavin. Arsen mengangguk.


"Luka luarnya sudah di bersihkan?" tanya Arsen.


"Sudah dok. Tinggal periksa bagian dalamnya." jawab dokter muda itu.


"Oke, kita bawa dia ke lab." ucap Arsen. Arsen dan dokter muda itu mendorong bankar Felix menuju lab.


"Maaf permisi Mayor. Ini barang-barang korban." ucap bapak tadi.


"Makasih pak sudah menyelamatkan adik saya." ucap Kavin. Bapak tadi mengangguk lalu izin pergi.


"Maaf pak, kakak tadi kecelakaan karna menghindar dari saya yang menyebrang tiba-tiba." jujur perempuan itu menunduk sambil meremas tangannya.


"Yang penting kamu tanggung jawab. Rawat dia sampai sembuh." ucap Kavin.


Dih males banget ngerawat orang sakit. Untung yang hampir nabrak gue tadi ganteng. Awas aja lo Qila! Batin perempuan itu.


Cukup lama mereka menunggu Arsen dan satu dokter senior lain memgechek Felix.


Krett!


Pintu terbuka memperlihatkan raut wajah kaget Arsen.


"Sen, kenapa?" tanya Kavin.


"Tulangnya gak ada masalah tapi kondisi tubuhnya beneran gak sehat. Kayaknya kalau capek dia maksa terus untuk otaknya bekerja. Gak heran dia pingsan karna terkejut." ucap Arsen. Kavin menepuk bahu Arsen.


"Udah, kita harus pulang kalau gak mau Felix kenapa-napa. Ingat, yang terjadi. Sebaiknya kita bantu dia sampai sini. Ayo kita kembali ke jakarta." ucap Kavin.


"Terus yang jagain Felix siapa?" tanya Arsen.


"Dia yang mau tanggung jawab." ucap Kavin. Arsen menatap perempuan yang membuat Arsen meragukan perempuan itu.


"Nama kamu siapa?" tanya Arsen.


"Asya Razfila." jawab perempuan itu.


"Gak, gua gak percaya sama perempuan yang mau dekatin Felix. Gua gak mau kejadian kayak kemarin keulang lagi. Gua gak mau adik gua stress Vin!" tolak Arsen.


"Gak perlu!" jawab Felix keluar dari ruangan itu lalu merebut kertas hasil pemeriksaannya dari Arsen.

__ADS_1


"Lu rahasiain keberadaan gua di sini, itu udah cukup." ucap Felix. Felix mengambil barang-barangnya dari Kavin dan pergi dengan kaki agak pincang karna sakit.


"Felix! Lu harus istirahat!" ucap Arsen mengejar Felix.


"Apa itu istirahat?" tanya Felix lalu menaiki motornya dan pergi.


"Kebiasaan!" kesal Arsen.


"Udah Sen." ucap Kavin. Arsen menatap Asya.


"Lu yang buat dia kecelakaan kan? Lu harusnya tanggung jawab!" ucap Arsen lalu pergi.


"Ehm, sori-sori. Dia emang orangnya kayak gitu. Niat kamu udah bagus buat tanggung jawab tapi mungkin Felixnya bisa urus diri sendiri. Thanks ya." ucap Kavin mengejar Arsen.


"Ck, dasar abdi negara." kesal Asya.


•••


Felix terpaksa mengendarai motornya yang rusak cukup parah. Ia mengendarai motornya menuju rumah.


"Argh! Motor gua lecet! Seharusnya ninta ganti sama cewe tadi!" kesal Felix.


"Gimana nih, kalau gua bawa ke bengkel bakalan lama. Gimana gua mau kerja?" tanya Felix


"Ya allah, sabarkanlah hamba." ucap Felix mengelus dadanya.


"Kalau bawa ke bengkel pasti mahal juga, secara merk ini agak ribet. Kalau masalah lecet gak apa tapi ini agak mendekati hancur." ucap Felix saat melihat kap depan motornya yang pecah. Ia pun ke kaca spion motornya yang retak. Ia melihat tangannya yang di perban dan rahangnya di plaster.


"Gimana mau kerja tangan gua di perban gini. Eh tapi ini tangan kiri, masih bisa kerja pake tangan kanan." ucap Felix. Ia pun menatap nanar motornya yang rusak cukup parah dan masuk ke rumah.


Felix memilih delivery makanan karna Felix rasa ia tidak bisa memask dengan satu tangan. Selain itu bahunya juga sakit.


•••


"Jadi gitu Abi, Umi. Saat ini Fardan gak bisa memastikan bahwa Fardan akan menikahi Fay secepatnya. Karna masalah di keluarga Altezza tadi membuat Fardan dan keluarga Witton kesulitan. Memang gak sebesar masalah keluarga Altezza tapi keluarga Witton kena dampaknya juga. Selagi Felix belum di ketahui keberadaannya masalah ini mungkin bakalan lama selesainya." jelas Fardan.


"Kenapa harus Felix? Memang kalian gak bisa menyelesaikannya tanpa Felix?" tanya Abi Fayyana.


"Jujur, iya. Felix itu kalau bisa di defenisikan adalah otaknya dan jantung. Kalau kami hanya paru paru, lambung dan hidung. Kalau gak ada jantung dan otak pasti gak bakalan bisa hidup." ucap Fardan.


"Seharusnya kamu nikahin Fayyana sekarang. Biar dia aman sama kamu." ucap umi Fay.


"Kalau seperti itu malah buat Fay terkena masalah umi. Saran Fardan sebaiknya Fay tetap disini." ucap Fardan.


"Setelah semua ini selesai, insyaallah Fardan akan menepati janji." ucap Fardan.


"Kalau gitu, lebih baik Fay sama Felix. Udah lama Felix ingin melamar Fay tapi karna Fay udah tunangan sama kamu waktu itu jadi kami tolak." ucap Umi.


"Felix? Datang kesini?" tanya Fardan. Mereka bertiga mengangguk.


"Setelah kami tolak, dia dijodohin kan? Terus hang di jodohin sama dia malah nikah sama Fito." ucap Umi.


"Namanya Zahra umi." sahut Fayyana.


"Kalau kamu gak nepatin janji juga, kami bakalan relain Fayyana sama Felix aja." ucap umi Fay.


"Gak bisa gitu dong umi. Lagian Felixnya juga ilang. Gak tau kemana kan." bantah Fardan. "tolong jangan buat persahabatan kami hampir hancur lagi." ucap Fardan.

__ADS_1


"Fardan tau Felix. Kalau memang dia masih mencintai Fay, dia gak akan mau merelakan diri dia buat kuliah secepat itu. Memang otaknya pintar, tapi kukiah 2 setengah tahun itu terbilang sangat cepat sampai dia di juluki lulusan termuda dengan gelar cumlaude." jelas Fardan.


"Sekarang Zahra sudah sama Fito dan Felix itu tidak akan mau lagi dengan perempuan yang orang tuanya menolak dia apa lagi tunangan sahabatnya." ucap Fardan lagi.


"Jadi Fardan mohon, tolong bersabar. Masalah kali ini besar umi, abi." ucap Fardan.


"Sepertinya kamu ada benarnya. Baik kita tunggu niat baik kamu." jawab Abi Fay.


•••


Akhirnya Felix memutuskan menaiki taksi online untuk bekerja. Yap, saat ini ia sudah sampai di kantornya.


"Pak Arthur!" panggil salah satu karyawannya.


"Ya?" tanya Felix.


"Astagfirullah tangan bapak sama rahang bapak kenapa?" tanya karyawan itu.


"Saya habis kecelakaan kemarin." jawab Felix. Mendengar itu, para karyawan langsung mengerubuni Felix.


"Bapak gak apa-apa?"


"Gimana kondisi bapak?"


"Kalau sakit gak usah kerja dulu pak."


Itulah sedikit yang Felix dengar dari kekhawatiran karyawannya.


"Saya baik-baik aja. Kalian gak usah khawatir. Ayo kembali kerja." ucap Felix.


"Sebentar pak, ada yang mau kami kenalkan." ucap salah satu karyawan.


"Selamat pagi pak. Saya Marsha Farsyaqila asisten manajer bapak." ucap seorang perempuan yang sepertinya lebih muda dari Felix.


Kayaknya dia seumuran Vara. Kok bisa kerja? batin Felix.


"Oke, sekarang kita keruangan saya sebentar. Ada yang mau saya tanya sedikit." ucap Felix. Para karyawan itu pun bubar dan asisten manajer tadi mengikuti Felix ke ruang kerja Felix.


Lebih tepatnya bukan ruangan kerja, hanya kursi yang di berikan sekat antara kursi pekerja dan kursi manajer.


"Umur kamu berapa?" tanya Felix.


"20 tahun pak." jawab Asisten manajer itu.


"Saya panggil kamu gimana?" tanya Felix.


"Bapak bisa panggil saya Qila." jawab Qila.


"Kok bisa umur 20 tahun jadi asisten manajer? Kamu gak kuliah?" tanya Felix.


"Saya lulusan SMK bagian perkantoran pak." jawab Qila.


Oh pantes. Batin Felix.


"Oke, kamu bisa duduk di tempat kamu." ucap Felix


"Baik terima kasih pak." jawab Qila.

__ADS_1


Jadi kangen Vara. Batin Felix.


•••Bersambung...


__ADS_2