F4 : Love Proposal

F4 : Love Proposal
BAB 37 : Belanja


__ADS_3

Setelah sampai di rumah, Felix langsung cepat cepat membuka bungkus seblak itu.


"Loh, kerupuk? Kerupuk di rebus? ada telurnya juga. Cobain deh." ucap Felix mengambil sendok lalu mencobanya.


"Beuh fiks, makanan pinggiran kesukaan gua selain ayam geprek." ucap Felix berbinar binar.


"Abis ini gua harus beli stelan jas. Stelan jas gua di rumah Altezza semua. Masa gua besok pakai jas yang sama buat kerja? Apa kata dunia? Seorang Felix Arthur hanya punya satu jas? Sedangkan ia membeli rumah cash." gumam Felix.


Felix pun makan seblak itu dengan cepat dan mencuci peralatan makannya. Ia bertukar baju sebentar lalu langsung keluar dari rumah dan mengendarai motornya menuju pusat perbelanjaan.


Felix pun memasuki salah satu mall dengan pakaian sederhananya. Memakai celana jeans pendek yang memperlihatkan kaki kekar dan kulit putihnya dipadukan dengan kaos oblong berwarna hitam. Rambutnya tak terlalu rapi karena tak sempat sisiran.


"Astaga gua kaya gembel." ucap Felix saat menemukan kaca besar di toko pakaian.


"Ada yang bisa di bantu kak?" tanya pelayan toko di sana. Felix agak menunduk untuk menatap pelayan toko yang lebih pendek darinya.


"Saya cari stelan jas merk kiton K-5 ada?" tanya Felix.


"Itu merk stelan edisi terbatas kak. Hanya di produksi 50 buah setiap bulannya. Dan kita punya satu stel." ucap pelayan toko itu.


"Bisa lihat?" tanya Felix. Pelayan toko ini melihat Felix dari atas hingga bawah.


"Beehubung jas merk itu edisi terbatas dan mahal, jadi jika sudah di lihat harus di beli." ucap pelayan toko itu.


Wih dia menyepelekan gua. Gua punya banyak jas merk itu kali. Batin Felix.


"Ya, keluarin aja." paksa Felix.


"Bukan saya gak mau keluarin, tapi takut nanti kotor kamu gak bisa bayar. Ini stelan jas mahal, di rancang khusus dari penjahit italia. Harganya pun 800 jutaan." ucap pelayan toko itu.


"Yang bener semahal itu?" tanya Felix pura pura kaget.


"Panggilkan manejer kamu." lanjut Felix.


"Udah ga punya uang jangan sok mau beli." ucap pelayan toko itu.


Sabar Felix, lu harus ingat lu harus hemat. Jadi beli jasnya aja tanpa stelan. Yang murah aja. Batin Felix.


"Oke oke, jasnya aja ada gak rekomendasi?" tanya Felix memilih mengalah.

__ADS_1


"Ada beberapa yang murah di sini, harganya cuman 100 ribu keatas." jawab pelayan toko tadi berusaha ramah.


Jas apaa harga segitu murahnya? Tapi lu harus sadar diri Felix. Lu cuman manajer tim bukan Presdir. Harus belajar pakai yang murah murah. Batin Felix.


Felix pun mengikuti pelayan toko itu untuk melihat jas murah yang ia bicarakan.


"Bahannya panas, bisa mandi keringat gua kalau pake ini ke kantor." gumam Felix sambil merasakan bahan jas yang akan ia beli.


Setelah mencari cukup lama, akhirnya Fekix menemukan 3 jas yang lumayan bagus.


"Ini aja kak?" tanya kasir itu.


"Ntar nambah ada yang julid." gumam Felix.


"Gimana kak?" tanya kasir yang samar-samar mendengar gumaman Felix.


"Oh enggak, itu aja mbak." jawab Felix.


"Totalnya 800 ribu ya kak." ucap kasir itu ramah.


Wow, lumayan menghemat. Batin Felix. Felix pun memberikan kartu atmnya untuk membayar jas itu. Setelah pembayaran terkonfirmasi, Felix kembali mengambil kartu atm nya dan paperback itu lalu pulang.


"Tiba tiba keingat papa sama Vara. Merrka gimana ya? Vara gimana? Adik kesayangan yang gua urus dari kecil, apa dia baik-baik aja?" ucap Felix. Pikiran Felix di penuhi dengan keluarganya. Walau pun ia di usir, tapi hatinya masih tetap pada keluarga Altezza.


BRAK!


Mama! Batin Felix.


Felix mengerem mendadak motornya lalu terjatuh dan terseret bersama motornya sejauh sekitar 3 meter dari lokasi kejadian awal.


"Eh ada yang kecelakaan!" ucap orang orang heboh sambil menghampiri Felix.


"Masih muda ini, bawa kerumah sakit aja." ucap warga setempat.


"A-apa dia baik-baik aja pak?" tanya seorang perempuan menatap Felix drngan perasaan bersalah.


"Dia pingsan neng." jawab bapak itu. Seseorang membuka helm full face Felix dan mengangkatnya ke mobil salah satu warga.


"Pak saya ikut, dia jatuh karna menghindari saya agar saya tidak tertabrak." ucap perempuan itu. Bapak itu mengangguk.

__ADS_1


2 warga lainnya membawa motor Felix sambil mengikuti mobil yang membawa Felix ke rumah sakit. Motor Felix lecet parah tapi untungnya masih bisa jalan.


Mereka mencari rumah sakit terdekat untuk mempersingkat waktu, setelah sampai mereka bersama-sama menggotong Felix sampai ke bankar depan rumah sakit. Lalu mereka mendorong bankar itu menuju IGD.


"Korban kecelakaan dok." ucap bapak tadi. Dokter itu mengangguk.


"Sebentar saya periksa dulu." ucap dokter itu. Sepertinya dokter yang bertugas di IGD ini adalah dokter muda yang sedang KOAS.


"Dia pingsan karna terkejut dan tekanan darahnya rendah. Untuk pemeriksaan selanjutnya saya serahkan ke dokter senior." ucap dokter muda itu sambil melihat-lihat ke pintu apakah ada dokter senior yang lewat.


"Dok!" panggil dokter muda itu. Dokter yang merasa dirinya terpanggil pun masuk keruang IGD.


"Dok saya sudah periksa pasien. Dia pasien kecelakaan. Pingsan karna terkejut dan tekanan darahnya rendah. Selebihnya saya serahkan pada dokter." jelas dokter muda itu. Dokter yang senior pun melihat Felix.


"Felix!" kaget dokter itu.


•••


"Tolong om! Kalau gini terus gak ada kemajuan! Kenapa sih om gak mau lawan saudara om sendiri? Dia kan udah gak ada di sirat kekuasaan keluarga Altezza." ucap Ervan.


"Iya om tau Ervan. Om cuman mau mengajak dia ke jalan yang lebih baik. Om udah lama nyari dia." jawab Alby.


"Astagfirullah Om! Demi itu om relain Felix yang sekarang gak tau di mana keberadaanya? Apakah dia baik-baik aja atau gak?" kesal Fardan.


"Bahkan kalau om minta bantuan sama kami itu gak akan berjalan lancar kalau otak pergerakan kami gak buat semua rencananya! Strategi yang Fito buat gak ada apa-apanya dari pada ide-ide licik dari Felix!" berontak Fito.


"Harus ada yang di relakan. Walau Felix om usir, di kartu keluarga Altezza, Felix tetap anak sulung Albyan Altezza." jawab Alby.


"Frizy tau om, om sayang banget sama Felix. Tapi setidaknya cegah Felix pergi om." ucap Frizy.


"Kalian percaya Felix pintar?" tanya Alby. Mereka semua mengangguk.


"Artinya dia baik-baik aja. Asal kalian tau, om lebih baik melepaskan Felix dari pada Vara karna om tau otak Felix itu cerdik." ucap Alby.


"Masalahnya sekarang gimana agar strategi Fito ini berhasil om." ucap Fardan.


"Seharusnya ada bang Arsen. Dia malah dinas ke Bandung." sahut Ervan.


"Lagian dia dokter militer, kenapa dinas kerumah sakit umum." heran Frizy.

__ADS_1


"Udah! Mendingan kalian mikir gimana caranya agar strategi Fito ini berjalan mulus." ucap Fardan.


•••Bersambung...


__ADS_2