
"Kakak beli motor baru?" tanya Qila. Felix hanya cengengesan saja.
"Kenapa emang sama motor kakak yang lama?" tanya Qila lagi.
"Bosen, lagian udah lecet juga." jawab Felix jujur. Lecet karna kecelakaan hari itu membuat motor Felix tidak bagus lagi.
"Boros itu kak. Kakak gak bisa gitu. Mendingan uangnya di simpan. Lagian motornya masih bisa di pakai." ucap Qila.
"Kaka beli motornya berapa?" tanya Qila.
Cerewetnya melebihi Vara. Sabar Felix, sabar. Batin Felix.
"Murah kok cuman 25 juta." jawab Felix.
Maksudnya 2,5 Miliar. Batin Felix.
"Kakak kan jual motor lama, alhamdulillah banyak dapetnya. Jadi kakak beli yang baru, trus kakak gausah nambah." jelas Felix. Qila mengangguk.
"Yaudah ayo berangkat." ucap Felix. Mereka berdua pun berangkat menggunakan motor baru Felix.
Sementara itu....
"Ke Felza Grup? Sekarang? Serius? Gua ngantuk Dan." ucap Frizy.
"Eh kebo Kivandra. Bangun, demi keselamatan 4 keluarga besar lu harus bangun." paksa Fito.
"Arghh ganggu aja kalian berdua!" kesal Frizy.
"Lu aja susah dibangunin. Hazel pasti ilfeel." sindir Fardan.
"Idih idih, iya gua bangun. Sewot bener kek mak gua." ucap Frizy akhirnya bangun dari tidurnya.
"Brengshake kalian." kesal Frizy.
"Nyenyenye, mandi gih. Kita mau selesaikan misi dengan cepat." ucap Fito.
"Ya lagian lu juga, pembuat strategi tapi ga tau gimana cara ngejalaninnya." kesal Frizy.
"Gausah banyak omong, mendingan lu mandi!" kesal Fito. Frizy pun beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi
Akhirnya setelah semua drama itu, mereka sampai di parkiran hotel dan mengambil motor mereka masing-masing. Mereka memutuskan untuk tidak memakai mobil karna terlalu menarik perhatian dan lebih memilih motor, toh bandung juga dekat.
Mereka pun melajukan motornya menuju Felza Grup. Mereka mendapatkan alamatnya dari internet.
Mereka memarkirkan motor di parkiran motor kantor.
"Keren ada yang bawa motor mahal juga ke sini." ucap Frizy.
"Punya Direkturnya kali." jawab Fito. Frizy mengangguk setuju.
"Kok motor Felix gak ada?" tanya Fardan.
"Naik taksi online kali." jawab Frizy.
"Ya lu tau Felix lah Zy, dia gak bakalan mau naik angkutan umum yang sering dinaiki orang gitu." ucap Fito.
"Tau ah, masuk aja dulu." usul Frizy. Akhirnya mereka masuk dan langsung ke mrja resepsionis.
__ADS_1
"Permisi mbak, pak Felix ada?" tanya Fardan.
"Felix yang mana ya pak? bapak-bapak ini siapa dan darimana?" tanya resepsionisnya.
"Kartu nama kalian siniin." ucap Fardan. Frizy dan Fito memberikan kartu nama mereka kepada Fardan. Fardan juga mengeluarkan kartu namanya.
"Ini mbak, kamu Persdir dari Witton Compeny, Kivandra Grup dan Malikh Compeny." ucap Fardan sambil memberikan tiga kartu nama itu.
"Jadi kita bisa ketemu pak Felixnya mbak?" tanya Fito.
"Maaf pak, tapi kami tidak tau orang yang bapak cari." ucap resepsionis itu sopan.
"Eee, dia manajer. Felix Altezza." ucap Frizy.
"Felix Altezza Presiden Direktur kami dari kantor pusat, bukan manajer di kantor ini. Dan saya tidak melihat pak Felix melakukan kunjungan di sini pak." jawab resepsionis ini jujur.
"Kamu gak tau wajah Felix Altezza?" tanya Fito. Resepsionis itu menggeleng.
"Wajar, Felix terakhir kesini sebelum dia ke Australia." jawab Fardan.
"Apa gak ada karyawan atau Manajer yang namanya Felix mbak?" tanya Fardan.
"Maaf pak, tidak ada." jawab resepsionisnya.
"Bentar, kemungkinan Felix gak pakai nama belakangnya tapi nama tengahnya." ucap Fito.
"Gua lupa nama tengahnya karna jarang di sebut." ucap Frizy. Mereka bertiga berusaha berpikir keras.
"Mbak bantu kami untuk memecahkan teka teki ini ya mbak." ucap Frizy tersenyum. Resepsionis itu tersenyum lalu mengangguk.
"Phoenix?" tanya Frizy.
"Lu gak lulus sejarah ya? Pasti tidur sejarah, itu nama burung legendaris. Nama rajanya itu Pegasus." ucap Fito. Frizy memegang bahu Fito keras.
"Itu juga nama burun legendaris." ucap Frizy.
"Raja Salman?" tanya Fito mengalihkan topik.
"Itu raja arab." jawab Fardan.
"Arthur?" jawab resepsionis itu.
"Nah iya, Felix Arthur. Ada gak mbak?" tanya Fardan.
"Ada pak, kami memanggilnya pak Arthur. Beliau manajer tim perencana satu. Silahkan paj, saya tunjukkan jalannya." ucap resepsionis itu ramah. Fardan, Frizy dan Fito mengikuti Resepsionis itu.
Mereka masuk ke dalam Lift dan menuju lantai empat. Mereka bertiga terus mengikuti resepsionis itu sampai masuk ke sebuah ruangan yang berisi banyak karyawan.
"Permisi Pak Arthur, ada yang mencari." ucap resepsionis itu.
"Oh ya, tolong bawa mereka ke ruangan saya. Saya mau fotocopy ini sebentar." ucap Felix. Felix sebenarnya punya ruangan sendiri, tapi ia membuat dirinya bekerja sama bersama karyawan yang lain agar lebih mendekatkan diri.
Setelah selesai dengan pekerjaannya, Felix masuk ke ruangannya.
"Felix!" panggil Frizy. Felix terkejut, untung saja kertas yang ia bawa tidak jatuh.
"Kaget." ucap Felix berjalan sambil meletakkan kertas yang ia bawa ke meja kerjanya.
__ADS_1
"Lulusan cumlaude universitas melbourne jurusan bisnis internasional dapat jabatan gini?" tanya Frizy.
"Masih untung gua bisa kerja." kesal Felix. "Ngapain?" tanya Felix ketus
"Mau nyulik tuan muda." ucap Frizy.
"Gak lucu bercandaan lu!" kesal Felix.
"Pms lu? Marah mulu." ucap Fito.
Brak!
"Apatuh?" tanya mereka berempat serentak.
"DIMANA F4? DIMANA FELIX ALTEZZA!" teriak seseorang.
"Ow ow. Ketauan." ucap mereka berempat serentak.
"Oke lakukan seperti yang di jelaskan kemarin." ucap Felix.
"F4! Lakukan." ucap mereka berempat.
"Hm, pisau, pistol, peredam. Yang mana yang mulia?" tanya Frizy.
"Pistol dan peredam. Sebelum itu kosongkan Felza grup dulu." ucap Felix sambil menerima senjata pesanannya.
Mereka berempat pun keliar dari ruangan Felix dengan Felix yang di depan.
"Uh Felix Altezza. Bersembunyi di perusahaannya sendiri. Bijak juga." ucap orang itu yang makin membuat seluruh pegawai kantor kaget. Mereka kira Felix orang biasa, rupanya Felix adalah Presdir utama mereka.
"Oh, kenapa gak Arkaiznya yang di suruh kesini? Gak mampu lawan F4?" tanya Felix.
"F4?" bisik mereka sepertinya tau.
"Fardan, Fito." panggil Felix. Mereka pun mengangguk dan menyuruh semua pegawai keliar kantor. Mereka di liburkan atas perintah Felix.
"Yang gak keluar, saya potong gaji dan jangan ada yang panggil polisi." ancam Felix mereka pun berbondong bondong keluar. Dan langsung pulang.
"Hm, kalian bawa 20 orang untuk melawan 4 orang? Wow keren." puji Felix.
"Rupanya F4 duluan yang bertemu Felix, untung bukan kami." sinis orang yang berteriak tadi.
"Kalau kau betemu Felix duluan kau mau menghabisi Felix sebagai penerus Altezza Grup? Kalian tidak tau siapa Felix Arthur Altezza." ucap Frizy.
"Oke, masalah jangan kita bawa ke sini. Kita kembalikan ke tempat. Ini kota orang, bisa tamat riwayat kira semua. Dan kalian saya katakan bodoh karna membuat rusuh di kota orang." ucap Felix.
"Hm, kami tunggu kalian di kediaman Altezza atau Albyan, Ervano dan Arseno mati." ucap orang itu lalu pergi.
"Oh ya, jangan lupaka Isvara dan adik kecilnya itu, Kai Altezza." ucap orang itu laku benar benar pergi.
"Felix jangan tersulut emosi. Sabar-sabar, Vara masih di Abu Dhabi bareng Kai dan Aldino. Jadi aman." ucap Fito. Felox mengangguk.
"Kita harus pergi sekarang." ucap Felix.
"Aku ikut kak!"
•••Bersambung....
__ADS_1